Puisi

Puisi Farah Velda #1

Puisi 1 <Malang, 27 Maret 2015>

 

Mentari,

 

nyatanya kegelapan telah menyelimutimu,

kabut asa itu telah memelukmu,

kelabu ini kian menyeret gulitanya malam,
dan membuang harapan baru

 

Kepada mentari,
mengapa kau biarkan itu terjadi?
membuat dunia dalam kegelapan,
penuh dengan hitam pekat dinginnya kebencian?

 

O mentari,
bulan ini pun juga kian berpedangkan tombak,
melukai sisi baik dan memerangi keindahan
kini, harapan tlah musnah sudah

 

Untuk mentari lagi,
saat ini, bisakah kau biarkan cahaya ini

merenggut temaramku yang layu yang sepi
sehingga kau kan bernafaskan obor api

yang menyalakannya dengan sulut kehangatan hakiki.

 

 

Puisi 2 <Malang, 6 April 2015>

 

Kisah Pelangi Putih 1

 

Pelangi putih itu datang

Kian dekat kian mendekati warna merah

Pelangi putih itu datang

Telah melewati merah dan jingga serta kuning

Pelangi putih itu datang

Meleburkan hijau, bercampurkan biru,
dan melantakkan nila dan akhirnya ungu
Namun pelangi itu kian semakin putih

Tak kian berwujud seputih salju

Tak kian berwujud semerah darah,
atau segelap gulita, sejingga mentari pagi,
dan sehijau rumput sebiru langit

Pelangi putih itu kian tak berwujud

Tak terleburkan air hujan
Tak tercampurkan air bah

Seputih cahaya suci milikNya

Seputih cahaya suci yang dimilikinya

Teruntuk pelangi putih yang memiliki hati sesuai cahayaNya.

 

 

Puisi 3 <Malang, 6 April 2015>

 

Kisah Pelangi Putih 2

 

Pelangi putih ini,

Siapa gerangan ia?

Ia hadir dengan senyum terbuka,
dan menerima semua dengan tangan terbuka

Siapa gerangan ia?

Si misterius dengan senyuman meriahnya

Si misterius dengan kelembutan perkataannya

Si misterius dengan kecerdasan hakiki,
semangat membara, usaha, dan tawakkalnya
Siapa ya gerangan ia?

Tertegun aku melihatnya

Tersenyum aku melihatnya bahagia

Aku telah jatuh cinta

 

 

Puisi 4 <Malang, 6 April 2015>

 

 

Rasa apa ini?

 

Tanda apa lagi ini,

Kian lama kian resah

Kian lama kian gelisah

Kian lama kian berdetak berdecak melambung tinggi

Rasa apa lagi ini,

Gelisah galau gulana tak ada pasti

Keraguan batas tak bernyawa

Kebimbangan penuh kanan kiri tak ada ujung

Tanda rasa ini kian menghantui

Rasa cinta yang telah lama mati

Aku bahagia tak berujung pasti

 

 

Puisi 5 <Malang, 6 April 2015>

 

Dia itu…

 

lebih dari sekedar piala biasa

lebih sekedar piala yang kosong tak bernyawa

lebih dari sekedar penyejuk mata

lebih sekedar piala untuk menawan hati

dan bukan hanya sebuah pajangan belaka

Iya, itu dia.

Si satu di sana.

 

Penyair :

Farah Velda Digna Zaidah

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *