Acara Maulid Nabi Muhammad SAW dalam Berbagai Perspektif

Selalu hangat diperbincangkan ketika bulan rabi’ul Awwal menyapa kita. Salah satunya perihal pelaksanaan acara maulid Nabi Muhammad SAW. Dimana hal ini menjadi pertentangan para ulama antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan. Kali ini kita akan membahasan dari kedua kelompok tersebut, serta dalil atau hujjah yang digunakan.

Dalam peringatan maulid Nabi Muhammad SAW ada dua pendapat: pertama: kelompok yang melarang berlandasakan kesepakatan para ulama. Kedua: yang membolehkan diantara beberapa ulama. Dua hal ini sama-sama dilandaskan pada pendapat para ulama Muslim. Artinya baik dari kelompok yang membolehkan atau tidak membolehkan sama-sama mempunyai dasar.

Dari kelompok yang membolehkan seperti: imam abu al khattab, Imam Ibn Kholqan, Imam al- dzahaby, imam al nasyiry. Imam abu al-khattab ketika datang ke kota Erbil, irak. Ia melihat petinggi (shulton) yaitu Zainal  Abidin melakukan peringatan maulid Nabi muhamnmad SAW, sampai akhrinya ia (Zainal Abidin) menulis kitab yang berjudul “at-tanwirul fi amdhi al-siraji al munir”. Dan pada akhir kitabnya ia menulis qosidah kepada Nabi muhammad.

Menurut imam nawawi, peringatan maulid Nabi dilakukan di kota erbil, irak. Dimana dalil yang digunakan adalah atas dasar mahabbah (cinta) kepada Nabi Muhammad SAW. Untuk memuji Nabi, mengagungkan, rasa syukur kepada Allah atas adanya Nabi Muhammad sebagai utusan untuk semesta alam.

Sedangkan pendapat Ibn Hajar Al-Atsqolany, pada dasarnya peringatan maulid ini adalah bid’ah karena orang salaf tidak pernah melakukan. Akan tetapi dalam peringatan maulid terdapat banyak kebaikan dan yang dibaca ada sejarah Nabi, maka termasuk bid’ah hasanah (bid’ah yang baik). Sebagaimana dalam hadits Bukhari Muslim, ketika orang yahudi berpuasa pada bulan asyura, kemudian diatanya mengapa engkau berpuasa? Orang yahudi menjawab, karena pada bulan asyura inilah allah menenggelamkan fir’aun dan menyelamatkan Nabi Musa. Jika hal demikian saja dilakukan oleh orang yahudi untuk menghormati Nabi Musa, kenapa ummat Nabi muhammad dilarang melakukan acara maulid?.

Dipahami bahwasanya peringatan maulid Nabi yang dilukan oleh orang Indonesia sangatlah menarik. Karena dari situlah orang-orang Islam mengingat sejarah Nabi, keluarga Nabi, jasa-jasa Nabi, dan lain sebagainya. Dan jika dikatakan perbuatan yang haram, sangat tidak mungkin. Dikarenakan di dalam peringatan maulid itu hanya membaca al-Quran, sholawat , dan doa kepad Allah dan Nabi muhammad. Tidak ada unsur kejelekan yang dilakukan, apalagi kemusyrikan.

hukum asal melaksanakan maulid Nabi adalah Bid’ah, tidak ada pendapat atau riwayat dari seorangpun termasuk dari orang-orang salaf. Akan tetapi maulid Nabi juga mengandung banyak kebaikan dan sebaliknya. Siapa yang dalam pelaksanaannya mencari kebaikan dan menghindar dari sesuatu yang tidak baik, maka maulid Nabi termasuk Bid’ah Hasanah. Dan siapa yang tidak menghindari hal yang baik, mak Bid’ah yang tidak Hasanah.(Tuhfat Al Muhtaj).

Kemudian kelompok yang tidak membolehkan. Diantaranya Ibn taymiyah, imam ibn al hajj al maliki, Imam al fakihi al-syufi al as’ary.Ibn Taymiyah mengatakan: meski hal ini (peringatan maulid Nabi) disamakan dengan peringatannya maulid Nabi isa yang dilakukan oleh orang nasrani, akan tetapi orang salaf (orang terdahulu) tidak pernah melakukan meskipun dalam peringatan maulid banyak kebaikan, dan perlu diketahui orang salaf itu lebih tau daripada kita.

Imam Al-Fakih dalam fatwanya mengatakan: sesungguhnya peringatan maulid Nabi termasuk dari perbuatan yang munkar dan termasuk pada bid’ah. tidak haram. Dan juga hukum merayakan maulid yang katanya mubah (boleh) maka dalam hukum yang lima, wajib, mubah, mandzub, makruh, haram, maka dengan kesepakatan ulama mengatakan ini tidak wajib. Sedangkan jika dikatakan Mubah, akan tetapi syariat tidak menjelaskan, sahabat, tabi’in tidak melakukan. Maka hal ini tidak bisa dikatakan sebagai suatu kebolehan.

Juga salah satu kenapa peringatan Maulid Nabi tidak diperbolehkan, karena ada alat musik yang secara syariat diharamkan, dan perkumpulan maulid meneyerupai perkumpuan orang yahudi dan nasrani sebagaiamana hadits yang berbunyi: “man tasyabbaha bikaumin fahuwa minhum”, barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka mereka termasuk kelompoknya. Dan lagi tidak ada dalil baik dari al-Qur’an dan sunnah tentang diperbolehkannya melakukan peringatan Nabi.

Peringatan maulid Nabi tidak lebih dari sekedar ekspresi kegembiraan seorang hamba atas nikmat dan karunia besar yaitu kelahiran Muhammad Saw. Dari beberapa pendapat ulama diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dipermasalahkan itu bukanlah peringatannya, akan tetapi cara memperingatinya. Ketika dengan peringatan maulid kesadaran umat semakin bertambah, membangkitkan semangat menjalankan agama, menyadarkan generasi muda akan Nabi dan keagungan agamanya, maka maulid menjadi sesuatu yang baik. Akan tetapi perlu inovasi dalam peringatan maulid Nabi, tidak hanya sekedar seremonial tanpa makna yang membuat umat terjebak pada rutinitas.

Khotibul Umam

Khotibul Umam

View all posts

Add comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *