Kerbau itu Seperti Apa Ma?

belibis pustaka
belibis pustaka

“Lihatlah di youtube!”

“Aku tak mau Ma, aku ingin melihatnya langsung.”

“Kamu ini kenapa sih, mama kan sibuk.”

“Kan kalau ayah libur kerja kita bisa melihatnya langsung Ma.”

Sejak seminggu lalu putrinya itu selalu sajak merajuk memintanya untuk membawanya melihat kerbau secara langsung. Iya, langsung, bukan di layar gawai atau televisi itulah permintaannya. Itu semua gara-gara buku dongeng yang dibacanya akhir-akhir ini. Buku-buku dongeng yang yang didapatkan putrinya dari perpustakaan sekolah. Yang dipinjamnya atas saran seorang guru barunya. “Banyak amanah kehidupan yang bisa diambil dari membaca dongeng,” kata gurunya itu.

“Ayolah Ma, minggu depan ya.” Pinta sang putri yang sedikit memuncratkan isi mulutnya yang masih terisi nasi.

Seperti sudah direncanakan oleh putrinya itu, setiap kali sarapan, ia akan terus merajuk padanya untuk membawanya melihat kerbau. Ia pun berpikir rajukan putrinya itu tak akan berhenti sebelum permintaannya itu terpenuhi.

“Ayolah Ma, aku ingin tahu kerbau itu seperti apa Ma?.” Sekali lagi rajukan itu ia lontarkan pada mamanya yang sedang menyodorkan segelas susu hangat di hadapannya. Dan seperti biasanya, jika sudah lelah menanggapi rajukan putrinya itu, ia akan memilih diam sambil berharap sarapan segera selesai dan putrinya segera berangkat ke sekolah.

***

“Itu dia masalahnya nak, aku tak tahu di mana kita bisa melihat kerbau itu secara langsung.” Ia selalu mengatakannya dalam hati saat melihat putrinya itu telah berangkat ke sekolah diantarkan ayahnya.

Sebetulnya, sebagai ibu ia tak ingin mengecewakan putrinya itu. Ia tahu betul rasa penasaran atau rasa keingintahuan seorang anak adalah sebuah hal yang bagus. Seharusnya ia bersyukur dengan apa yang terjadi pada putrinya itu. Terlebih sebetulnya ia sendiri pernah melihat kerbau itu secara langsung di masa kecilnya. Tepatnya, ia pernah hidup di kampung yang untuk melihat kerbau sangatlah mudah tanpa harus merajuk seperti apa yang dilakukan putrinya itu.

***

Ide mengajak putrinya untuk bermain ke kampung masa kecilnya itu melintas begitu saja. Ia bahkan merasa puas ketika merasa telah menelurkan sebuah ide yang sangat cemerlang. Apa lagi ia tahu, jika itu bukan suatu persoalan yang terlalu rumit jika harus berangkat ke kampung halamannya, hanya berdua dengan putrinya. Sebab suaminya tak bisa begitu saja mengambil cuti dalam kerjanya.

Tapi ia sebetulnya juga tak ingin hanya berangkat berdua saja dengan putrinya. Sebab sejak kelahiran putrinya itu, tepatnya sejak enam tahun yang lalu ia belum pernah mengunjungi bapak dan ibunya lagi. Suaminya semakin banyak kerjaan dan semakin sulit mengambil cuti itu alasan utamanya. Terlebih saat rencana berkunjung setahun lalu juga gagal karena adanya pandemi. Sebab baginya mencegah kemungkinan hal buruk itu lebih baik dari pada bertindak semuanya sendiri yang justru bisa merugikan orang lain.

Tapi saat ini pun suaminya tak bisa ambil cuti untuk sekedar memenuhi permintaan putrinya itu. Semua orang tahu betapa sibuknya orang yang dalam pekerjaannya harus berdasi dan berseragam. Meskipun secara ekonomi orang-orang itu, termasuk suaminya dipandang lebih mapan, nyatanya tak semua yang dilihat orang lain itu benar adanya. Banyak hal yang justru kelihatan manusiawi nyatanya tak pernah bisa dipenuhi orang-orang berdasi itu. Sebab mereka telah kehabisan waktu untuk memenuhi apa yang mereka sendiri menyebutnya sebagai tugas. Parahnya tak jarang bagi mereka itu disebut sebagai pengabdian.

Sedangkan meskipun ia tampak sebagai seorang perempuan yang berada di rumah sehari-harinya. Yang jika diharuskan untuk mengisi daftar pertanyaan untuk kepentingan formalitas ia harus menuliskannya sebagai ibu rumah tangga. Sebetulnya ia tak keberatan menuliskan itu semua, sebab apa yang dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang berdasi itu adalah sebuah kemuliaan, juga sebuah pengabdian yang nyata baginya. untuk anak dan keluarganya tentunya.

Suaminya juga tahu, bahwa ia sebagai istri bukanlah sosok ibu rumah tangga yang dipandang miring oleh istri teman-temannya. Melainkan ia juga seorang yang bekerja dalam industri kreatif yang tak pernah mengerjakan sesuatu yang sama dalam setiap harinya. Makanya ia sering bertanya pada suaminya itu, “apa kamu tak bosan mengerjakan sesuatu yang sama setiap hari?.” Dan jika pertanyaan itu muncul maka selanjutnya yang terjadi adalah canda dan tawa untuk saling melengkapi kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Lalu kembali saling merencanakan apa yang terbaik untuk masa depan putrinya itu.

***

Assalamualaiku, bapak pripun kabare?

Waalaikumsalam nduk, bapak karo ibuk apik, sehat kabeh kabare. Sampean piye sak keluarga?

Alhamdulillah sae pak. Niki rencana kulo kalian Bulan badhe mriku pak.

Kapan nduk?

Wulan ngajeng pak?

Karo Banu pisan to?

Mboten pak, Mas Banu mboten saget tumut mboten kendel nyambut damele, dados kulo namung kalih Bulan mawon. Bulan pengen ningali maeso pak?

Waduh!

Percakapan singkat dengan bapaknya di telepon ternyata bukanlah solusi yang terbaik. Meski sedikit megobati rindu telah mendengar suara bapaknya. Ia justru menyesal telah buru-buru telepon dan mengabari bapaknya akan berkunjung bulan depan. Meskipun ia sendiri sedang rindu dengan bapak ibunya itu, tapi perihal kerbau dan keinginan Bulan untuk melihat kerbau membuatnya justru semakin pening kepala.

Paling tidak yang membuat ia tenang, ia belum memberitahukan idenya ini pada Banu juga Bunga. Meskipun ia kembali berfikir keras perihal bagaimana menghentikan rajukan Bulan nantinya.

***

Di telepon, bapaknya bercerita singkat tentang apa yang terjadi di kampungnya setahun terakhir ini. Terkhusus ladang gembala kerbau yang sekarang hanya tinggal kenangan saja. Tanah yang semula hutan lebat itu perlahan berubah menjadi ladang dari waktu ke waktu. Awalnya ada sedikit sisa gerumbulan pohon yang letaknya menyebar.

Namun setahun terakhir ini, kebijakan baru muncul. Semua tanah itu boleh dimanfaatkan untuk dijadikan ladang. Orang-orang kampung boleh menanam jagung maupun yang lainnya di sana. Dan sebagai penggembala kerbau bapak kehilangan tempat untuk menggembalakan kerbaunya tersebut. Alhasil kerbau-kerbau itu dijual. Bapaknya kini berganti hanya memelihara kambing saja di kampung.

Cerita bapaknya itulah yang membuatnya bingung sekaligus prihatin dengan kondisi yang terjadi di kampungnya. Yang seharusnya terjadi adalah orang-orang kampung bisa memanfaatkan sekaligus menuai hasil dari merawat hutan yang lestari. Tapi kenyataannya justru orang-orang kampung kini bergantung pada sebuah hal yang sebenarnya mereka semua tahu, bahwa yang dilakukannya bukanlah solusi yang terbaik.

Yang paling membuatnya bingung lagi adalah, bagaimana lagi ia harus menunjukkan pada Bulan seperti apa kerbau itu. Seperi tak rela menghapus begitu saja ide cemerlang yang baru saja muncul itu. Ia kembali menelepon bapaknya.

***

Piye nduk, enek opo kok telpon maneh?

Nopo mboten wonten ingkang gadhah maeso maleh pak ten deso?

Enek, gone Lek Mat, iku sing paling pungkasan nduk. Liyane wes podo gak enek sing ngopeni kebo maneh. Tapi minggu ngarep, kebone yo arep di gowo karo bakul nang pasar. Wes angel ngopeni kebo nang deso kene nduk.

Mendengar apa yang dituturkan bapaknya di telepon. Ia memutuskan besok pagi harus berangkat ke kampung kelahirannya itu. Ia berpikir, Banu suaminya akan sangat memahami apa yang menjadi rencana terbaiknya itu.

***

Setelah tiket yang dipesannya kemarin secara online itu sudah di genggamannya. Ia berangkat pagi itu menuju ke stasiun dengan Bulan yang belum tahu mau dibawa ke mana oleh mamanya.

“Kita mau ke mana Ma?”

“Mau menuntaskan rindu dan menjawab rasa penasaranmu nak, semoga kita beruntung.”
Setelah hampir delapan jam kotak besi itu membawanya menyusuri rel yang membelah banyak persawahan. Tibalah ia dan putrinya di sebuah kota kenangan. Baginya kota kenangan itu sudah menjadi bagian dari banyak hal yang tak pernah putus mewarnai hidupnya sampai saat ini. Itu jelas terlihat di berbagai banyak karyanya. Dan yang lebih penting kota ini akan menjawab rasa penasaran Bulan putri tercintanya.

“Baiklah nak, pertanyaan kerbau itu seperti apa? Akan dijawab oleh sebuah daerah kecil yang berada lumayan dekat dengan lereng gunung Wilis. Semoga kamu bahagia dengan ini semua.”

“Wah ternyata aku bisa menemui kerbau-kerbau itu hanya dengan berkunjung ke rumah kakek?”

“Iya dan tahun ini di usiamu yang ke enam tahun untuk pertama kalinya kamu kuajak ke rumah masa kecil mama dan bertemu kakek nenekmu.”

***

Kerbau-kerbau yang harusnya diangkut ke pasar minggu depan, ternyata rencana itu berubah. Kerbau-kerbau itu harus diangkut sore ini. Sudah ada pembeli yang akan memanfaatkan dagingnya untuk sebuah hajatan.

“Bulan ayo iku kakek ke rumah Kakek Mat.”

“Ke mana itu Ma?”

“Ya melihat kerbau.”

“Harus sore ini ya Ma?”

“Harus, karena kerbau-kerbaunya sudah mau diangkut ke pemilik barunya.”

***

Ia pun akhirnya melihat kebahagiaan dan keharuan yang bersamaan tercermin di mata putrinya itu. Ia memang berhasil menunjukkan, bahkan membuat Bulan berhasil menyentuh kulit kerbau yang pernah ia lakukan di masa kecilnya dulu. Tapi kenyataan yang tak terbantah itu benar-benar terjadi. Bahwa itu adalah kerbau terakhir yang ada di kampungnya.

“Kenapa kelihatan bersedih, kan sudah berhasil lihat kerbau?”

“Tapi kan, itu yang terakhir Ma.”

“Makanya nak, tumbuhlah jadi seorang yang mempunyai kemanfaatan yang besar. Supaya bisa menebar kebahagiaan, bukan kesedihan.”

“Iya Ma.” Bulan pun memeluk mamanya dengan tangis yang makin menjadi.

Isak tangis Bulan itu akhirnya berhenti karena sang kakek pun datang mengahmpirinya dengan banyak kisah tentang kerbau yang sore ini benar-benar telah menjelma kenangan di kampungnya.

Nganjuk, 19 November 2020

A Muhaimin DS

A Muhaimin DS

Seorang penikmat cerita dan penyuka perjalanan. Menulis cerpen, puisi dan catatan ringan tentang kesejukan hidup.

View all posts

Add comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

A Muhaimin DS

A Muhaimin DS

Seorang penikmat cerita dan penyuka perjalanan. Menulis cerpen, puisi dan catatan ringan tentang kesejukan hidup.