Ya Allah, Wafatkanlah Aku di Hari Selasa!

Oleh : Mujahidin Nur, Alumni Ponpes Miftahul Muta’alimin, Babakaran Ciwaringin Cirebon, Penulis Buku-buku Best Seller.

Jika engkau melihat seekor semut terpeleset dan jatuh di air, maka angkat dan tolonglah barangkali itu menjadi penyebab ampunan bagimu di akhirat.

Jika engkau menjumpai batu kecil di jalan yang bisa menggangu jalannya kaum muslimin, maka singkirkanlah, barangkali itu menjadi penyebab dimudahkannya jalanmu menuju surga.

Jika engkau menjumpai anak ayam terpisah dari induknya, maka ambil dan susulkan ia dengan induknya, semoga itu menjadi penyebab Allah mengumpulkan dirimu dan keluargamu di surga.

Jika engkau melihat orang tua membutuhkan tumpangan, maka antarkanlah ia barangkali itu mejadi sebab kelapangan rezekimu di dunia.

Jika engkau bukanlah seorang yang mengusai banyak ilmu agama, maka ajarkanlah alif ba’ ta’ kepada anak-anakmu, setidaknya itu menjadi amal jariyah untukmu yang tak akan terputus pahalanya meski engkau berada di alam kuburmu.

Jika engkau tidak bisa berbuat kebaikan Sama sekali Maka Tahanlah tangan dan lisanmu dari menyakiti, setidaknya Itu menjadi sedekah untuk dirimu.—- KH Maemun Zubaer.

Masjidil Haram, Mekah al Mukaromah dipenuhi dengan jutaan jamaah haji yang datang dari berbagai penjuru dunia. Kumandang talbiyah (labaik Allahuma labaik) membahana menggetarkan Arsy Allah Swt. Isakan tangis, lantunan doa dan air mata hamba-hamba Allah yang menghayati setiap kebesaran Allah Swt saling meningkahi, menambah kekhusyukan suasana. Di tengah jutaan jamaah haji itu seorang seorang kiyai sepuh berusia senja (90 tahunan) menaiki kursi roda berthawaf dengan hati bergemuruh. Ia duduk di kursi roda didorong oleh seorang laki-laki muda yang selalu menemaninya. Suaranya lemah karena sepuhnya usia. Di tengah jutaan manusia yang berthawaf, kiyai sepuh itu meminta kepada anak muda yang mendorong kursi rodanya untuk membantunya mencium hajar aswad. Awalnya laki-laki muda itu tidak yakin ia bisa membawa sang kiyai sepuh itu mencium hajar Aswad, namun tiba-tiba sekumpulan laki-laki datang seperti membuat perisai melindungi kiyai sepuh itu sehingga ia bisa sampai ke hajar Aswad. Lama sekali wajahnya terbenam mencium hajar aswad sambil berdoa dengan hati dibaluti keharuan dan mata berkaca-kaca. Dialah mbah Maemun Zubair, ulama yang wajahnya selalu dihiasi senyuman dan menyejukan.

Mbah Maemon Zubaer adalah sosok ulama kharismatik yang sangat tawadhu dan bersahaja; sorot matanya teduh mensiratkan keteduhan hatinya, aura mukanya bersih karena pengaruh (atsar) dari ibadah yang dia lakukan di hadapan Allah Swt. Ia menghabiskan malam dengan penuh kecintaan dalam ibadah yang ia lakukan di hadapan Sang Khalik dan mengisi siang dengan penuh kerinduan kepada Rasulullah. Karena kecintaanya kepada Allah dan RasulNya pula di usinya yang senja dia diterpa badai rindu begitu mendalam untuk menjiarahi baitullah al atiek, Masjid al-Haram dan menjiarahi pusara suci nabiNya, Muhammad Rasulullah.

Di mana pun Mbah Maemun berada dan dalam kondisi apa pun ketika disebut nama nabinya (Muhammad Rasulullah), dia akan mencari tongkatnya (karena ia sulit berdiri) dan dengan susah payah Mbah Maemun berusaha berdiri untuk kemudian dengan lirih dan penuh penghayatan lidahnya mendaraskan sholawat kepada Rasulullah. Tatkala ia bersama santri-santrinya membaca kitab dan bertemu dengan kalimat yang menyebutkan nama Rasulullah, tangannya yang sudah lemah itu melambai-lambai meminta tolong kepada santri-santrinya untuk memapahnya agar bisa berdiri dan membacakan sholawat kepada Rasulullah. Mbah Maemun seakan merasakan kehadiran Rasulullah setiap ada orang yang menyebutkan namanya karenanya ia selalu berusaha memuliakan dan mengagungkan Baginda Nabi Muhammad Saw dengan berdiri dan bershalawat kepadaNya.

Kiyai yang mempunyai tutur-kata lembut seumpama mata air yang jernih dan cadas ini penuh dengan mutiara hikmah dan kearifan karena kedalaman ilmu agama (muta’amik) yang dimilikinya. Walau usianya senja, badannya yang lemah itu tak pernah hilang semangat (ghiroh) untuk menghadiri undangan-undangan masyarakat kecil di gubug-gubug tua atau di rumah-rumah sederhana. Dakwahnya menyentuh semua lapisan masyarakat dari elit negeri ini sampai kalangan masyarakat terbawah yang berada di gang-gang sempit dan dusun-dusun kumuh di seluruh Indonesia. Dengan suaranya yang khas dan lembut tak pernah bosan ia mengajarkan kepada anak-anak negeri ini mengenai pentingnya ukhwah Islamiah (persaudaraan sesama muslim), ukhwah bashariah (persaudaraan sesama hamba Allah) dan ukhwah wathaniyah (persaudaraan sesama anak bangsa).

Selain ibadah ia menghabiskan waktunya untuk menemani dan mendidik ribuan santri yang datang dari berbagai penjuru negeri dengan penuh keikhlasan, siang dan malam tanpa kenal lelah. Dalam salah satu pesannya mengenai dakwah (mengajar) ia berkata, “yang paling hebat dari seorang guru (ustad/kiyai) adalah mendidik dan rekreasi yang paling indah adalah mengajar. Ketika Anda melihat murid-murid yang menjengkelkan dan melelahkan, disitulah hati Anda diuji kesabarannya namun hadirkanlah gambaran bahwa satu dari mereka kelak akan menarik tangan Anda menuju surga.”

Pintu rumahnya selalu terbuka untuk siapa pun yang ingin bersilaturahmi atau menemuinya. Di usianya yang sudah sangat senja (90 tahun) Mbah Maemun tidak pernah berubah; selalu hangat, ramah, dan senantiasa berusaha memuliakan tamunya semampu yang bisa ia lakukan. Ia menemui setiap tamu yang berkunjung ke rumahnya dan menyambutnya dengan senyum mengembang walau pun dia harus menyambut tamunya dengan bantuan tongkat atau dipapah. Dengan telaten ia mendengarkan keluh kesah, cerita dan permintaan nasehat atau doa dari setiap tamu yang mengunjunginya. Bahkan tak jarang ia mengajak tamunya untuk menemaninya mengajar santri-santrinya.

Ketika Anda berada di hadapan beliau Anda akan merasa diri Anda begitu dihargai, dimuliakan dan dihormati oleh beliau karena beliau memegang teguh pesan Rasulullah, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah ia memuliakan tamunya.” Dalam kondisi seperti apa pun, mbah Maemun selalu sabar dan bahagia menemui setiap tamunya. Seakan tidak ada perasaan capek atau lelah dalam memuliakan tamu baginya. Bahkan tak jarang ia menerima tamunya di kamar pribadinya. Karena keinginannya selalu berusaha memuliakan dan membuat bahagia tamunya.

Kiyai yang dikenal kepakarannya dalam ilmu Nahwu-Shorof dan mempunyai penguasaan mendalam pada kitab Syarah Alfiah Ibnu Malik karya Syekh Muhammad bin Abdullah bin Malik al-Andulisy yang merupakan murid Sheikh Ibnu Muthi yang juga menulis kitab dalam masalah Nahwu dan Shorof dengan jumlah 1000 nazhom (bait) ini tak pernah sama sekali mengucapkan kalimat yang tidak baik yang menyakitkan orang lain apalagi sampai menyalah-nyalahkan orang lain. Karena kepakarannya dalam ilmu Nahwu dan Shorof, pengajian Syarah Alfiah Ibnu Malik yang diselenggarakan Mbah Maemun selalu dipenuhi oleh para pengkaji ilmu dan menjadi daya tarik ribuan santri untuk mengikuti pengajiannya.

Di samping kepakarannya dalam masalah Nahwu dan Shorof, Mbah Maemun Zubair juga merupakan ahli tafsir al-Quran dan muhadis (ahli hadis), setiap hari Ahad, ketika mbah Maemun menyelenggarakan pengajian Tafsir al-Quran di pesantrennya, PP al-Anwar, Sarang dibanjiri oleh santri dan para kiyai yang datang dari berbagai penjuru Indonesia. Penguasaan beliau dalam masalah sejarah khususnya sejarah Islam tak diragukan lagi. Dalam pengajian tafsir beliau sering menjelaskan sejarah secara detail dan komprehensif utamanya mengenai sejarah Islam.

Dalam momen-momen mbah Maemun memberikan kajian, beliau sering sekali mengulas mengenai keutamaan hari Selasa dan kecintaanya pada hari Selasa, beliau menceritakan bahwa banyak orang-orang alim yang dipanggil oleh Allah di hari Selasa, sehingga beliau sering sekali minta didoakan agar beliau diwafatkan oleh Allah di hari Selasa. Mbah Maemun menjelaskan bahwa hari Selasa adalah hari dimana Allah menciptakan (menyempurnakan) ilmu dan segala sesuatu di dunia ini. Disamping mbah Maemun juga meminta kepada Allah agar diwafatkan di Makkah al-Mukaromah dan dikuburkan di sana.

Kerinduan untuk menunaikan ibadah haji pada tahun 2019 ini dirasakan begitu kuat oleh Mbah Maemun, ia merasa Allah memanggilnya untuk kembali ke tanah suci dan kembali keharibaanNya selama-lamanya. Dua hari sebelum mbah Maemun meninggal, mbah Maemun meminta doa kepada orang yang menemuinya di kamar hotel, agar beliau diwafatkan oleh Allah Swt dalam keadaan khusnul khotimah. Pagi sebelum subuh langit di atas Masjidil Haram mendung pekat untuk kemudian hujan turun rintik-rintik tatkala waktu duha tiba beberapa saat sebelum mbah Maemun menghembuskan nafas terakhir meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Usai dimandikan, dikafani dan dishalatkan di Masjid al-Muhajirin jasad kiyai sepuh berakhlak luhur ini pun dikebumikan di pekuburan al-Ma’la di tempat dimana sebagian keluarga Rasulullah (bani Hasyim) seperti istri Rasulullah Sayidah Khadijah al-Kubro, paman Rasulullah, Abu Thalib, kakek Rasulullah Abdul Muthalib dan lain-lain. Karenanya masyarakat Mekah menyebut pemakaman yang terbentang di Jabal Asayidah ini sebagai pekuburan leluhur Rasulullah.

Selalamat jalan kiyaiku, sungguh jiwa burung bangau telah pergi, musim semi telah datang! Di manakah engkau? Dunia telah mekar dan dengan daun-daun indah dan mawar nan rupawan. Keabadian hanya milik Allah, Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun. Tetesan air mata ketika menulis ini, menjadi bukti bahwa kami sungguh mencintai dan mengagumimu! **

Jakarta, Selasa, 2019

Belajar Kepada Katak

 

Oleh : Muhammad Muhibbuddin*

Ada yang menarik, sewaktu di kelas Ciritcal Reading, ketika masih mengikuti program English Extension Course (EEC), di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.  Dalam kelas tersebut, para mahasiswa yang jumlahnya sekitar 15 orang disodori tek-teks bacaan berbahasa Inggris dalam berbagai bentuk, ada yang berbentuk puisi (poem), cerita atau dongeng (fairy tale) dan artikel populer (popular article).  Topik yang diangkat oleh semua bacaan tersebut adalah soal katak (frog). Teks yang agak sulit dipahami adalah puisinya David Barton, seorang sastrawan plus fotografer, yang berjudul Frogs, mengingat gaya (style) tulisan Barton banyak menggunakan  bentuk bahasa dan metafor yang beragam dan unconventional.

Di antara berbagai jenis bacaan tentang katak di atas, ada dua teks yang menarik yaitu The Frogs (Anonym) yang berbentuk cerita dan Accept The Fact That You Are Only A Frog In A Well,  karya Bashyam Narayanan, yang berbentuk puisi.  Dua teks ini menarik karena, disamping mengandung nilai-nilai filosofis, juga memberikan perspektif baru dalam memandang kehidupan. Selain itu, juga mengandung nilai-nilai motivasi, spirit dan dorongan (encouragement) untuk menjadi lebih baik.

Dari Lubang Hingga Samudera

Dalam teks The Frogs diceritakan bahwa ada sekawanan katak yang sedang melakukan perjalanan dengan melintasi kekayuan. Dua dari mereka tergelincir dan jatuh ke dalam lubang yang dalam (deep pit).  Melihat dua kawannya terjerumus ke dalam lubang, katak-katak yang lain kemudian bergerombol di sekitar lubang tersebut.  Ketika kawanan katak ini melihat dua temannya meloncat-loncat hendak keluar dari lubang yang memerangkapnya itu, mereka menyerukan supaya  dua temannya yang kena sial itu lebih baik diam saja di dalam lubang itu, tidak perlu berusaha keluar. Namun kedua katak tersebut mengabaikan seruan teman-temannya itu. Kedua katak itu tetap melompat-lompat sekuat tenaga untuk berusaha keluar dari lubang.

Karena dianggap tidak mempedulikan seruannya itu, kawanan katak itu memberi seruan lebih keras lagi terhadap kedua temannya tersebut bahwa keduanya jangan mempunyai keinginan keluar dari lubang tersebut, berhenti meloncat-loncat, lebih baik mati di dalam lubang itu saja.  Tidak diketahui kenapa kawanan katak itu bukannya memberikan dukungan terhadap dua kawannya yang kena bencana itu untuk keluar dari lubang sial tersebut, malah  menganjurkannya untuk tetap tinggal di dalamnya sampai mati. Kejam.!.

Seruan kawanan katak tersebut didengarkan oleh salah satu katak yang ada di dalam lubang itu,sehingga ia pun berhenti melompat. Akibat terpengaruh seruan dari kawan-kawannya yang ada di atas lubang itu, pupus sudah usahanya untuk keluar. Menyerah. Akhirnya mati di dalam lubang. Sementara katak yang satunya  tetap terus meloncat  sekuat tenaganya untuk keluar lubang. Ia tidak menyerah sedikit pun. Hingga akhirnya dengan kerja keras dan usahanya yang tanpa lelah itu, meski diliputi beragam keterbatasan, dirinya bisa keluar dari lubang dengan meninggalkan temannya yang sudah mati di dalamnya.

Ketika dirinya mampu keluar dari lubang tersebut, kawan-kawannya yang menyerukan untuk tetap diam di dalam lubang tersebut terheran-heran dan bertanya kenapa katak yang selamat itu tetap melompat dan berusaha keluar, apakah ia tidak mendengarkan seruan teman-temannya itu? “Didn’t you hear us?”,  begitulah pertanyaan kawanan katak itu kepada temannya yang berhasil keluar dari lubang mematikan tersebut. Katak yang selamat itu cukup menjawab: “Aku tidak mendengarkan seruan kalian”.

Teks berikutnya berupa puisi hasil karya Bashyam Narayanan. Melalui puisinya ini Narayanan secara implisit menegaskan bahwa manusia itu, setinggi apapun ilmunya, seagung apapun kekuasaannya dan sebesar apapun reputasinya,  akan seperti katak di dalam sumur (in a well),  jika tidak berusaha memahami dan menjangkau realitas dan kebenaran tertinggi (the ultimate reality), yang laksana samudra (ocean).

Dalam sebait puisinya, Narayanan menyatakan: However much learnned we are//,However big our possession are//, However large the kingdome we rule// However wide our popularity is//,However deep our knowledge is//, However widespread our domain is//, We need to accept that//,We are no better than a frog//, in a well……….we, with our sixth sense//, Can comprehend what ocean can be//, and need to be on continous effort//, To understand the ocean//, And reach there, // The ultimate reality.

Abaikan Pikiran Negatif, Jadilah Lautan!

Dari kisah katak di atas, bisa ditarik sebuah pelajaran bahwa manusia perlu mengabaikan atau mengenyahkan pikiran negatif  jika hendak  mencapai tujuan besarnya. Pikiran negatif dalam bentuk cemoohan, bullying, hinaan, narasi negatif dan sejenisnya dari siapapun merupakan racun pembunuh. Karenaanya di antara langkah terbaik untuk menanggapi cemoohan, hinaan, hujatan, kenyinyiran dan pikiran negatif lainnya adalah mengabaikannya. Beragam narasi negatif, penilaian miring, ujaran kebencian dan sejenisnya jangan “dimakan”, cukup abaikan, tidak perlu didengarkan dan (jika ada) ambil sisi-sisi positifnya saja.

Tidak semua omongan orang bersifat membangun dan mengarahkan ke hal yang positif. Sebagiannya justru bersifat melemahkan dan menyesatkan. Karenanya, tidak perlu ditanggapi omongan orang yang cenderung menghambat, menghalang-halangi bahkan menggagalkan tindakan baik kita. Jika langkah kita memang sudah benar dan tujuan kita baik, campakkan segala hal negatif yang terlontar dari mulut orang lain atas kita. Hanya  pikiran positif yang perlu direspon.; hanya seruan dan narasi yang membangun dan memberi nilai manfaat yang perlu didengarkan.

Berpikir positif, kata Norman Vincent Peale merupakan pola berpikir yang terbiasa mencari hasil-hasil terbaik dari kemungkinan-kemungkinan terburuk. Di era social media  sekarang ini, beragam bentuk pikiran negatif, dari bullying hingga hinaan yang tak manusiawi sering berseliweran. Untuk mencapai tujuan besarnya, seseorang tidak boleh terpengaruh, apalagi terprovokasi dengan ujaran negatif tersebut. Seseorang cukup fokus pada hal-hal yang positif di tengah menyeruaknya beragam hal yang negatif.

Ada sebuah pandangan yang menyatakan bahwa diri kita sebagian atau bahkan keseluruhan terbentuk karena penilaian orang terhadap kita. Eksistensi kita tidak sepenuhnya terkonstruk dari dalam (from within), melainkan juga dari luar (from without), diri kita. Karena itulah, kita perlu selektif dalam menaggapi hal-hal dari luar, termasuk penilaian dan seruan orang lain, yang berhubungan dengan diri kita. Jika orang lain merasa bebas berpendapat apa saja terhadap diri kita, kita pun bebas untuk merespon atau mengabaikannya. Menghadapi pandangan orang lain yang cenderung negatif terhadap diri kita, prinsip kita simpel saja: biarkan anjing menggongong, kafilah tetap berlalu.

Langkah lainnya supaya tidak terpengaruh pikiran negatif, seorang individu perlu mempunyai kualitas pikiran dan jiwa yang samudra, bukan pikiran yang sempit. Hanya pribadi berkualitas samudra, kata Nietzsche, yang mampu menampung hal-hal yang baik maupun yang brengsek. Artinya, pribadi yang samudra tidak akan terpengaruh apalagi larut ke dalam pikiran dan narasi negatif yang datang menyerbunya. Untuk menjadi pribadi yang samudra, seseorang perlu belajar untuk mencapai pada realitas tertinggi (the ultimate reality).

Dari sinilah barangkali pentingnya tasawuf yang salah satu tujuannya mengantarkan seseorang untuk mencapai realitas hakiki yang luasnya sungguh tak bertepi, sehingga jiwa dan pikirannya bisa seluas samudra, dan karenanya sanggup mengakomodir segala hal tanpa harus dirinya terpengaruh olehnya. Sepanjang manusia tidak mampu mencapai hakekat kenyataan yang mahaluas ini,selama itu pula ia menjadi katak di dalam sumur; jiwa dan pikirannya sempit sehingga mudah goyah dan termakan pikiran negatif, terutama  pikiran negatif yang berasal dari luar dirinya.

*Muhammad Muhibbuddin adalah alumnus filsafat UIN Sunan Kalijaga dan English Extension Course (EEC), Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Ketentuan Naskah Program Penerbitan Gratis untuk Guru Madin

Salam silaturrahim, kami informasikan kepada bapak/ibu guru Madin, berikut ketentuan naskah untuk program penerbitan bagi Guru Madin di seluruh Indonesia :

  1. Judul
  2. Nama Penulis
  3. Sinopsis
  4. Daftar Isi
  5. Kata Pengantar
  6. Isi Naskah
  7. Daftar Rujukan (Boleh tanpa Daftar Rujukan untuk karya Fiksi)
  8. Biodata Penulis
  9. Testimoni (Bila Ada)

Jika naskah sudah disusun rapi sebagai mana tersebut di atas, selanjutnya :

  1. Kirimkan naskah yang sudah disusun sesuai urutan di atas (format file Word) dengan melampirkan surat keterangan aktif mengajar di Madin yang ditandatangani oleh Kepala Madin Setempat. (format file Pdf) ke email : redaksi@belibispustaka.com

 

Catatan :

  1. Tidak ada seleksi naskah dalam Paket Penerbitan Guru Madin ini, kecuali apabila ada naskah yang tidak sesuai dengan ketentuan yang sudah tertera di https://belibispustaka.com/kirim-naskah/ maka Penerbit akan mempertanyakan originalistas naskah kepada penulis ybs
  2. Paket penerbitan ini hanya berlaku satu naskah untuk satu guru Madin
  3. Naskah yang sudah diterbitkan menjadi hak milik penerbit
  4. Penerbit tidak menerima revisi cover atau revisi layout dari penulis
  5. Penerbit tidak menanggung biaya ongkir untuk pengiriman buku ke penulis
  6. Penulis hanya menerima 5 eks buku yang diterbitkan
  7. Penulis bisa mengajukan jumlah oplah cetak lebih dari ketentuan program Guru Madin, dengan catatan biaya cetak tidak menjadi tanggung jawab penerbit
  8. Naskah yang menjadi prioritas dalam program Guru Madin ini adalah naskah terjemah karya ulama nusantara yang diajarkan di Madin
  9. Naskah yang dikirim setelah batas ketentuan tanggal 8 Agutus 2019, dengan berat hati penerbit tidak bisa menerima.

Mahalnya Sebuah Informasi

Oleh : Hanif Nanda

” Segala yang ada di dalam dunia ini, terdiri atas dua bagian”

Potongan lirik lagu Wiro Sableng itu mengingatkan saya tentang film yang dibintangi oleh Tom Cruise. Yap, Mission Impossible. Film itu dan Tom Cruise, bagai dua hal terpisah namun saling membutuhkan, yang berlainan namun merupakan pasangan -lanjutan lirik lagu Wiro Sableng tadi. Nah kira-kira apa yang menarik dari film bertema intelijen, mata-mata, atau apalah itu sebtutannya?

Bagi penggemar Tom Cruise pasti tidak asing dengan film Mission Impossible. Teranyar, franchise yang cukup sukses itu merilis judul Fallout. Dengan Tom Cruise sebagai lakon utama, film itu mengisahkan petualangan Ethan Hunt (Tom Cruise) yang sedang mencari tiga inti plutonium dan mencegahnya jatuh ke tangan organisasi teroris bernama Apostles. Dari informasi yang didapat oleh Hunt, organisasi teroris itu berencana menggunakan tiga inti plutonium itu untuk membuat bom nuklir. Tiga bom nuklir yang cukup untuk memusnahkan populasi dunia dan menggantinya dengan tatanan dunia yang baru. Dan khas film bertema intelijen, film ini dibangun dengan pondasi serangkaian intrik, konflik kepentingan bahkan pengkhianatan.

Selain itu, Fallout juga bertema sama dengan film-film Mission Impossible sebelumnya yang mengisahkan bagaimana Ethan Hunt (Tom Cruise) menerima sebuah misi namun tak terselesaikan dengan sempurna, lalu Hunt berusaha memperbaiki dengan caranya sendiri. Dengan cara itu Hunt seringkali dianggap sebagai pengkhianat hingga di akhir film terbukti bahwa apa yang dilakukan oleh Hunt adalah semata demi misinya terselesaikan. Tentu upaya Hunt tersebut tidak dilakukan oleh Hunt sendiri melainkan dibantu oleh beberapa rekan pendukungnya yang setia.

Selayaknya film intelijen, Fallout menampilkan banyak item berteknologi canggih. Mobil yang bisa dijalankan dengan ponsel pintar, alat pencetak topeng wajah, atau alat pendeteksi lokasi yang disuntikkan ke leher manusia. Alat-alat canggih itu tentu menambah keseruan tersendiri ketika menonton film, selain aksi yang ditampilkan para aktor. Dengan alat-alat itu pula kegiatan intelijen Hunt dan teman-temannya menjadi mudah. Namun, demi apa penggunaan perangkat high-tech tersebut digunakan, apalagi dalam film tema intelijen? Tentu tidak lain demi mendapatkan informasi, berita, atau apa pun sebutannya.

Saat pertama membuka mata dari tempat tidur, yang dicari oleh manusia adalah informasi. Saat pertama ayunkan langkah dari tempat tinggal, yang ditunggu pertama kali adalah berita. Ketika pertama duduk di tempat nongkrong, yang ingin didengar adalah informasi, berita. Bagaimana kabar sanak saudara di tanah rantau. Bagaimana kabar teman, rekan yang sudah berumah tangga. Bagaimana kabar guru yang sudah mulai renta. Bagaimana kabar orang tua yang sedang menikmati waktu senjanya. Bagaimana kabarmu juga, sayang?

Perkembangan teknologi yang sedemikian pesat tentu memudahkan orang untuk mendapat informasi. Lewat ponsel pintarnya, orang bisa mencari resep masakan kekinian, mencari barang yang ingin dibeli, mencari rumah untuk ditinggali dan sebagainya. Ibarat luas dunia hanya seujung sentuhan jari.

Segala keperluan bisa terpenuhi dengan ayunan jari. Tapi bagi sebagian orang, apalagi yang menginginkan informasi atau berita penting, tidaklah cukup hanya mengayunkan sebagian anggota tubuhnya, jari misalnya. Butuh strategi yang matang, perencanaan yang tidak sebentar bahkan waktu yang panjang untuk mendapatkan informasi atau berita.

Dari Fallout dan film bertema intelijen lainnya memberi sedikit gambaran bahwa untuk mendapat informasi atau berita penting tidaklah mudah. Ada harga mahal yang harus dibayar demi hal tersebut. Ada keringat, air mata bahkan darah yang dijadikan taruhan. Semua itu hanya demi bagaimana informasi dan berita dapat diperoleh seakurat dan secepat mungkin. Keakuratan informasi adalah bagian vital dan sangat penting. Selain mahal, keakuratan informasi dapat mempengaruhi keputusan seseorang. Dalam lingkup yang lebih besar, dari informasi atau berita, keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak diputuskan atau ditentukan. Lalu, informasi apa yang ingin kita dapatkan hari ini? Wallahu a’lam.