Amira dan Pasukan Kunang-Kunang

Bagi anak-anak semua cerita adalah nyata. Seperti cerita tentang kunang-kunang yang diceritakan bapaknya. Amira sangat percaya jika kunang-kunang itu memang jelmaan dari kukunya orang yang telah meninggal. Bagi beberapa anak-anak lain tentu cerita itu bisa menyebabkan katakutan tersendiri. Karena mungkin memang cerita itu juga sengaja dilontarkan dengan tujuan agar anak-anak tidak main ke luar rumah saat malam hari.

Namun bagi Amira itu tak menyebabkan sebuah ketakutan hinggap pada dirinya. Amira justru penasaran dengan wujudnya. Sebab selama tinggal di Jakarta ini ia sama sekali belum pernah melihat kenampakan kunang-kunang secara langsung. Namun kosa kata tentang kunang-kunang memang sudah tidak asing lagi di telinganya. Tak hanya di rumah, di sekolah pun ia sering mendengar kata kunang-kunang dari guru juga teman-temannya. Karenanya ia pun pernah sesekali mencari kenampakan kunang-kunang itu di internet. Tapi baginya itu tetap tidak nyata dan tidak memuaskan hatinya.

Selain memang ia pemberani, ia memang lebih dulu mendengar cerita kunang-kunang itu dari ibunya. Meski ibunya pun mengatakan hal yang sama jika kunang-kunang itu jelmaan kuku orang yang telah meninggal. Tapi ibunya bilang melihat pasukan kunang-kunang adalah pengalaman indah di masa kecilnya.

Karena itulah di hari libur sekolah ini, ia sangat ingin melihat pasukan kunang-kunang itu di rumah neneknya, di lereng Gunung Wilis tempat ibunya menghabiskan masa kecilnya. Ia tak ingin melewatkan kesempatan libur panjang ini untuk tahu wujud asli kunang-kunang. Dan berharap ia akan punya pengalaman indah seperti yang diceritakan ibunya.

***

Karena terlampau sering Amira meminta untuk liburan ke rumah neneknya di lereng Gunung Wilis. Keinginannya itu pun akhirnya dikabulkan oleh bapak dan ibunya. Tepat di hari Minggu di minggu pertama bulan Juli ini rombongan keluarga kecil dari jakarta itu pun berangkat menuju sebuah desa di lereng Gunung Wilis Jawa Timur.

Sepanjang perjalanan, tak hentinya Amira membayangkan ia akan melihat pasukan kunang-kunang berterbangan di depan matanya. Ia membayangkan akan melihat keindahan cahaya yang berkerlipan dalam jumlah ratusan bahkan ribuan itu.

Selain sibuk menerka sendiri segala hal tentang kunang-kunang, ia pun tak henti-hentinya menanyakan banyak hal tentang kunang-kunang itu pada ibunya. Sebab ia ingin benar-benar mengalami sebuah pengalaman indah bersama pasukan kunang-kunang seperti yang pernah di alami ibunya.

“Nanti Amira bisa melihat kunang-kunang di mana bu?”

“Dulu ibu cukup melihatnya di depan rumah nak.”

“Wah semudah itu ya bu melihat keindahan itu?”

“Tentu nak, dulu ibu hampir setiap malam duduk di teras rumah bersama nenekmu melihat kunang-kunang itu.”

Mendengar jawaban ibunya yang mengatakan begitu mudahnya melihat kunang-kunang, Amira tampak penuh keyakinan akan mengalami sebuah pengalaman baru yang luar biasa. Di sepanjang perjalanan ia pun tak melepaskan gawai yang dipinjam dari ibunya itu untuk melihat cara menangkap kunang-kuanang.

“Kenapa kok cari cara menangkap kunang-kunang?”

“Aku mau membawanya pulang nanti Bu.”

Mendengar jawaban putrinya itu ibunya menjadi sedikit ragu. Khawatir ekspektasi yang terlalu tinggi untuk melihat kunang-kunang tidak benar-benar bisa terwujud.

Beberapa kali ibunya mendengar kabar jika tempat kelahirannya itu sudah berubah. Ada sebuah proyek pembangunan yang tak berimbang dengan komitmen menjaga lingkungan. dampaknya beberapa tempat menjadi sangat panas bahkan longsor. Karenanya pula ibunya mulai khawatir jika pasukan kunang-kunang juga menjadi bagian yang terdampak dari perubahan lingkungan itu. Mungkin pasukan itu hanya tersisa sedikit bahkan sudah hilang.

Jika memang masih ada, pasukan kecil kunang-kunang pun akan sangat melegakannya. Sebab ia tahu ekspektasi tinggi yang ada pada diri putrinya. Ia sangat ingin melihat pasukan kunang-kunang yang telah ia ceritakan padanya. Tentu ibunya tak ingin melihat putrinya itu menjadi murung sebab tak mendapatkan apa yang ia inginkan.

***

“Selamat sore nek!”

Sapa Amira untuk neneknya yang sedang menyapu halaman rumah sore itu sambil mencium punggung tangan neneknya itu. Amira memang hanya setahun sekali mengunjungi neneknya, biasanya ketika Lebaran tiba. Tapi kali ini ia datang lebih awal sebelum lebaran sebab keinginannya melihat pasukan kunang-kunang sudah tak mampu ditawar lagi oleh bapak dan ibunya.

“Nenek kapan aku bisa lihat pasukan kunang-kunang?”

Mendengar Amira menanyakan perihal kunang-kunang pada neneknya, ibunya justru menariknya ke dalam rumah.

“Kunang-kunang itu hewan nokturnal. Kamu tahu maksud dari noktunal?”

Tanya ibunya pada Amira yang tampak kesal karena diajak masuk ke dalam rumah.

“Hewan yang aktif di malam hari itu namanya hewan nokturnal.” Sambung bapaknya yang juga mengiringi Amira masuk ke dalam rumah dengan barang bawaan dari jakarta.

“Jadi aku masih harus menunggu gelap untuk melihat kunang-kunangnya?”

“Iya, setidaknya istirahatlah dulu, biar nanti malam bisa melihat kunang-kunang.” Imbuh ibunya yang sekarang sudah merebahkan diri karena lelah akibat perjalanan jauh dari jakarta.”

***

Langit gelap, suara jangkrik yang tak pernah ia dengar di rumahnya di jakarta pun mulai muncul dan Amira menikmatinya. Amira sudah menyiapkan diri sepenuhnya untuk melihat pasukan kunang-kunang. Ia duduk di teras lengkap dengan gawai di tangannya. Tentu gawai milik ibunya yang ia pinjam itu adalah alat yang tak boleh ia lupakan saat momen penting melihat kunang-kunang itu tiba. Ia ingin mengabadikan dan akan menunjukkannya pada teman-temannya saat masuk sekolah nanti.

“Lihat itu!”

Seru ibunya pada Amira yang menatap layar gawai karena mulai jenuh menunggu kunang-kunang tak kunjung muncul.

“Itu cahaya apa Bu?”

“Ya itu namanya pasukan kunang-kunang.”

“Boleh aku mendekat ke sana, biar aku dapat gambar yang bagus Bu?”

“Jangan nak!, takut nanti kunang-kunang betina yang di tanah kamu injak.”

“Kenapa mereka di tanah?”

“Jadi hanya kunang-kunang jantan yang punya kemampuan terbang nak. Ia yang akan mendekati betinanya yang ada di tanah. Lalu induk kunang-kunang itu akan meletakkan telurnya di tanah atau di bawah pohon.”

Sementara amira terkagum-kagum melihat pasukan kunang-kunang. Ibunya lega karena ternyata pasukan kunang-kunang itu masih ada, meskipun mereka hanya dalam jumlah kecil.

“Jangan pakai blitz ya kalau mengambil fotonya, takut mengganggu mereka. Amira harus tahu, pasukan kunang-kunang yang ada di depan Amira itu adalah pasukan kecil saja.”

“Apa Amira bisa melihat pasukan yang lebih besar?”

“Tidak lagi nak, pasukan itu hanya ada di saat ibu kecil di sini. Kehidupan mereka telah terganggu dengan polusi cahaya juga lingkungan yang mulai rusak akibat ulah manusia nak. Makanya tadi ibu juga melarangmu mengambil foto mereka dengan blitz.”

Mendengar apa yang dikatan ibunya Amira mulai meneteskan air matanya. Selain karena bahagia bisa melihat pasukan kunang-kunang, ia juga sedih karena pasukan kunang-kunang itu terancam kelangsungan hidupnya akibat kerusakan lingkungan.

Nganjuk, 24 Juli 2020

A Muhaimin DS

A Muhaimin DS

Seorang penikmat cerita dan penyuka perjalanan. Menulis cerpen, puisi dan catatan ringan tentang kesejukan hidup.

View all posts

Add comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *