Sebuah Peti Jenazah

Oleh: Anas S. Malo

Saat aku sedirian di tengah larut malam dan angin berembus pelan, langit pun penuh kilatan, aku masih bertanya-tanya, siapa yang mengajariku tentang ketakutan?

Bila malam telah sempurna, apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang?  Membungkus tubuh dengan selimut?  Atau menghangatkan tubuh dengan pelukan? Tidak untukku. Aku berteduh di emperan toko kelontong yang masih tertutup dengan tirai bergaris hitam merah. Angin bersiur gigil bulan Januari. Lengang terhampar di sepanjang jalan Paris. Lampu jalan bercahaya kuning-kuningan, sedangkan lampu merah terus menyala di sela-sela waktu tanpa henti, meski tak ada kendaraan yang berhenti.

Udara dingin mengigilkanku. Pepohonan terguyur hujan dan berkali-kali terdengar seperti dikoyak angin. Aku menunggu gerimis berhenti. Beberapa menit berselang, gerimis berubah hujan deras. Ketukkan atap bersuara nyaring tanpa jeda. Menimbulkan pikiran jauh melayang-layang mencari sesuatu di masa lalu— menemukan kenangan yang tidak perlu dicari. Sebelum aku pergi malam tadi, aku sudah punya firasat akan terjebak hujan. Dari keseringan itu, aku tidak begitu asing dengan yang saat ini aku alami. Tersedia seonggok kursi panjang di teras toko. Aku duduk, sambil menunggu hujan reda.

Aku melihat beberapa poster dan bendera partai yang dipasang di sepanjang jalan, “Jadikan tahun politik damai dan sejuk.” Itulah beberapa di area jalan bertulis seperti itu. Suara ayam jantan sesekali berkokok dari jauh, berasal dari perkampungan. Terjebak hujan tidak menjadi masalah bagiku, tetapi terjebak dalam lingkaran politik yang hanya mengobral janji-janji, dan narasi-narasi yang negatif untuk rakyat untuk apa dilakukan? Gumamku dalam kepungan gemuruh hujan.

Aku selalu bertanya-tanya, mengapa pada saat ini, bangsa ini tidak ada lagi figur sesosok Soekarno yang begitu heroik, membangkitkan semangat rakyat. Pula dengan Mohamad Yamin yang punya ke dalam menyusuri nusantara sampai bagian terdalam. Sebelum 6000 tahun yang lalu, di zaman nusantara purbakala, sudah memuja matahari yang dilambangkan sebagai warna merah dan memuja bulan sebagai perwujudan lambang putih. Atau Tan Malaka yang berkobar-kobar, “ingatlah, dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras dari pada atas bumi.” Itulah yang aku pahami lewat buku bacaanku awal-awal semester.

Hujan hendak berhenti. Sementara di sebelah kiri jalan ke arah barat, aku melihat sesuatu yang berjalan. Semakin lama semakin mendekat. Aku dibuat tercengang oleh anjing buduk, berjalan pincang. Badannya kurus kering. Matanya bengkak sebelah. Kulitnya yang banyak bopeng luka belum kering. Warna bulu coklat kombinasi merah yang basah akibat air hujan begitu menyedihkan.

Anjing itu berjalan tertatih-tatih melewati toko-toko dan bangunan-bangunan. Aku hampir satu jam menunggu hujan reda. Aku menatap. Ia menatapku mengiba, seraya menggonggong pelan. Pelan sekali. Seperti mengatakan bahwa ia adalah makhluk paling menderita yang diciptakan Tuhan di muka bumi ini. Aku menduga, itu pasti ulah warga kampung yang membenci anjing. Kebencian lebih menakutkan dari pada maut. Tetapi, anjing juga makhluk Tuhan yang berhak untuk dihargai, seperti makhluk Tuhan yang lain.

Aku mengikuti langkah anjing itu. Sebenarnya aku tidak bermaksud untuk membuntuti anjing itu. Lama-kelamaan, aku merasa kasihan melihat langkah anjing itu yang terhuyung-huyung. Tampak berat. Hujan sepenuhnya reda. Memasuki waktu dini hari, aku tiba di sebuah gang kecil kumuh dan kotor dan kemudian masuk ke sebuah lorong kecil, gelap namun ada tepias cahaya lampu yang bisa menebusnya. Aku tertarik dengan anjing itu, sampai aku rela mengikuti anjing penuh bopeng luka itu. Di sebuah tempat yang gelap, kotor dan bau, aku mendapati empat ekor anak anjing yang baru berumur sekitar tiga hari atau empat hari di dalam kardus.

Aku semakin iba dengan anjing dan empat ekor anaknya. Aku baru mengerti, jika anjing itu seorang induk yang mencari makan untuk mengisi air susu yang akan diberikan ke empat ekor anaknya yang mungil sekaligus terancam kelaparan. Anjing itu berusaha melompat di atas kardus bekas penyedap rasa makanan. Pelan. Ia melihatku, kaki depan bagian kanan anjing itu patah di pergelangan telapak kaki, sehingga harus melompat dengan menggunakan ketiga kakinya.

Dalam gelap, aku melihat, suara nafas ringkih. Berat. Beberapa cuitan kelelawar terdengar— terbang ke sana ke mari. Terdengar suara menggema dari benda jatuh. Jantungku menggedor. Ada yang menyentuh mata kakiku— menggelitik. Spontan, aku meronta, geli. Setelah aku lihat ternyata seekor tikus mengendus mata kaki. Aku merasa, kalau tempat ini  sangat buruk.

“Untuk apa kau datang ke tempat ini?” Suara itu tiba-tiba datang di kegelapan ruang ini. Suara itu begitu lirih dan menyeramkan. Aku semakin takut. Aku meraba-raba tembok dan tidak ingin mencari sumber suara itu.

“Siapa kau?” tanyaku, berusaha melawan rasa takut.

Sesosok wanita muncul di kegelapan. Berjalan perlahan, menghampiriku dengan bantuan tongkat. Wajahnya tidak jelas, karena gelap. Ketukkan tongkatnya terdengar jelas.

“Siapa kau?” tanyaku lagi.

“Apa yang kau lakukan di tempat ini, wahai pelacur?”

“Aku hanya mengikuti anjing itu, karena aku kasihan dengannya. Dan, pada akhirnya anjing itu membawa aku ke tempat ini. Apakah anjing itu peliharaanmu? ”

Sementara malam sudah berangsur-unsur memudar. Beberapa ayam jantan berkokok. Suara ceracau burung-burung senantiasa menyambut pagi. Suara wanita itu lenyap bersama bayangnya. Aku mencoba memanggil-manggil wanita itu. Fajar mulai menyingsing, condong bersinar dari arah timur, merah kekuning-kuningan. Aku mendekat ke arah anjing itu. Induk anjing mendekap anak-anaknya.

Anjing-anjing itu tampak gelisah. Menggelendot ke bagian selangkangan, menyusur bagian tubuh, mencari puting induk. Cahaya pagi menembus sela-sela genteng bocor. Di tempat ini hanya ada cericitan tikus, dan kelelawar, serta lengusan anak-anak anjing. Tak lebih dari itu. Perihal ada wanita tua yang lenyap ditelan gelap, aku masih menyimpan kejanggalan. Dari mana asal wanita yang tidak tampak wajahnya itu. Dan, dari mana ia masuk ke ruangan ini.

Sementara induk anjing itu tak bergerak sama sekali. Aku menggoyang-goyangkan tubuhnya, tetapi tak ada gerakan. Tubuhnya dingin. Aku curiga. Memang benar apa yang aku takutkan benar terjadi. Anjing itu tewas dengan posisi mendekap anak-anaknya. Ini adalah keadaan yang menyedihkan bagi empat ekor anak anjing itu. Aku merasa iba. Aku ingin merawatnya – membawanya pulang ke rumah sebagai hewan peliharaan.

Di tempat itu, ada beberapa ruangan. Aku berjalan bergegas keluar dari tempat itu. Tetapi aku menaruh perasaan penasaran terhadap salah satu ruangan yang begitu menarik perasaanku. Ya, ruangan misterius itu. Ruang yang penuh sarang laba. Ruang yang kedap udara.

Aku masuk ke dalamnya, membawa kardus  berisi empat bayi anjing. Sementara bangkai sang induk, aku biarkan di lantai. Aku meletakkan kardus itu. Terdapat sebuah peti jenazah. Aku melihatnya dari kejauhan. Aku mengendap seperti sedang mengintai target buruan. Ada banyak alat laboratorium. Tabung reaksi, elenmeyer, gelas ukur tampak membeku. Buiret dan fortex juga demikian. Beberapa larutan NaCL dan Buffer masih terletak di atas meja. Aku terus menyusuri, menuju peti jenazah itu. Penasaran. Perlahan aku membuka tutup peti itu. Agak berat. Aku terkejut, ketika mataku mendapati perempuan tua itu ada di dalamnya. Pucat pasi. Sembujung, tangan tertelungkup, mata terpejam.

*Anas S. Malo, lahir Bojonegoro, belajar di Universitas Nahdhlatul Ulama Yogyakarta, aktif di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY), karya-karyanya sudah tersiar di media lokal maupun nasional.

Lelaki yang Tergeletak di Rumah Pelacur

Karya : Nizar Loj

***

Entah mengapa satu bulan belakangan ini aku begitu kacau. Tak pernah pulang ke rumah, hidupku habis di makan malam. Untung saja aku bertemu Kang Rahman. Ia menuntunku agar kembali mengerjakan perintah-perintah Tuhan.

Perjumpaanku dengan Kang Rahman bermula saat aku tersungkur, mabuk di emperan tempat pelacuran. Ia menolongku dan membawaku ke sebuah kamar di sudut masjid al-Amin. Di situlah kang Rohman tinggal. Ya, dia adalah takmir di masjid itu.

“Gimana Mas Reza baik-baik saja? Diminum dulu Mas tehnya. “Kang Rohman menyodorkan segelas teh hangat ke hadapanku. “Sampean siapa? Kenapa saya bisa ada disini? Sampean kok tahu nama saya?”

“Tenangkan dulu pikiran sampean Mas. Saya Rahman, takmir masjid disini. Sekarang sampean ada di kamar saya, kamar takmir. Saya tahu nama sampean dari orang-orang yang ada di tempat pelacuran itu Mas.”

“Kenapa orang alim kayak sampean bisa ada di tempat itu mas?” aku berhambur dari tempat tidur, nyeruput teh hangat yang mulai mendingin. Kang Rohman hanya tersenyum, tak menjawab pertanyaanku. Ia bergegas ke masjid untuk adzan dzuhur. Aku melongo kebingungan, sambil membayangkan semua prasangka burukku tentang Kang Rohman dan tempat pelacuran itu.

Setelah sholat dzuhur Kang Rahman membawakanku handuk, sarung, dan baju lengan panjang. “Sampean muslim kan? Mandilah kemudian sholat!” Aku mengangguk dan segera bergegas dari kamar berukuran 3×3 meter itu.

Selepas shalat dzuhur aku dan Kang Rahman duduk di serambi samping masjid. Sambil sesekali menikmati kicau burung murai Kang Rahman yang dibelinya sebulan lalu. Kebetulan kita sama-sama kicau mania, alias penggemar burung kicau.

“Sampean belum menjawab pertanyaanku tadi Kang!” sambil nyeruput kopi yang barusan di sedu kang Rohman. “Saya aktif di LSM mas. Kebetulan saya dapat tugas untuk penyuluhan rutin tiap hari selasa di tempat itu.” “Jadi sampean ngasih ceramah di hadapan para pelacur itu?” aku semakin tertarik dengan topik ini. “Bukan ceramah mas, lebih tepatnya pendekatan, pemberian pemahaman, dan motivasi. Mereka melakukan pekerjaan itu bukan semata-mata karena lemahnya iman mereka. Di luar itu ada banyak faktor, dan yang paling mendasar adalah kebutuhan ekonomi. Di antara mereka ada yang di tinggal suaminya, dan ia harus menghidupi tiga orang anaknya yang masih kecil. Realistis meman, uang harus ia dapatkan demi kelangsungan hidup dan pendidikan anak-anaknya.”

Aku semakin mengagumi Kang Rahman. Padahal aku tipikal orang yang cuek, tidak mudah kagum kepada seseorang. Tapi kali ini kang Rahman mematahkan karakterku dengan sikap dan cara bicaranya yang cukup berwibawa.

“Kenapa sampean ada di tempat itu Mas?” aku kaget bukan main, mataku terbelalak. Tak menyangka Kang Rahman akan menyodorkan pertanyaan itu kepadaku. “Anu mas..” aku bingung harus mulai cerita dari mana. “Santai saja Mas, saya akan mendengarkan dan menerima semua penjelasan sampean.”

Ku hela nafas dalam-dalam. Dan memastikan bahwa pasokan oksigen di otakku masih sangat cukup, agar aku bisa menceritakan yang sesungguhnya dengan cukup tenang. “Aku kacau mas, tujuanku kesitu memang ingin njajan. Sebelumnya aku dipecat dari kantor tempatku bekerja karena manipulasi data, pembuatan outlet abal-abal. Padahal aku cuma ada 5 outlet abal-abal, sedangkan temanku yang lain puluhan outlet Mas yang dimanipulasi. Dan hampir semua temanku sekantor melakukan itu. Tapi kenapa cuma aku yang dipecat, padahal aku harus menghidupi ibu dan adikku. Sedangkan teman-teman kantorku kebanyakan anak orang yang berada. Tak sedikit dari mereka yang bekerja hanya agar tidak terlihat nganggur di rumah dengan predikat sarjananya.”

Aku terus saja nyerocos seperti kesetanan” Dimana Tuhan yang katanya Maha Adil itu? Kenapa Tuhan menciptakan penderitaan ini pada seseorang yang mati-matian ingin menghidupi ibu dan adiknya. Kenapa tidak pada mereka yang bekerja cuma karena gengsi. Kalau Tuhan Maha Kuasa, kenapa tidak Dia ciptakan kebahagiaan saja. Untuk apa Dia ciptakan kesengsaraan dan kesulitan? Dimana Kau Tuhan, aku ingin melihatMu saat ini juga. Atau Tuhan itu hanya cerita fiksi yang diriwayatkan dari mulut ke mulut oleh moyang kita, dan menjadi sebuah keyakinan di masa anak cucunya.”

Plaakk.. Sebuah tamparan mendarat di pipi kiriku. Kang Rahman melotot, seakan setan yang barusan mendukungku kini pindah ke kubu Kang Rahman. “Sampean masih punya ibu dan adik yang bisa Sampean banggakan, sedangkan aku ditinggal mati kedua orang tuaku saat aku dan adikku masih berusia belasan tahun. Sejak saat itu aku dan adikku harus bertarung dengan kehidupan yang kejam. Sejak saat itu hingga dua tahun yang lalu aku sama sekali tidak percaya Tuhan. Tapi setelah aku sering mampir ke Masjid ini dan sesekali mengikuti pengajian, aku jadi berfikir apa yang akan terjadi setelah aku mati nanti. Apakah ia semua rasa dan nalarku juga akan mati, atau malah berkelana tanpa jasad untuk terus menjalani takdir sebagai makhluk yang hidup di alam lain, dimensi lain, spektrum lain. Dan sejak itu aku menyimpulkan bahwa di balik semua ini ada kekuatan yang Maha Dahsyat yang di sepakati oleh khakayak sebagai Tuhan. Sekarang hidup siapa yang lebih nestapa Mas, hidupku atau hidupmu?”

“Maafkan aku Kang” aku menunduk dan dalam hati mengiyakan bahwa hidup kang Rahman jauh lebih sulit dari hidupku. “Tamparanku tadi tidak serta-merta karena aku emosi pada sampean, tapi aku ingin menunjukkan bahwa untuk menunjukkan rasa sayang dan perhatian terkadang harus dilakukan dengan cara yang menyakitkan. Begitulah salah satu cara Tuhan menyayangi sampean, dengan memberi sampean cobaan. Dan dibalik itu tersimpan hikmah yang indah jika hati kita tabah dan ikhlas, serta tidak berhenti mengimaniNya.”

Aku berhambur memeluk kang Rahman.” Maafkan aku Kang.” kami nyeruput kopi yang tak lagi mengepulkan asapnya, entah karena lelah mendengar perdebatan kami, atau karena takut pada kami yang seakan kerasukan setan. Yang pasti kopi itu sedikit menenangkan kami, dan membantu kami untuk menstabilkan nafas yang mulai terengah-engah, seperti nafas ibu-ibu yang hendak melahirkan.

Setahun berlalu, singkat cerita aku dan Kang Rahman sedang berangkat ke tanah suci untuk melangsungkan ibadah umroh. Kami diberangkatkan oleh salah satu jama’ah masjid al-Amin yang sangat dermawan. Kami berangkat dari Surabaya, transit di Jakarta, kemudian meluncur ke Jeddah. Dalam waktu 9 jam kami telah sampai di Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Udara sangat sejuk, kebetulan bulan-bulan ini sedang musim dingin di sini. Kami bergegas menuju ruang ganti bandara untuk mengenakan pakaian ihram. Kemudian kami naik bus menuju Makkah al Mukarromah.

Saat mengitari ka’bah aku menangis haru, masih tak percaya bisa berkunjung ke tanah suci di usia yang cukup muda. “Ya Allah hamba ini hina, hamba pernah berbuat dosa besar, tidur dengan wanita malam. Hamba juga pernah mengingkari keberadaanMu. Akankah Engkau terima ibadahku ini Ya Allah?” hatiku terus bergumam, meratapi segala dosa yang kini kusesali dalam-dalam. Kupejamkan mataku sambil terus melafalkan” Labbaik Allahumma Labbaik”.  Mengikuti arus jama’ah yang mengitari ka’bah.

Sekelebat kulihat wajah Mawar di kerumunan para jama’ah. Mawar adalah wanita yang dulu selalu menemaniku saat aku datang ke tempat pelacuran itu. Wajah Mawar terlihat begitu jelas, sorot matanya seakan memanggilku. Senyumnya yang masih saja hangat kuingat seperti beberapa tahun lalu.

Kupejamkan lagi mataku dalam-dalam. “Ya Allah pertanda apakah ini, apakah itu benar wujud Mawar yang sedang melakukan thawaf, atau hanya halusinasiku saja? Hamba terlanjur mencintai Mawar Ya Allah, meski perjumpaan kami sangatlah hina, tapi entah rasa itu memang ada. Tunjukkan Aku jalan lurusMu Ya Allah. Murnikanlah niat dan hati hamba, agar hamba bisa khusyu’ beribadah kepada-Mu Ya Allah.”

Kuberanikan diri untuk kembali membuka mata. Lamat-lamat kulihat wajah Mawar dengan baju putih lengkap dengan stetoskop menggantung di lehernya. “Alhamdulillah, sudah sadar pasiennya dok.” ucap dokter muda berparas cantik itu, kulihat name tag yang terpasang dibajunya bertuliskan Mawar Kumala Sari. Aku masih bingung dengan apa yang terjadi, ku kerdipkan berulangkali mataku masih saja yang kulihat adalah dokter Mawar. Dari arah yang berlawanan muncul dokter paruh baya, dengan name tag di dadanya bertuliskan Abdur Rahman Ad-Dakhil.

Dokter Mawar menceritakan semuanya kepadaku. Bahwa seminggu yang lalu aku mengalami kecelakaan di jalan Kertanegara. Penyebabnya adalah motor yang kukendarai tiba-tiba oleng ke kanan dan tertabrak oleh mobil dokter mawar yang hendak menyalip dari belakang. Dokter Mawar langsung membawaku ke Rumah sakit karena ada pendarahan yang cukup parah di kepalaku. Sudah seminggu aku terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit.

Aku bergumam, “Terimakasih Ya Allah, hari itu memang aku berniat untuk njajan, tapi Engkau yang Maha Pengasih menunjukkan jalan yang lebih indah padaku, melalui kecelakaan itu. Dan sekarang telah kau antar aku pada dokter muda yang cantik jelita ini Ya Allah. Akan kulanjutkan takdir yang telah Engkau buka jalannya, tentang jodoh yang sudah di depan mataku. Ya Allah takdirkanlah dokter Mawar sebagai jodohku. Jika tidak, hamba mohon tukarlah nasib perjodohan hamba dengan orang yang Engkau rencanakan berjodoh dengan dokter Mawar. Amiiin. “

Sandal Nabi

Karya : Ahmad Kafi

***

Sandal itu sekarang tertata rapi di depan mushola pesantren ketika sholat isya’ ditunaikan. Sandal jepit warna putih mangkak[1] yang hampir kecoklatan. Di bagian tumit sudah sangat tipis hampir bolong. Tali sandal yang bekali-kali putus dipasang paku supaya masih digunakan.

Sandal usang itu adalah milik Abah Musa, pengasuh pesantren Al-hikmah. Seorang kyai yang terkenal karena keampuhannya. Konon beliau bisa membaca pikiran seseorang. Seolah menyatu dengan pemiliknya, sandal jepit itu juga bertuah. Sandal keramat. Orang-orang berspekulasi bahwa yang membuat Abah Musa sakti adalah sandalnya. Tapi banyak juga yang membantah, mereka bilang bahwa sandal itu ampuh karena kesaktian pemiliknya. Namun yang jelas tidak sedikit orang yang mengaku pernah menyaksikan kesaktian sandal Abah Musa itu, salah satunya adalah Mukijo.

Suatu hari bini Mukijo minta cerai karena suaminya tidak pernah berduit. Mukijo sendiri sudah mati-matian, tapi kemiskinan masih enggan pergi dari kehidupannya. Saban hari bininya ngamuk. Yang keluar dari mulutnya hanyalah daftar nama hewan yang ditujukan pada suaminya. Lama-lama Mukijo tidak tahan sendiri, ia mengadu pada Abah Musa.

“Bawa sandal ini pulang jo, waktu istrimu tidur, tapuk[2] ­pakai sandal ini.”

Benar saja, keesokan harinya bini mukijo benar benar berubah perangainya, padahal baru kemarin ia mendamprat suaminya habis-habisan.

Cerita lain, pernah suatu ketika pesantren Abah Musa kemasukan maling. Oleh para santri maling itu diringkus hendak diadili. Abah Musa melarang dan meminta agar maling itu diserahkan kepadanya. Abah Musa meminta si maling menjulurkan tangannya. Abah mengambil sandal kramatnya lantas memukul tangan si maling dengan sandal itu. Beberapa hari kemudian si maling datang lagi kepesantren, mengadu kepada Abah Musa karena tangannya tiba-tiba lumpuh setiap kali hendak mencuri.

Itu hanya sebagian kecil cerita dari kesaktian Abah Musa dan kekeramatan sandalnya. Berita kesaktian Abah Musa telah menjadi sarapan sehari-hari bagi warga sekitar pesantren. Lambat laun nama beliau semakin santer. Tidak hanya di lingkungan pesantren saja, tapi juga sampai ke berbagai daerah lain. Saban hari ada saja tamu yang datang ke pesantren. Ada yang membawa masalah di kepalanya, Ada yang ingin naik pangkat, panennya melimpah, punya keturunan unggulan, dan tak jarang pula yang ingin segera memperoleh jodoh. Ada juga yang hanya sekedar ingin membuktikan keampuhan sandal Abah Musa.

Sebenarnya Abah Musa tidak pernah nyantri. Tidak pernah belajar ilmu agama sama sekali. Bisa dibilang beliau nol dalam ilmu agama. Ketika menjadi mengasuh pesantren itupun juga bisa dikatakan dadakan.

Sebaliknya semasa muda ia adalah bromocorah[3], brandalan sangar, tukang madar, dan perampok kejam yang tidak pandang bulu terhadap korbannya. Tubuh tinggi, besar, kekar, otot-otot yang terbentuk sempurna, dan tidak pernah kalah dalam setiap duel  membuatnya menjadi brandalan yang ditakuti.

Suatu ketika Musa muda merampok lelaki tua pedagang kendi[4]. Pakaiannya lusuh, badannya kurus kering, matanya cekung, dan kepala yang sudah dipenuhi uban.

“Kendi tinggal satu itu mbah, laris berarti, mana duitnya.”

Ampun[5] cah bagus, jangan diminta uangnya, buat modal simbah dan kebutuhan.”

“Wes sini duitnya.” bentak Musa sambil menarik baju lelaki tua itu.

“Jangan, kalau cah bagus mau, cah bagus bisa bawa pulang kendi ini. Ini adalah harta yang jauh lebih besar dari pada uang yang kamu minta. Percayalah.”

“Jangan membodohiku pak tua, berikan uang itu atu kau akan mencium bau tanah kuburanmu.” Mendengar bentakan Musa bukannya ketakutan malah pak tua itu tersenyum tenang.

“Orang muda memang tidak sabaran.” Kata lelaki tua itu sambil terkekeh.

“Cah bagus, kalau kamu tidak percaya buktikan saja nanti malam. Sebelum kau tidur letakkan kendi ini di dekatmu dan kau akan segera tahu maksudku.” Mendengar ucapan lelaki itu, musa mulai penasaran.

“Apa jaminannya kalau kau tidak berbohong.”

“Kau ragu rupanya.”

“Baiklah ku bawa kendi ini sekaligus uangmu. Jika mulutmu benar akan kukembalikan uang ini padamu besok.”

“Tamak koe[6], mana bisa aku percaya.”

“Aku tidak pernah mengingkari ucapanku.”

“Haha ya terserahlah lagipula percuma saja aku melawanmu.”

Malam harinya sebelum Musa tidur kendi tersebut benar-benar diletakkan di dekatnya. Anehnya beberapa saat kemudian badan Musa menggigil hebat, tiba-tiba panas, sangat panas, menggigil lagi, panas lagi. Kejadian tersebut berlangsung berulang-ulang sampai akhirnya Musa pingsan.

Ketika tak sadarkan diri musa merasa bertemu orang tua siang tadi. Berbeda dengan ketika siang, orang tua ini kulitnya sangat bersih, wajahnya bersinar, pakaiannya rapi tidak lusuh. Ia mengenakan baju lurik dilapisi jubah hijau, juga surban yang diikatkan di kepalanya. Musa terjingkat. Perasaan takut tiba tiba memenuhi dadanya hingga membuat napasnya sesak. Tubuhnya terasa kaku.

“Apes!! Rupanya orang tua itu medi[7].” Pikir musa.

Dalam sekejap mata dibawanya Musa terbang menuju langit kemudian menembus perut bumi. Di dalam bumi Musa mendapati banyak orang menggeliat, meraung, jungkir balik, timbul tenggelam dalam lautan api. Musa bergidik ngeri.

“Seperti itulah kamu kelak” kata orang tua itu.

Musa membelalak. terhenyak. Lidahnya kelu.

“Ganjaran yang pantas untuk orang-orang yang hanya berbuat kerusakan. Apapun yang kau lakukan hanyalah mengantarkanmu ke sini” sambung pak tua.

Musa menggigil, keringat dingin membasahi tubuhnya, bulu kuduknya meremang, nafasnya memburu. Tiba-tiba tangan pak tua mencenkram leher Musa dan melemparkannya ke dalam api. Beberapa detik kemudian diangkatlah tubuh Musa. Kulit-kulitnya hangus, daging melepuh meleleh mengalirkan darah, tulang-tulangnya bertonjolan, bola mata keluar sari tempatnya. Sejurus kemudian pak tua mengambil sandalnya, ditepukkanlah sendal itu ke jidat Musa, seketika kulit hangus Musa rontok, daging dan tulang-tulangnya luruh, tumbuh tulang dan daging yang baru, beberapa saat kemudian tubuh Musa kembali utuh.

Musa menyadari orang tua yang bersamanya bukanlah orang sembarangan. Menangislah ia, meraung sejadi-jadinya. Belum pernah ia merasakan kesakitan sehebat itu.

“Tidak adakah yang bisa mencegahku dari siksaan semacam itu mbah.”

“Tidak ada, kecuali dirimu sendiri.”

“Benarkah.”

“Asal kau mau mengikutiku.”

“Apapun mbah.”

“Tidak peduli berapa puluh tahun lamanya?”

“Saya siap mbah.”

Dalam sekejap mata kedua lelaki tersebut sudah berada di di sebuah rumah kayu tua ditengah hutan. Di sana Musa di gembleng dengan berbagai ilmu keagamaan dan kebatinan. Setiap kali Musa kesulitan menerima pengajaran, pak tua langsung menampar Musa dengan sandal. Ajaibnya setelah ditampar Musa menjadi benar-benar paham.

Benar juga kata pak tua, Musa benar-benar digembleng selama puluhan tahun. Tubuh Musa yang awalnya kekar kini menyusut, rambutnya memutih, kulit-kulitnya keriput, lambat laun tubuhnya lebih cepat lelah, napasnya tersengal-sengal. Musa sudah menua, sudah sakit-sakitan.

Namun Musa mendapati keganjilan pada diri pak tua. Ia tidak semakin menua, justru sebaliknya, rambut putih ketika baru bertemu Musa berubah hitam legam, wajahnya semakin kencang dan bersinar, tubuhnya tegap dan gagah. Pak tua sekarang menjadi pemuda perkasa. Karena penasaran Musa akhirnya menanyai orang yang selama ini menjadi gurunya.

“Setiap orang memiliki keistimewaan masing-masing dengan jalan masing-masing pula, termasuk koe”

“Saya? Memiliki keistimewaan?”

“Orang lain yang menilai. Cah bagus, sepertinya sudah cukup rasanya kau bersamaku. Sekarang sudah saatnya kau kembali pada kehidupanmu. Amalkan ilmumu di sana.”

“Maksud panjenengan pripun?”

Belum sempat ia memperoleh jawaban mukanya telah mendapatkan tamparan sandal.

PLAAKK!!!!

Musa terperanjat dari tempat tidurnya. Menyeka keringat yang membanjiri mukanya. Perih tamparan di pipinya samar-samar masih terasa. Ia masih mengingat benar apa saja yang ia alami. Ia beranjak ingin mengambil minum. Namun betapa terkejutnya Musa ketika mendapati sandal yang sama persis dengan sandal yang berulangkali menamparnya. Sedang kendi yang berada di dekatnya tiba-tiba raib. Sejurus kemudian merasa tiba-tiba ada semacam ruh yang merasuki dirinya. Membuatnya merasa memiliki sukma baru.

***

Pesantren Abah Musa kini kian hari makin ramai. Para tamu yang datang sekarang bahkan berasal dari luar negeri. Abah Musa semakin sibuk. Dari semenjak fajar sampai tengah malam para tamu seperti tak berkurang jumlahnya.

Suatu malam ba’da isyak ketika Abah Musa melayani tamu-tamunya, beliau kedatangan seorang pemuda tampan berpakaian lurik serta mengenakan jubah hijau. Pemuda itu berdiri tepat di pintu ndalem tempat Abah Musa melayani tamu-tamunya. Abah Musa tidak menyadari kalau ada pemuda yang menatapnya dari pintu.

“Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam” jawab Abah Musa. Seketika beliau terperanjat begitu mengenali siapa orang yang ada di depan pintu itu. Tergopoh-gopoh Abah Musa berdiri menghampiri dan langsung menciumi tangan pemuda tersebut. Sontak para tamu yang menyaksikan pemandangan aneh itu terheran-heran. Bagaimana mungkin seorang kyai kesohor, sakti, tinggi ilmunya mencium tangan seorang pemuda yang lebih pantas dibilang cucunya.

Piye[8] kabarmu cah bagus?” tanya pemuda tersebut. Para tamu semakin terheran-heran.

“Alhamdulillah ? sae[9] mbah” jawab Abah Musa penuh hikmat.

Pemuda tersebut menyapukan pandangan kepada tamu-tamu yang ada kemudian mendekatkan wajahnya ketelinga Abah Musa.

“Sandalnya mau saya ambil lagi. Syirik kiu alus[10]. Orang-orang awam jarang menyadari datangnya tanda-tanda syirik dan tiba-tiba saja mereka sudah berada dalam kesyirikan. Paham maksudku le?”

“Astaghfirullah, inggih mbah inggih.”

Akhirnya sandal kusam yang selama ini bersama Abah Musa diberikan kepada pemuda tersebut. Setelah itu sang pemuda pergi dengan meninggalkan senyuman aneh kepada tamu-tamu. Para tamu kembali dibuat heran dan cemas. Sandal yang membuat mereka mau bersusah payah datang ke pesantren kini tidak ada. Sebagian dari mereka khawatir kalau Abah Musa tidak sakti lagi.

Salah seorang jamaah yang benar-benar khawatir kalau hajatnya tidak akan tertunaikan memberanikan diri bertanya.

“Kenapa sandalnya diberikan begitu saja bah?”

“Lha wong cuma sandal kok” jawab Abah Musa tenang.

Para tamu melongo.

“Orang itulah yang sebenarnya punya sandal, guruku.” sambung Abah Musa.

Para tamu semakin tidak habis pikir dengan perkataan Abah Musa. Sebagian dari mereka benar-benar menyangka bahwa akal waras Abah Musa sudah hilang bersamaan dengan perginya sandal tersebut. Melihat reaksi para tamunya yang berubah Abah Musa terkekeh.

“Kalian jangan salah paham, aku masih waras. Pemuda yang kalian lihat tadi memang benar-benar guruku. Namanya Mbah Khidhir.”

Kasongan, 19 Februari 2019

[1] Putih kekuning-kuningan

[2] Menampar mulut

[3] penjahat yang sehari-harinya bergaul dengan masyarakat, tetapi pada suatu saat tidak segan-segan melakukan kejahatan.

[4] Wadah air minum dari tanah liat

[5] jangan

[6] kamu

[7] hantu

[8] bagaimana

[9] Baik

[10] Itu halus