Biaya Kawin

cerpen belibis pustaka

Ini adalah malam naas bagi Kahar. Polisi-polisi itu sudah mengetahui aksinya. Terengah-engah ia berlari menerjang semak belukar di tepian hutan. Tak ia hiraukan lengannya yang berdarah lantaran tersayat ranting-ranting tajam. Nafasnya memburu, keringat dingin telah membahasahi baju lusuhnya. “Anjing…. anjing… anjing… sial”  rutuknya dalam hati. Yang ada di pikirannya sekarang cara bagaimana agar dirinya selamat di malam jahannam ini.

Suara tembakan peringatan membelah kesunyian, membuat bulu kuduk kahar berdiri ngeri. Derap langkah pengejar terasa semakin dekat. Kahar mempercepat larinya, menerobos masuk ke dalam hutan. Semakin dalam. Hujan yang tiada henti dari sore membuat lantai hutan menjadi becek dan berlumpur. Serasa mati rasa kaki Kahar karenanya. Namun apa boleh buat, sekarang bukan saatnya memberikan toleransi pada kakinya atau ia akan berakhir sama sial seperti temannya, Mallomo.

Mengingat Mallomo, membuat darah Kahar kian mendidih. “Dungu sangat si Mallomo itu, kalau saja ia tidak gugup dan lari, mungkin polisi-polisi itu tidak akan curiga ” rutuknya.

“Uangnya pun belum sempat dibayarkan, ahhh benar-benar bocah sial!!!”

Napas Kahar semakin tak beraturan. Dadanya terasa nyeri tak terkira, badannya mulai lemas, kakinya benar-benar mati rasa sekarang, sedang tas ransel di punggungnya semakin berat saja rasanya. Di belakang sana derap langkah para pengejar terasa semakin dekat. Tidak ada cara lain, ia harus segera menemukan tempat bersembunyi. Tidak mungkin bagi tubuhnya saat ini untuk terus berlari.

Beberapa saat ia mendapati dirinya sudah berada di tepian jurang. “Aku harus segera bersembunyi” pikir Kahar. Ia sapukan pandangannya ke sekeliling. Tidak ada tempat yang cukup aman untuk melindungi dirinya. Ia alihkan pandangannya ke bawah jurang sana, hanya gelap. Gambaran kengerian yang cukup untuk membuat nyalinya ciut. Derap sepatu pengejar semakin dekat. Sepanjang jurang hanya ada rerimbunan semak dan kumpulan batu-batu cadas yang menyerupai gunung-gunung kecil.

“Apa boleh buat, aku harus turun ke sana”. Kahar berfikir barang kali batu-batu cadas di bawah bisa melindungi dirinya. Pelan-pelan ia langkahkan kakinya. Tangannya bergantian memegangi ranting-ranting sepanjang jurang. Tanah curam berbatu yang terguyur hujan menjadi sangat licin. Ia memaksa kaki lemasnya untuk berhati-hati, meleng sedikit saja bisa-bisa nyawa taruhannya.

Kahar memilih tumpukan cadas di dekat rerimbunan. Dibaringkanlah tubuh kuyunya di sisi bawah batuan itu. Tangannya menggenggam erat ranting-ranting yang boleh jadi tidak akan bertahan lama untuk menahan tubuhnya. Dari bawah sana Kahar dapat melihat para pengejar sudah berada di tempatnya berdiri tadi.

“Bajingan itu pasti turun kebawah.”

“Ah dia tidak mungkin segila itu, dia tidak akan selamat.”

“Dia pasti di bawah sana, kau lihat jejak ini.”

“Sial… Nekat benar dia.”

Di balik rerimbunan, Kahar bisa melihat para polisi perlahan-lahan menuruni tanah curam itu. Dada Kahar seakan berhenti berdetak, pikirannya kalut, rasa takut dan ngeri menyergap dirinya.

“Tamat sudah riwayatku.”

Saat ini ia hanya bisa berharap agar polisi-polisi itu menyerah dan berhenti mengejarnya.

“Kalau malam ini aku selamat Tuhan, tidak lagi aku melakukan pekerjaan ini.”

Sesaat ia teringat pada Latippa, kekasihnya yang mejadi alasan Kahar berada di kota ini. Empat bulan lalu kekasihnya minta segera dikawin. Kalo tidak, bapaknya akan mengawinkan Latippa dengan Marros.

Marros, lelaki pendek, tambun, berkulit legam, rambutnya pirang keriting seperti rebusan mie yang ditumpahkan di kepala, kupingnya baplang, hidungnya seperti moncong babi yang ditransplantasikan di mukanya. Gambaran bentuk yang jauh sekali dari kata menawan. Tapi dia berada. kebun kopi yang luasnya sepanjang mata memandang, bapaknya punya.

Sudah lama Marros ingin menjadikan Latippa sebagai bininya, namun selalu ditolak lantaran cintanya pada Kahar yang tiada dua. Selain juga karena wujud Marros yang tiada berbentuk. Hanya saja waktu terus berjalan tanpa peduli nasib orang-orang di dalamnya. Latippa pun akan terus bertambah umur. Bapak ibunya terus mendesak Latippa agar mau saja dengan Marros. Mereka tidak ingin anaknya menjadi perawan tua karena menunggu lelaki yang tidak jelas masa depannya. Marros juga mampu menyediakan uang panaik[1] yang mustahil datang dari keringat Kahar.

Kahar ciut, kalut, marah. Ia tidak rela kalau kekasih cantiknya dikawin oleh makhluk persilangan gagal dari luwak, codot, trenggiling, dan babi hutan. Tapi ia juga binggung bagaimana dengan biaya kawinnya. Uang panaik yang diminta orang tua Latippa tidaklah sedikit. 100 juta, juga tiga ekor kerbau, dan dua karung beras. Belum lagi biaya pesta hajatan.

Dengan pekerjaannya yang hanya sebagai buruh kebun kopi, butuh waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan duit sebanyak itu. Itupun kalau ia tidak makan. Berhutangpun berkali-kali hasilnya nihil, tidak ada yang percaya kalau ia bisa mengembalikan. Hanya dari mereka ada yang berbaik hati mendoakan, ada pula yang memberi saran.

“Pergilah kau ke Jakarta, kau tahu kan si Toppo? Tiap ia pulang kampung selalu bawa duit banyak. Tahun lalu ia bawa mobil mewah, tak lama ia membeli kebun kopi yang luasnya tidak perlu kau kira, sekarang rumahnya luas bertingkat, bininya pun sudah dibelikan motor baru. Minggu depan kabarnya dia pulang. Kau temui dia.”

Benar saja, Minggu selanjutnya yang ditunggu-tunggu pulang juga.

“Tolonglah beri aku pekerjaan di sana, kau tahu sendiri bukan, penghasilanku tidak bisa diandalkan.”

“Kau benar-benar yakin ikut denganku?”

“Yakin.”

“Apapun pekerjaannya kau akan terima?”

“Tentu.”

“Baiklah, jangan buat aku kecewa ketika di sana.”

“Pasti.”

“Kau paham tentang mobil?”

“Sedikit banyak aku paham, di SMK dulu nilaiku pun tidak buruk.”

“Lusa kita berangkat.”

***

“Ini Mallomo, rekan kerjamu nanti.”

Mallomo mengulurkan tangannya.

“Kahar.”

“Nanti malam kita mulai bekerja.” Kata Toppo.

“Sebenarnya apa pekerjaan kita, kenapa harus nanti malam?”

Toppo merangkul pundak kahar.

“Kita akan mencuri mobil. Pagi nanti hasil kita sudah ditunggu. Kau tentu bisakan membobol mobil?” Toppo berbisik.

“Aaaah.. sudah hilang akal kau rupanya.” Kahar membentak.

Bogem mentah mendarat di perut Kahar. Perutnya nyeri, napasnya sesak.

“Kau akan kubunuh jika berani pulang dan memberitahu warga kampung tentang ini.”

Kahar menyerah.

***

Di bawah sana, di balik rerimbunan, Kahar semakin ketar-ketir. Para polisi itu rupanya tidak menyerah. Ia tidak ingin bernasib sial seperti Mallomo, sudah pincang tertembak, mendekam di kurungan entah berapa lama, lenyap hasil kerjanya.

Polisi-polisi itu semakin dekat, Kahar beringsut menghindar. Tangannya berusaha meraih ranting lainnya. Naas, ranting yang digenggam sebelumnya benar-benar patah kehilangan kekuatannya. Tubuh Kahar meluncur jatuh ke kedalaman kurang. Berguling-guling, terbanting-banting. Berkali-kali kepalanya terbentur bebatuan. Bersama teriakannya, Kahar tenggelam ditelan malam.

Di sebuah kampung jauh dari keramaian Jakarta, seorang perempuan berdiri mematung menghadap senja. Setiap sore, bertahun-tahun. Matanya mengawang kosong, terkadang menitikkan butiran-butiran bening. Ia menunggu seseorang yang tak kunjung pulang. Orang yang sangat dicintai. Orang yang karena kedua orangtuanya terpaksa pergi.

Bayi digendongannya tak henti-hentinya menangis. Terkadang perempuan itu merasa jengkel. Kenapa tidak diam saja dan membiarkannya tenang. Hatinya makin kesal ketika ia lihat muka bayi itu,. Bayi berkulit legam, kupingnya baplang, dan hidungnya seperti moncong babi yang di transplantasikan.

Yogyakarta, 28 Februari 2020.

[1] Uang tebusan sebagai syarat untuk memperistri seseorang dalam adat Bugis

Ahmad Kafii

Ahmad Kafii

Calon Sarjana di Sekolah Tinggi Ekonomi dan Bisnis Islam Al- Muhsin Yogyakarta. Buku yang ditulis, Aku+pikiran=kenyataan, Kumpulan Cerpen ; 1. Gulana. 2. Malam Sabtu Kupu-kupu

View all posts

Add comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *