Puisi

Puisi Farah Velda #2

Puisi 6

          Kalau Ku Kata

 

Kalau ku kata,

Kau adalah lazuardi hati yang indah

Berkenan kah kau maafkanku?

Maafkanlah,

Jika kurayumu dengan kata

Karena sungguh lidah ini kelu melontarkannya padamu dimuka

Kalau ku kata,

Kau adalah marjan hidupku yang berharga

Apakah kau kan tetap bermuka merah menyala?

Maafkan, karena bibir ini tak sanggup berbicara

Dan hanya lewat stanza inilah, aku bersastra

Karena sungguh saja,

Kau bahkan melebihi rubi indah dibelahan dunia manapun

Yang juga tak bisa bersanding dengan intan permata disana

Duhai pelangi putih yang kurindu dan kucinta

 

Karangploso, Agustus 3, 2019

 

 

Puisi 7

 

          Alim

 

Jangan kata kata itu,

yang terlontar dalam wajah itu

yang terbaca dalam sikap itu

yang bahkan kata itu pun,

Mampu mengikis waktu

Kian demi detik

Hingga nafas pun terenggut

 

Jangan kata itu

yang bahkan racun pun seindah mawar

yang bahkan si buas sihir mata jadi eksotik

yang bahkan setitik noda jadi setitik dosa

yang bahkan secuwil rasa bawa segunung dosa

 

Bagaimana bisa,

Sosok rusak dicintai oleh putih

Sosok buruk disayangi oleh cahaya

Sosok hancur didekati oleh cinta

Bahkan, sosok hina disentuh oleh suci

 

Oh alim,

Kumohon

Murnikan si merah muda itu

Dalam diri sekotor ini

Menjadi sosok kalem yang ingin kau dan aku sentuh menuju langitNya.

 

Malang, April 20, 2018

 

 

Puisi 8

 

          Tak Lagi Sama

 

Satu mata mati

Tersisa mata satu lagi

Tapi serasa pelangi tak lagi sama

Dengan warna warna samar memudar pecah di sisi

 

Malang, Mei 31, 2018

 

 

Puisi 9

 

          Tempat berpijak, ku rindu.

 

Lalu?

Apakah aku bisa menemuimu?

Sesuatu yang menjadi kenanganku

Sesuatu lama yang mampu melukis senyumku

 

Lalu?

Aku memang tak bisa menyentuhmu,

Namun, bisakah aku?

Tuk mengharapkan itu?

Agar aku tak lagi mengadu paku akan rasa lampauku

 

Lalu?

Kau indah, terkadang pilu, dan haru biru

Namun, adakah dirimu menjadi memento akan lalumu?

Yang bisa hapus hujan kelabu

Yang sanggup undang bahagia dan hilangkan senyum palsu

 

Lalu?

Apakah kau akan pergi dariku, lagi?

Setelah sekian lama aku menunggumu

Setelah sekian lama waktu berlalu

Setelah masa sekarang berjalan larut bagiku

 

Dan akhirnya Lalu, ku sadari bahwa

Ku rindu tempat berpijakku yang dulu.

Bersama waktu yang dulu tak ku miliki

Rumah kita denganmu.

 

Malang, Juni 10, 2018

 

 

Puisi 10

 

           Puisi Untuk Jodohku

 

Adalah kamu

Yang aku tunggu

Sampai pada waktu tiba

Tapi sesungguhnya,

sanggupkah aku?

Bawamu menuju duniaku

Yang kecil dan penuh debu

Kedalam liang dimensi yang bisu

Bahkan nuansa abu abu sejak dulu

Dan maaf saja,

jika ku memilihmu.

Hai jodohku yang belum kutau.

 

Malang, Maret 03, 2018

By : Farah Velda Digna Zaidah

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *