Cerpen

Sebuah Peti Jenazah

Oleh: Anas S. Malo

Saat aku sedirian di tengah larut malam dan angin berembus pelan, langit pun penuh kilatan, aku masih bertanya-tanya, siapa yang mengajariku tentang ketakutan?

Bila malam telah sempurna, apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang?  Membungkus tubuh dengan selimut?  Atau menghangatkan tubuh dengan pelukan? Tidak untukku. Aku berteduh di emperan toko kelontong yang masih tertutup dengan tirai bergaris hitam merah. Angin bersiur gigil bulan Januari. Lengang terhampar di sepanjang jalan Paris. Lampu jalan bercahaya kuning-kuningan, sedangkan lampu merah terus menyala di sela-sela waktu tanpa henti, meski tak ada kendaraan yang berhenti.

Udara dingin mengigilkanku. Pepohonan terguyur hujan dan berkali-kali terdengar seperti dikoyak angin. Aku menunggu gerimis berhenti. Beberapa menit berselang, gerimis berubah hujan deras. Ketukkan atap bersuara nyaring tanpa jeda. Menimbulkan pikiran jauh melayang-layang mencari sesuatu di masa lalu— menemukan kenangan yang tidak perlu dicari. Sebelum aku pergi malam tadi, aku sudah punya firasat akan terjebak hujan. Dari keseringan itu, aku tidak begitu asing dengan yang saat ini aku alami. Tersedia seonggok kursi panjang di teras toko. Aku duduk, sambil menunggu hujan reda.

Aku melihat beberapa poster dan bendera partai yang dipasang di sepanjang jalan, “Jadikan tahun politik damai dan sejuk.” Itulah beberapa di area jalan bertulis seperti itu. Suara ayam jantan sesekali berkokok dari jauh, berasal dari perkampungan. Terjebak hujan tidak menjadi masalah bagiku, tetapi terjebak dalam lingkaran politik yang hanya mengobral janji-janji, dan narasi-narasi yang negatif untuk rakyat untuk apa dilakukan? Gumamku dalam kepungan gemuruh hujan.

Aku selalu bertanya-tanya, mengapa pada saat ini, bangsa ini tidak ada lagi figur sesosok Soekarno yang begitu heroik, membangkitkan semangat rakyat. Pula dengan Mohamad Yamin yang punya ke dalam menyusuri nusantara sampai bagian terdalam. Sebelum 6000 tahun yang lalu, di zaman nusantara purbakala, sudah memuja matahari yang dilambangkan sebagai warna merah dan memuja bulan sebagai perwujudan lambang putih. Atau Tan Malaka yang berkobar-kobar, “ingatlah, dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras dari pada atas bumi.” Itulah yang aku pahami lewat buku bacaanku awal-awal semester.

Hujan hendak berhenti. Sementara di sebelah kiri jalan ke arah barat, aku melihat sesuatu yang berjalan. Semakin lama semakin mendekat. Aku dibuat tercengang oleh anjing buduk, berjalan pincang. Badannya kurus kering. Matanya bengkak sebelah. Kulitnya yang banyak bopeng luka belum kering. Warna bulu coklat kombinasi merah yang basah akibat air hujan begitu menyedihkan.

Anjing itu berjalan tertatih-tatih melewati toko-toko dan bangunan-bangunan. Aku hampir satu jam menunggu hujan reda. Aku menatap. Ia menatapku mengiba, seraya menggonggong pelan. Pelan sekali. Seperti mengatakan bahwa ia adalah makhluk paling menderita yang diciptakan Tuhan di muka bumi ini. Aku menduga, itu pasti ulah warga kampung yang membenci anjing. Kebencian lebih menakutkan dari pada maut. Tetapi, anjing juga makhluk Tuhan yang berhak untuk dihargai, seperti makhluk Tuhan yang lain.

Aku mengikuti langkah anjing itu. Sebenarnya aku tidak bermaksud untuk membuntuti anjing itu. Lama-kelamaan, aku merasa kasihan melihat langkah anjing itu yang terhuyung-huyung. Tampak berat. Hujan sepenuhnya reda. Memasuki waktu dini hari, aku tiba di sebuah gang kecil kumuh dan kotor dan kemudian masuk ke sebuah lorong kecil, gelap namun ada tepias cahaya lampu yang bisa menebusnya. Aku tertarik dengan anjing itu, sampai aku rela mengikuti anjing penuh bopeng luka itu. Di sebuah tempat yang gelap, kotor dan bau, aku mendapati empat ekor anak anjing yang baru berumur sekitar tiga hari atau empat hari di dalam kardus.

Aku semakin iba dengan anjing dan empat ekor anaknya. Aku baru mengerti, jika anjing itu seorang induk yang mencari makan untuk mengisi air susu yang akan diberikan ke empat ekor anaknya yang mungil sekaligus terancam kelaparan. Anjing itu berusaha melompat di atas kardus bekas penyedap rasa makanan. Pelan. Ia melihatku, kaki depan bagian kanan anjing itu patah di pergelangan telapak kaki, sehingga harus melompat dengan menggunakan ketiga kakinya.

Dalam gelap, aku melihat, suara nafas ringkih. Berat. Beberapa cuitan kelelawar terdengar— terbang ke sana ke mari. Terdengar suara menggema dari benda jatuh. Jantungku menggedor. Ada yang menyentuh mata kakiku— menggelitik. Spontan, aku meronta, geli. Setelah aku lihat ternyata seekor tikus mengendus mata kaki. Aku merasa, kalau tempat ini  sangat buruk.

“Untuk apa kau datang ke tempat ini?” Suara itu tiba-tiba datang di kegelapan ruang ini. Suara itu begitu lirih dan menyeramkan. Aku semakin takut. Aku meraba-raba tembok dan tidak ingin mencari sumber suara itu.

“Siapa kau?” tanyaku, berusaha melawan rasa takut.

Sesosok wanita muncul di kegelapan. Berjalan perlahan, menghampiriku dengan bantuan tongkat. Wajahnya tidak jelas, karena gelap. Ketukkan tongkatnya terdengar jelas.

“Siapa kau?” tanyaku lagi.

“Apa yang kau lakukan di tempat ini, wahai pelacur?”

“Aku hanya mengikuti anjing itu, karena aku kasihan dengannya. Dan, pada akhirnya anjing itu membawa aku ke tempat ini. Apakah anjing itu peliharaanmu? ”

Sementara malam sudah berangsur-unsur memudar. Beberapa ayam jantan berkokok. Suara ceracau burung-burung senantiasa menyambut pagi. Suara wanita itu lenyap bersama bayangnya. Aku mencoba memanggil-manggil wanita itu. Fajar mulai menyingsing, condong bersinar dari arah timur, merah kekuning-kuningan. Aku mendekat ke arah anjing itu. Induk anjing mendekap anak-anaknya.

Anjing-anjing itu tampak gelisah. Menggelendot ke bagian selangkangan, menyusur bagian tubuh, mencari puting induk. Cahaya pagi menembus sela-sela genteng bocor. Di tempat ini hanya ada cericitan tikus, dan kelelawar, serta lengusan anak-anak anjing. Tak lebih dari itu. Perihal ada wanita tua yang lenyap ditelan gelap, aku masih menyimpan kejanggalan. Dari mana asal wanita yang tidak tampak wajahnya itu. Dan, dari mana ia masuk ke ruangan ini.

Sementara induk anjing itu tak bergerak sama sekali. Aku menggoyang-goyangkan tubuhnya, tetapi tak ada gerakan. Tubuhnya dingin. Aku curiga. Memang benar apa yang aku takutkan benar terjadi. Anjing itu tewas dengan posisi mendekap anak-anaknya. Ini adalah keadaan yang menyedihkan bagi empat ekor anak anjing itu. Aku merasa iba. Aku ingin merawatnya – membawanya pulang ke rumah sebagai hewan peliharaan.

Di tempat itu, ada beberapa ruangan. Aku berjalan bergegas keluar dari tempat itu. Tetapi aku menaruh perasaan penasaran terhadap salah satu ruangan yang begitu menarik perasaanku. Ya, ruangan misterius itu. Ruang yang penuh sarang laba. Ruang yang kedap udara.

Aku masuk ke dalamnya, membawa kardus  berisi empat bayi anjing. Sementara bangkai sang induk, aku biarkan di lantai. Aku meletakkan kardus itu. Terdapat sebuah peti jenazah. Aku melihatnya dari kejauhan. Aku mengendap seperti sedang mengintai target buruan. Ada banyak alat laboratorium. Tabung reaksi, elenmeyer, gelas ukur tampak membeku. Buiret dan fortex juga demikian. Beberapa larutan NaCL dan Buffer masih terletak di atas meja. Aku terus menyusuri, menuju peti jenazah itu. Penasaran. Perlahan aku membuka tutup peti itu. Agak berat. Aku terkejut, ketika mataku mendapati perempuan tua itu ada di dalamnya. Pucat pasi. Sembujung, tangan tertelungkup, mata terpejam.

*Anas S. Malo, lahir Bojonegoro, belajar di Universitas Nahdhlatul Ulama Yogyakarta, aktif di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY), karya-karyanya sudah tersiar di media lokal maupun nasional.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *