Artikel

Ya Allah, Wafatkanlah Aku di Hari Selasa!

Oleh : Mujahidin Nur, Alumni Ponpes Miftahul Muta’alimin, Babakaran Ciwaringin Cirebon, Penulis Buku-buku Best Seller.

Jika engkau melihat seekor semut terpeleset dan jatuh di air, maka angkat dan tolonglah barangkali itu menjadi penyebab ampunan bagimu di akhirat.

Jika engkau menjumpai batu kecil di jalan yang bisa menggangu jalannya kaum muslimin, maka singkirkanlah, barangkali itu menjadi penyebab dimudahkannya jalanmu menuju surga.

Jika engkau menjumpai anak ayam terpisah dari induknya, maka ambil dan susulkan ia dengan induknya, semoga itu menjadi penyebab Allah mengumpulkan dirimu dan keluargamu di surga.

Jika engkau melihat orang tua membutuhkan tumpangan, maka antarkanlah ia barangkali itu mejadi sebab kelapangan rezekimu di dunia.

Jika engkau bukanlah seorang yang mengusai banyak ilmu agama, maka ajarkanlah alif ba’ ta’ kepada anak-anakmu, setidaknya itu menjadi amal jariyah untukmu yang tak akan terputus pahalanya meski engkau berada di alam kuburmu.

Jika engkau tidak bisa berbuat kebaikan Sama sekali Maka Tahanlah tangan dan lisanmu dari menyakiti, setidaknya Itu menjadi sedekah untuk dirimu.—- KH Maemun Zubaer.

Masjidil Haram, Mekah al Mukaromah dipenuhi dengan jutaan jamaah haji yang datang dari berbagai penjuru dunia. Kumandang talbiyah (labaik Allahuma labaik) membahana menggetarkan Arsy Allah Swt. Isakan tangis, lantunan doa dan air mata hamba-hamba Allah yang menghayati setiap kebesaran Allah Swt saling meningkahi, menambah kekhusyukan suasana. Di tengah jutaan jamaah haji itu seorang seorang kiyai sepuh berusia senja (90 tahunan) menaiki kursi roda berthawaf dengan hati bergemuruh. Ia duduk di kursi roda didorong oleh seorang laki-laki muda yang selalu menemaninya. Suaranya lemah karena sepuhnya usia. Di tengah jutaan manusia yang berthawaf, kiyai sepuh itu meminta kepada anak muda yang mendorong kursi rodanya untuk membantunya mencium hajar aswad. Awalnya laki-laki muda itu tidak yakin ia bisa membawa sang kiyai sepuh itu mencium hajar Aswad, namun tiba-tiba sekumpulan laki-laki datang seperti membuat perisai melindungi kiyai sepuh itu sehingga ia bisa sampai ke hajar Aswad. Lama sekali wajahnya terbenam mencium hajar aswad sambil berdoa dengan hati dibaluti keharuan dan mata berkaca-kaca. Dialah mbah Maemun Zubair, ulama yang wajahnya selalu dihiasi senyuman dan menyejukan.

Mbah Maemon Zubaer adalah sosok ulama kharismatik yang sangat tawadhu dan bersahaja; sorot matanya teduh mensiratkan keteduhan hatinya, aura mukanya bersih karena pengaruh (atsar) dari ibadah yang dia lakukan di hadapan Allah Swt. Ia menghabiskan malam dengan penuh kecintaan dalam ibadah yang ia lakukan di hadapan Sang Khalik dan mengisi siang dengan penuh kerinduan kepada Rasulullah. Karena kecintaanya kepada Allah dan RasulNya pula di usinya yang senja dia diterpa badai rindu begitu mendalam untuk menjiarahi baitullah al atiek, Masjid al-Haram dan menjiarahi pusara suci nabiNya, Muhammad Rasulullah.

Di mana pun Mbah Maemun berada dan dalam kondisi apa pun ketika disebut nama nabinya (Muhammad Rasulullah), dia akan mencari tongkatnya (karena ia sulit berdiri) dan dengan susah payah Mbah Maemun berusaha berdiri untuk kemudian dengan lirih dan penuh penghayatan lidahnya mendaraskan sholawat kepada Rasulullah. Tatkala ia bersama santri-santrinya membaca kitab dan bertemu dengan kalimat yang menyebutkan nama Rasulullah, tangannya yang sudah lemah itu melambai-lambai meminta tolong kepada santri-santrinya untuk memapahnya agar bisa berdiri dan membacakan sholawat kepada Rasulullah. Mbah Maemun seakan merasakan kehadiran Rasulullah setiap ada orang yang menyebutkan namanya karenanya ia selalu berusaha memuliakan dan mengagungkan Baginda Nabi Muhammad Saw dengan berdiri dan bershalawat kepadaNya.

Kiyai yang mempunyai tutur-kata lembut seumpama mata air yang jernih dan cadas ini penuh dengan mutiara hikmah dan kearifan karena kedalaman ilmu agama (muta’amik) yang dimilikinya. Walau usianya senja, badannya yang lemah itu tak pernah hilang semangat (ghiroh) untuk menghadiri undangan-undangan masyarakat kecil di gubug-gubug tua atau di rumah-rumah sederhana. Dakwahnya menyentuh semua lapisan masyarakat dari elit negeri ini sampai kalangan masyarakat terbawah yang berada di gang-gang sempit dan dusun-dusun kumuh di seluruh Indonesia. Dengan suaranya yang khas dan lembut tak pernah bosan ia mengajarkan kepada anak-anak negeri ini mengenai pentingnya ukhwah Islamiah (persaudaraan sesama muslim), ukhwah bashariah (persaudaraan sesama hamba Allah) dan ukhwah wathaniyah (persaudaraan sesama anak bangsa).

Selain ibadah ia menghabiskan waktunya untuk menemani dan mendidik ribuan santri yang datang dari berbagai penjuru negeri dengan penuh keikhlasan, siang dan malam tanpa kenal lelah. Dalam salah satu pesannya mengenai dakwah (mengajar) ia berkata, “yang paling hebat dari seorang guru (ustad/kiyai) adalah mendidik dan rekreasi yang paling indah adalah mengajar. Ketika Anda melihat murid-murid yang menjengkelkan dan melelahkan, disitulah hati Anda diuji kesabarannya namun hadirkanlah gambaran bahwa satu dari mereka kelak akan menarik tangan Anda menuju surga.”

Pintu rumahnya selalu terbuka untuk siapa pun yang ingin bersilaturahmi atau menemuinya. Di usianya yang sudah sangat senja (90 tahun) Mbah Maemun tidak pernah berubah; selalu hangat, ramah, dan senantiasa berusaha memuliakan tamunya semampu yang bisa ia lakukan. Ia menemui setiap tamu yang berkunjung ke rumahnya dan menyambutnya dengan senyum mengembang walau pun dia harus menyambut tamunya dengan bantuan tongkat atau dipapah. Dengan telaten ia mendengarkan keluh kesah, cerita dan permintaan nasehat atau doa dari setiap tamu yang mengunjunginya. Bahkan tak jarang ia mengajak tamunya untuk menemaninya mengajar santri-santrinya.

Ketika Anda berada di hadapan beliau Anda akan merasa diri Anda begitu dihargai, dimuliakan dan dihormati oleh beliau karena beliau memegang teguh pesan Rasulullah, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah ia memuliakan tamunya.” Dalam kondisi seperti apa pun, mbah Maemun selalu sabar dan bahagia menemui setiap tamunya. Seakan tidak ada perasaan capek atau lelah dalam memuliakan tamu baginya. Bahkan tak jarang ia menerima tamunya di kamar pribadinya. Karena keinginannya selalu berusaha memuliakan dan membuat bahagia tamunya.

Kiyai yang dikenal kepakarannya dalam ilmu Nahwu-Shorof dan mempunyai penguasaan mendalam pada kitab Syarah Alfiah Ibnu Malik karya Syekh Muhammad bin Abdullah bin Malik al-Andulisy yang merupakan murid Sheikh Ibnu Muthi yang juga menulis kitab dalam masalah Nahwu dan Shorof dengan jumlah 1000 nazhom (bait) ini tak pernah sama sekali mengucapkan kalimat yang tidak baik yang menyakitkan orang lain apalagi sampai menyalah-nyalahkan orang lain. Karena kepakarannya dalam ilmu Nahwu dan Shorof, pengajian Syarah Alfiah Ibnu Malik yang diselenggarakan Mbah Maemun selalu dipenuhi oleh para pengkaji ilmu dan menjadi daya tarik ribuan santri untuk mengikuti pengajiannya.

Di samping kepakarannya dalam masalah Nahwu dan Shorof, Mbah Maemun Zubair juga merupakan ahli tafsir al-Quran dan muhadis (ahli hadis), setiap hari Ahad, ketika mbah Maemun menyelenggarakan pengajian Tafsir al-Quran di pesantrennya, PP al-Anwar, Sarang dibanjiri oleh santri dan para kiyai yang datang dari berbagai penjuru Indonesia. Penguasaan beliau dalam masalah sejarah khususnya sejarah Islam tak diragukan lagi. Dalam pengajian tafsir beliau sering menjelaskan sejarah secara detail dan komprehensif utamanya mengenai sejarah Islam.

Dalam momen-momen mbah Maemun memberikan kajian, beliau sering sekali mengulas mengenai keutamaan hari Selasa dan kecintaanya pada hari Selasa, beliau menceritakan bahwa banyak orang-orang alim yang dipanggil oleh Allah di hari Selasa, sehingga beliau sering sekali minta didoakan agar beliau diwafatkan oleh Allah di hari Selasa. Mbah Maemun menjelaskan bahwa hari Selasa adalah hari dimana Allah menciptakan (menyempurnakan) ilmu dan segala sesuatu di dunia ini. Disamping mbah Maemun juga meminta kepada Allah agar diwafatkan di Makkah al-Mukaromah dan dikuburkan di sana.

Kerinduan untuk menunaikan ibadah haji pada tahun 2019 ini dirasakan begitu kuat oleh Mbah Maemun, ia merasa Allah memanggilnya untuk kembali ke tanah suci dan kembali keharibaanNya selama-lamanya. Dua hari sebelum mbah Maemun meninggal, mbah Maemun meminta doa kepada orang yang menemuinya di kamar hotel, agar beliau diwafatkan oleh Allah Swt dalam keadaan khusnul khotimah. Pagi sebelum subuh langit di atas Masjidil Haram mendung pekat untuk kemudian hujan turun rintik-rintik tatkala waktu duha tiba beberapa saat sebelum mbah Maemun menghembuskan nafas terakhir meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Usai dimandikan, dikafani dan dishalatkan di Masjid al-Muhajirin jasad kiyai sepuh berakhlak luhur ini pun dikebumikan di pekuburan al-Ma’la di tempat dimana sebagian keluarga Rasulullah (bani Hasyim) seperti istri Rasulullah Sayidah Khadijah al-Kubro, paman Rasulullah, Abu Thalib, kakek Rasulullah Abdul Muthalib dan lain-lain. Karenanya masyarakat Mekah menyebut pemakaman yang terbentang di Jabal Asayidah ini sebagai pekuburan leluhur Rasulullah.

Selalamat jalan kiyaiku, sungguh jiwa burung bangau telah pergi, musim semi telah datang! Di manakah engkau? Dunia telah mekar dan dengan daun-daun indah dan mawar nan rupawan. Keabadian hanya milik Allah, Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun. Tetesan air mata ketika menulis ini, menjadi bukti bahwa kami sungguh mencintai dan mengagumimu! **

Jakarta, Selasa, 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *