Rahasia Keluarga Sakinah menurut Mutawalli al-Sya’rawi

Setiap insan menginginkan hubungan keluarga yang sakinah. Tidak hanya mapan dalam aspek ekonomi, aspek pendidikan, dan aspek agama. Keluarga adalah miniatur umat yang menjadi sekolah pertama bagi manusia dalam mempelajari etika sosial yang terbaik. Tercantum dalam al-Quran beberapa ayat yang menjelaskan konsep membentuk keluarga yang sakinah, diantaranya adalah (Q.S. Al-Rumm: 21)

 “dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu istri-istri dari sejenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan menjadikan-Nya diantara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berfiklir.”

dalam membangun keluarga sakinah jangan sampai beranggapan bahwa dengan menikah itu akan merasa kesulitan dalam masalah ekonomi. Kemudian, Mutawalli al-Sya’rawi dalam kitabnya juga mengatakan dalam memlilih pasangan jangan sampai menempatkan kekayaan istri sebagai prioritas. Akan tetapi jadikanlah menikah dengan pasangan tersebut sebagai sarana dalam membuka pintu rezeki. Terkadang hal yang demikian itu menjadi penyebab orang tidak mau menikah karena alasan ekonomi yang tidak mencukupi.

Akan tetapi pasti setiap keluarga akan mengalami goncangan masalah, dan tidak selalu berjalan baik. Permasalahannya bagaimana sebuah keluarga bisa menyelesaikan permasalahan tersebut dan tetap bisa sakinah mawaddah wa rahmah, untuk itu seorang Ulama yang berasal dari Mesir Mutawalli Sya’rawi mempunyai 3 konsep untuk keluarga bisa bahagia.

Pertama: At-Takamul  (saling menyempurnakan). Dalam membentuk sebuah keluarga hal yang pertama harus dipahami ialah, terbentuknya sebuah keluarga tersebut merupakan penyatuan antara seorang laki-laki dan perempuan. Yang mana diketahui antara laki-laki dan perempuan tersebut sama-sama merupakan ciptaan tuhan, akan tetapi juga mempunyai sedikit perbedaan. Antara lain, bedanya sifat antara laki-laki dan perempuan, kemudian bagaimana menyikapi setiap persoalan yang ada. Oleh karena itu, hal semacam ini menjadi doktrin dalam kehidupan sosial yang mengatakan laki-laki dan perempuan saling bersaing dalam sebuah kehidupan. Mutawalli Sya’rāwi berpendapat bahwa sesungguhnya antara laki-laki dan perempuan meruapakan makhluk yang saling menyempurnakan satu dengan yang lainnya.

Kedua: At-Takafu (setara). Dalam hal ini Mutawalli al-Sya’rawi mempunyai dua cara: yang pertama: sebagaimana yang diajarkan dalam Agama Islam ialah harus saling kufu’ (التكافو) . yang dimaksud kufu’ dalam hal ini bukan dalam hal harta, akan tetapi dalam setiap sendi kehidupan. Kufu’ dalam hal akhlak sama-sama baik, dan se-kufu’ dalam kemampuan dalam menjaga satu sama lainnya. Dan Islam menempatkan hal ini sebagai hal yang pertama harus diperhatikan sebelum membangun sebuah keluarga. Melihat tanggungjawab seorang orang tua kepada anak ialah sangat besar. Hal ini juga berkaitanb dengan hak-hak kewarisan dan sifat kedua orangtua yang nantinya mereka lah yang mendidik anak-anaknya sampai ajal menjemput. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:

تَخَيَّرُوا لِنُطْفَكُمْ فَإِنَّ العِرْقَ دَسَّاسٌ

Pilihlah dengan benar wanita yang akan mengandung anakmu karena unsur keturunan sangat berpengaruh pada anak.

Mutawalli al-Sya’rawi juga berpendapat dalam memilih istri itu haruslah dengan tuntunan yang sudah diajarakan dalam Agama Islam baik itu terdapat dalam Al-Quran maupun dalam hadits, salah satu yang menjadi landasan Mutawalli Al-Sya’rawi dalam hal ini adalah hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya: maka pilihlah wanita yang taat Bergama niscaya engkau beruntung.”

Ketiga: Ad-Din (Agama). Keluarga sebagai kelompok kecil yang mempunyai peran besar dalam setiap individu manusia, karena di dalamnya-lah anak-anak penerus bangsa mendapatkan pendidikan pertama. Tidak hanya pendidikan secara keilmuan, akan tetapi juga meliputi pendidikan yang berupa tatakrama yang menjadi perhatian penting bagi semua orang untuk menilai orang lain. Oleh karena pentingnya sebuah keluarga, yang mana terbentuknya sebuah keluarga tidak hanya antara manusia dengan manusia, akan tetapi juga mempunyai ikatan suci dengan Sang pencipta yaitu Allah SWT. Oleh karena itu orang yang berada dalam naungan keluarga tersebut baik kedua orang tua maupun anak-anak perlu rasa nyaman dan tenteram diantara meraka, atau lebih familiar disebut dengan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Oleh karena itu agama sangat penting dalam sebuah keluarga terutama orang tua paham akan Agama, karena dari pendidikan orang tua terhadap anak lah yang membentuk karakter anak.

Menurut Mutawalli Al-Sya’rawi sendiri dalam keluarga yang sering dilupakan ialah bagaimana keluarga tersebut menempatkan agama di dalamnya. Hal ini lah yang menjadi salah satu permasalahan yang sering terjadi dalam rumah tangga. Selain itu pemahaman akan hak dan kewajiban masing-masing pasangan juga menjadi kendala yang tidak mudah dalam sebuah rumah tangga. Mutawalli al-Sya’rawi menekankan bahwa perlu dikatahui bahwa sebuah keluarga itu dikatakan sakinah ialah tidak dipandang bahwa keluarga itu secara dhohir  tidak ada kesulitan, akan tetapi keluarga itu dianggap sakinah ketika masing-masing pasangan paham akan kewajiban dan hak masing-masing pasangan

Khotibul Umam

Khotibul Umam

View all posts

Add comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Khotibul Umam

Khotibul Umam