Resensi Buku

Ethiosophia; Reaktualisasi Iman-Moral di Zaman Kacau

oleh : Ahmad Khoiri

Pernahkah kita menjumpai fenomena manusia berbondong ke masjid, gereja, vihara, pura, atau pun tempat ibadah lainnya, namun tidak mampu memanusiakan manusia? Seberapa banyak kita jumpai orang yang mengaku beriman, namun abai terhadap realitas yang kacau? Atau, pernahkah kita bertemu seseorang yang memaknai ‘iman’ sebatas sebagai ‘percaya’?

Tiga pertanyaan esensial tersebut menjadi ‘bom waktu’ pergulatan intelektual Fawaid Abrari, tinggal menunggu klimaks lahirnya karya interdisipliner; Ethiosophia. Ia mengelaborasi filsafat dan tasawuf, lalu menariknya ke dalam tataran empiris, membuktikan bahwa terdapat kekacauan (chaos) terstruktur antara realitas-ideal dengan fakta empiris itu sendiri.

Tentu saja chaos yang dimaksud bukanlah perang. Perang hanya menumpahkan darah. Chaos yang kita alami hari-hari ini ialah krisis jatidiri. Jacques Wllul dalam The Technology Society, Erich Formm dalam The Revolution of Hope; Towards a Humanized Technology, atau Homo Deus-nya Yuval Noah Harari telah cukup menggelisahkan kita atas hilangnya kemanusiaan di masa depan. Ramalan terburuk sepanjang sejarah kita, Homo Sapiens.

Magister lulusan Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS), Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta tersebut bertolak dari realitas paradoksal; gejolak anti Tuhan vis-à-vis konfrontasi material-centris, dan kesangsian eskatologis vis-à-vis  keyakinan imortalitas (hlm. 21). Terjadi ketimpangan antara iman sebagai aspek esoteris dengan moral sebagai aspek eksoteris.

Jika iman adalah sumber lahirnya moralitas, Ethiosophia lahir sebagai respon terhadap dekadensi moral manusia rasional—milenial. Padahal Islam bukan merupakan agama didaktik-metodik an sich, justru selaiknya mengejawantah menjadi transformasi-implementatif dalam kehidupan sehari-hari pemeluknya. Iman tidak cukup dipahami sebagai ritual liturgis semata.

Pada dasarnya, istilah Ethiosophia adalah istilah baru yang tiada padanannya dalam kamus apa pun. Ia merupakan frasa derivatif dari kata ‘ethos’ (etika, rasionalitas) dan ‘shopos’ (kebijaksanaan, moralitas). Abrari mengadopsi filsafat kritisisme Immanuel Kant (w. 1804) tentang rasio murni dan rasio praktis bahwa moral tak bersangkut-paut dengan kebahagiaan, melainkan konsistensi.

Kehendak murni ala Kant disinyalir sebagai yang imanen menuju materialistis. Ia irasional, sebab merupakan keharusan (Sollen). Justru tujuan rasionalitas adalah mengontrol perintah tersebut (hlm. 49). Ketika rasionalitas mengambil-alih peran memerintah, maka ia mendominasi sesuatu yang imanen tadi. Sementara kita di sisi lain juga memiliki kehendak murni, fitrah. Permasalahan iman-moral ini menjadi pokok kajian Ethiosophia.

Dalam Ethiosophia, iman dipersepsikan sebagai hukum moral, sedangkan moral merupakan implikasi epistemologisnya. Oleh karena itu, antara keduanya terhadapat timbal-balik kausalitas. Agama tidak lagi sekadar identitas simbolik, tetapi termanifestasikan secara imanen. Memperbaiki moralitas melalui transendensi teologis sama halnya membedakan iman dengan percaya atau yakin. Iman lebih substansial dari dua term terakhir.

Kalau kita tarik dalam realitas hari ini, ketika kekacauan (chaos) mengemuka di mana dan dilaku siapa saja, Ethiosophia menjadi konstruksi epistemis yang menengadahinya. Seorang yang dianggap terhormat, pemuka agama misalnya, tetapi terlibat atau bahkan menjadi aktor chaos tadi, itu disebabkan ketidakselarasan iman dengan moralitas. Menuhankan Tuhan, tapi miskin kemampuan untuk memanusiakan manusia.

Ethiosophia diproyeksikan mampu mengonter jalin-berjalin ketimpangan tersebut. Menuhankan Tuhan merupakan keniscayaan, tetapi konsistensi filosofis dari laku semacam itu seyogianya berimplikasi signifikan terhadap eskalasi moral itu sendiri. Atau dalam bahasa Abrari, “agama bukan keharusan yang menuntut keterpaksaan, justru merupakan keniscayaan yang melahirkan kebahagiaan setiap makhluk rasional.” (hlm. 64)

Untuk sampai ke situ, analisa Immanuel Kant menjadi kerangka teoretis tafsir falsafi Ethiosophia dan rasionalitas sebagai contextual role, mengontekstualisasi ayat-ayat tentang etika. Nalar religius kemudian terhindar dari tendensi infiltrasi yang mengejawantah akibat rasionalitas. Tafsir falsafi Ethiosophia melahirkan abstraksi sempurna yang implisit dalam ayat etika, umpama figur Nabi Muhammad.

Konsep paradigmatik Ethiosophia juga mempersepsikan tasawuf sebagai jalan ideal menuju rasio-moral. Sebab, iman dipersepsikan sebagai yang bereksistensi ketika seseorang berada pada batas rasionalitasnya. Sementara moral adalah konsekuensi logis dari iman tersebut, selaiknya. Di luar itu, zaman kacau merupakan kenyataan buruk yang mesti kita sadari, sehingga pijakan reaktualisasi menemukan signifikansinya.

Dengan demikian, Ethiosophia yang mewujud diri sebagai konstruksi epistemik dalam merespons chaos—yang oleh Abrari dianggap ulah rasionalitas milenial tak terkontrol—merupakan lompatan cemerlang, otokritik yang halus, dan penghentak kesadaran kolektif tentang adanya inkonsistensi antara iman dan moral. Wujudnya dapat kita rasakan bersama, seperti dalam tiga pertanyaan esensial yang diuraikan di muka.

Sedikitnya ada dua poin penting yang menjadi pijakan aksiologis Ethiosophia tersebut. Kesatu, agama bukanlah keharusan, melainkan keniscayaan. Kedua, iman bukanlah realitas eksternal, justru ia merupakan representasi dari kualitas iman dalam kehendak akal budi murni dan kesucian hati (hlm. 15). Yang terakhir ini memerlukan romantisme dengan laku sehari-hari, agar kekacauan tidak lagi terjadi.

Kendatipun kekacauan merupakan bagian tidak terpisahkan dari dunia, iman dan moral tetap saja memiliki peran signifikan untuk meminimalisir segala rupa kenyataan yang tidak diinginkan atau tidak seharusnya. Jika idealisme agama berkisaran dalam setiap upaya perbaikan (ishlâh) tersebut, maka semestinya juga rasionalitas tidak menghambat, justru menjadi medium memberantas kekacauan itu sendiri.

Buku yang dihasilkan atas dasar kegelisahan internal diri sang penulis ini memegang porsi penting di tengah hiruk-pikuk kekacauan yang kita rasakan bersama. Dalam tataran personal, pergolakan iman dan moral mengejawantah menjadi karakter individual, sementara di sektor publik kita disuguhi pelbagai realitas memilukan. Masalahnya karena itu terjadi di negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama.

Abrari dengan berani menghentak jumudnya keberagamaan kita yang tidak berdampak signifikan terhadap laku empiris kita bersama. Baik di ranah domestik maupun publik, yang mengemuka adalah kenyataan bahwa kita tidak memenuhi syarat sebagai orang beriman, meski beragama. Hal itu lantaran iman kita tidak memiliki implikasi transformatif terhadap moral kolektif, yang menjadi antitesis Ethiosophia.

Setiap kita tidak bisa mengelakkan diri dari problem tersebut. Oleh karena iman dalam setiap waktu tidak berada dalam kadar yang sama, moral juga seringkali di ambang kemerosotan. Reaktualisasi merupakan langkah niscaya, agar yang esoteris berjalan beriringan dengan yang eksoteris. Dalam konteks ini, kita tidak bisa menegasikan sumbangsih Ethiosophia dalam upaya reaktualisasi tersebut.

Telaah iman sebagai romantisme hamba bersama Tuhan (habl min Allâh) dan moral sebagai romantisme antarsesama (habl min al-nâs) menjadi angin segar dalam oase keberagamaan. Karena, seperti dikatakan Abrari di akhir kalimat bukunya, iman dan moralitas ibarat dua sisi uang logam, atau bahkan ibarat kidung kembar dari dua benua yang berhulu-hilir ke muara yang sama.[][1]

 

Identitas Buku

Judul               : Ethiosphia; Sebuah Tafsir Falsafi Menembus Batas Rasionalitas

Penulis             : Fawaid Abrari, S.Th.I., M.A

Tahun              : Februari, 2019

Penerbit           : Belibis Pustaka

Tebal               : 212 halaman

ISBN               : 978-602-5508-56-1

Peresensi         : Ahmad Khoiri

[1] Resensi ini pernah dimuat di https://www.kurungbuka.com/ethiosophia-reaktualisasi-iman-moral-di-zaman-kacau/

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *