Puisi Farah Velda #4

Puisi 16

 

Cerita Di Suatu Surabaya

 

Siapa kamu yang mampu melukis senyum d iwajahku?

Bahkan menggambar pelangi di atasku

Padahal aku hanya tersenyum tipis kearahmu

Dan kau membalasnya dengan lembaran baru

Kau bawa aku kedalam dunia yang tidak ku tahu

Dengan semua alunan merdu hafalanmu

Dan raut teduh seorang insan pemalu

Senyum itu, yang selalu kutunggu itu

Aku sungguh rindu.

 

Surabaya, 16 Februari 2018

 

 

Puisi 17

 

Stanza Rindu 1

 

Senyum yang tersembunyi di antara wajah pasimu

Tawa yang terhimpit di antara kesusahan pilumu

Kebahagiaan yang sembari bercampur dengan abu

Semua semburat samar itu yang terasa sangat biru

Ku teringat betul memori itu

Meski telah berlalu, tapi sungguh merindu.

 

Malang, 16 Februari 2018

 

 

Puisi 18

 

Kepada sastra

 

Sastra, kenapa kamu baru datang?

Ketika sendirian dan kesepian menghampiriku sekarang

Sastra, kenapa kamu baru menyapa?

Setelah dia sudah jauh jarak dengan saya?

Kamu kemarin kemana?

Saat pelangi hati ada disisi saya?

Saat kedua piala berharga saya mendukung saya?

Dan saat segala sesuatu masih baik baik saja?

Sastra, kenapa kamu menghilang kala itu saja?

Dan kenapa kamu ada saat aku sendirian dan kesepian saja?

Apakah aku kurang berlatih pusaka milikNya?

Apakah aku kurang dekat dengan aksara lainnya?

Aku hanya memilikimu sebagai cerita

Cerita yang kujadi curahan hatiku nantinya

Cerita yang kujadi teman rahasiaku nantinya

Cerita yang kujadi jiwaku beristirahat nantinya

Cerita yang kujadi kisah kan kubaca nantinya

Kisah yang akan kukenang selama hari tua nantinya

Mengenangmu, isi tentang semuanya, termasuk tentang dirinya yang pernah ada.

Aku hanya punya kamu, Sastra.

Tolonglah ada dimanapun aku merasakan apapun saat bersama siapapun ku bahagia…

Semoga kau selalu menyala membara

 

Malang, 22 Februari 2018

 

 

Puisi 19

 

Stanza Rindu 2

 

Stanza ini tentang rindu

Karena saking ia tak bisa menahan beban yang hanya dipikul seorang diri

Sajak ini tentang sepi

Dimana ia selalu merasa sendiri ketika ia membawa itu

Bait ini tentang sesuatu

Dimana ia selalu berisi apapun untuk terisi dan berakhir dengan coretan rasa tanpa henti

Puisi ini hanyalah sebuah puisi

Yang mana hanya berisi tatanan kata tersembunyi dari diri

Untukmu duhai satu, jodohku semata.

Bahwa, satu puisi ini mewakili kata rindu untukmu.

 

Ponorogo, 2 Agustus 2019

 

 

Puisi 20

 

Cerita Sore Kecil

 

Aku tak bisa berkata jika kau suruh aku untuk bersastra

Aku justru tak bisa menulis jika kau kata aku pandai bersajak

Aku malah tak bisa apa apa tanpa dirimu sebagai acuan kata kataku

Tapi kenapa, justru ketika kau tiada, puisi ini malah ada?

Sungguh, hal yang tak biasa.

Yaa, memang kau sungguh luar biasa, karena tanpa kau saja puisi ini terlahir ada. Terimakasih ya.

 

Ponorogo, 2 Agustus 2019.

 

By. Farah Velda DZ

Puisi Farah Velda #3

Puisi 11

 

Untuk Puisi 1

 

Puisi, apakah aku bisa

Memilikimu dalam diriku

Melepasmu ketika berat ini hampiriku, dekatiku

Puisi, apa aku bisa?

Tuliskanmu dalam sebuah lembaran putih

Dimana semua coretanku berakhir disitu disini dari tinta hitam ini

Puisi, apa aku bisa meraihmu?

Meski dalam hati, aku ingin melepas beban,,,

Namun dalam nyata, aku seperti kosong, tak napas, dan cermin tanpa bayangan.

Itulah aku tanpa sandaran.

Duhai Tuhanku yang Maha Mendengar.

 

Malang, Maret 2, 2018.

 

 

Puisi 12

 

Untuk Puisi 2

 

Puisi, langit begitu gulita ya?

Namun tak kusangka tak sebegitu gulita ketika kau ada disini.

 

Puisi, langit yang gulita tadi, akan berubah menjadi kemerahan bercampur dengan birunya langit, dengan dibumbui rasa syahdu ngaji dari toa masjid menambah suasana damai dalam diri.

 

Puisi, fajar akan menyingsing, apakah kau tak apa tetap disini dengan diri ini?

 

Puisi, tahukah kau, ragaku tak sendiri lagi sejak ada kau disisi, namun mengapa kau terasa sepi? Apakah aku yang salah karena mengundangmu kemari?

 

Puisi, kau ada dan ku syukuri, kau ku tulis dan ku syukuri, kau hidup dan ku syukuri lagi, tapi apakah itu semua sudah cukup bagimu merasa tak sedih?

 

Puisi, aku rindu senyummu yang dulu, yang dalam diamku, kau tetap menyapa jiwa ini.

 

Kemana kau pergi lagi puisi?

Setelah lama kau kunanti kembali

Kemana senyuman lamamu pergi, setelah sekian lama kutunggu itu disini

Kemana kau akan terus berkelana lagi

Setelah sekian lama kita bertemu lagi

Aku ingin kau tetap disini, menemaniku hingga tiba untukku yang pergi.

 

Malang, Oktober 11, 2018

 

 

Puisi 13

 

         Celoteh Kerinduan

 

Duhai malam

Maafkan lah raga ini karena telah mengadu

Bahwa telah lama ia tak menyentuh dia

Yang dirindukan namun tak ia doakan

Yang dirindukan namun tak ia sentuhi

Yang dirindukan namun tak ia dekati

Dan yang dirindukan namun tak ia panggil

Duhai malam

Maafkan lah raga ini telah menyentuhmu

Malah bukan menyentuh yang ia rindukan

Malah bukan menyebut yang ia rindukan

Dan malah sedang mengisahkan bahwa ia sedang rindu seseorang

Duhai malam

Sanggupkah aku

Masih dengan kata dan puisiku

Menuliskan beban kerinduan tentang seseorang itu

Bahwa sungguh sekali, tak mampu ia bercerita siapa dia

Namun cukup kau, aku, dan Allah saja yang tau sosoknya.

 

Malang, Februari 15, 2019

 

 

Puisi 14

 

Kepada…

 

Aku malu akan menyentuhmu

Sosok yang telah lama aku rindui

Aku malu akan menuliskanmu

Sosok yang telah lama aku kagumi

Aku sungguh malu hingga detik aku menuliskan ini di aksara kesekian

Sosok yang telah lama hadir dalam diri

Aku sangat malu sampai aku tak mampu akan menggambarkan sosok itu

Namun sayangnya, sajak ini sudah menampung kisahmu.

Kisah seorang sosok yang tercipta oleh susunan kata.

 

Malang, Februari 16, 2019

 

 

Puisi 15

 

Sekedar Kata

 

Teruntuk jodohku,

Selamat pagi untuk aktivitas tahajud, subuh, dan pula dhuhamu.

Selamat siang untuk aktivitas dhuhur dan ibadah lainmu.

Selamat sore untuk aktivitas asharmu, maghrib, dan juga buka puasamu.

Selamat malam untuk isyamu, juga ibadah lainmu.

Ku ucapkan, diri ini merindukanmu.

 

Malang, Agustus 2, 2019

 

 

By: Farah Velda Digna Zaidah

(veldadigna29@gmail.com)

Puisi Farah Velda #2

Puisi 6

          Kalau Ku Kata

 

Kalau ku kata,

Kau adalah lazuardi hati yang indah

Berkenan kah kau maafkanku?

Maafkanlah,

Jika kurayumu dengan kata

Karena sungguh lidah ini kelu melontarkannya padamu dimuka

Kalau ku kata,

Kau adalah marjan hidupku yang berharga

Apakah kau kan tetap bermuka merah menyala?

Maafkan, karena bibir ini tak sanggup berbicara

Dan hanya lewat stanza inilah, aku bersastra

Karena sungguh saja,

Kau bahkan melebihi rubi indah dibelahan dunia manapun

Yang juga tak bisa bersanding dengan intan permata disana

Duhai pelangi putih yang kurindu dan kucinta

 

Karangploso, Agustus 3, 2019

 

 

Puisi 7

 

          Alim

 

Jangan kata kata itu,

yang terlontar dalam wajah itu

yang terbaca dalam sikap itu

yang bahkan kata itu pun,

Mampu mengikis waktu

Kian demi detik

Hingga nafas pun terenggut

 

Jangan kata itu

yang bahkan racun pun seindah mawar

yang bahkan si buas sihir mata jadi eksotik

yang bahkan setitik noda jadi setitik dosa

yang bahkan secuwil rasa bawa segunung dosa

 

Bagaimana bisa,

Sosok rusak dicintai oleh putih

Sosok buruk disayangi oleh cahaya

Sosok hancur didekati oleh cinta

Bahkan, sosok hina disentuh oleh suci

 

Oh alim,

Kumohon

Murnikan si merah muda itu

Dalam diri sekotor ini

Menjadi sosok kalem yang ingin kau dan aku sentuh menuju langitNya.

 

Malang, April 20, 2018

 

 

Puisi 8

 

          Tak Lagi Sama

 

Satu mata mati

Tersisa mata satu lagi

Tapi serasa pelangi tak lagi sama

Dengan warna warna samar memudar pecah di sisi

 

Malang, Mei 31, 2018

 

 

Puisi 9

 

          Tempat berpijak, ku rindu.

 

Lalu?

Apakah aku bisa menemuimu?

Sesuatu yang menjadi kenanganku

Sesuatu lama yang mampu melukis senyumku

 

Lalu?

Aku memang tak bisa menyentuhmu,

Namun, bisakah aku?

Tuk mengharapkan itu?

Agar aku tak lagi mengadu paku akan rasa lampauku

 

Lalu?

Kau indah, terkadang pilu, dan haru biru

Namun, adakah dirimu menjadi memento akan lalumu?

Yang bisa hapus hujan kelabu

Yang sanggup undang bahagia dan hilangkan senyum palsu

 

Lalu?

Apakah kau akan pergi dariku, lagi?

Setelah sekian lama aku menunggumu

Setelah sekian lama waktu berlalu

Setelah masa sekarang berjalan larut bagiku

 

Dan akhirnya Lalu, ku sadari bahwa

Ku rindu tempat berpijakku yang dulu.

Bersama waktu yang dulu tak ku miliki

Rumah kita denganmu.

 

Malang, Juni 10, 2018

 

 

Puisi 10

 

           Puisi Untuk Jodohku

 

Adalah kamu

Yang aku tunggu

Sampai pada waktu tiba

Tapi sesungguhnya,

sanggupkah aku?

Bawamu menuju duniaku

Yang kecil dan penuh debu

Kedalam liang dimensi yang bisu

Bahkan nuansa abu abu sejak dulu

Dan maaf saja,

jika ku memilihmu.

Hai jodohku yang belum kutau.

 

Malang, Maret 03, 2018

By : Farah Velda Digna Zaidah

Puisi Farah Velda #1

Puisi 1 <Malang, 27 Maret 2015>

 

Mentari,

 

nyatanya kegelapan telah menyelimutimu,

kabut asa itu telah memelukmu,

kelabu ini kian menyeret gulitanya malam,
dan membuang harapan baru

 

Kepada mentari,
mengapa kau biarkan itu terjadi?
membuat dunia dalam kegelapan,
penuh dengan hitam pekat dinginnya kebencian?

 

O mentari,
bulan ini pun juga kian berpedangkan tombak,
melukai sisi baik dan memerangi keindahan
kini, harapan tlah musnah sudah

 

Untuk mentari lagi,
saat ini, bisakah kau biarkan cahaya ini

merenggut temaramku yang layu yang sepi
sehingga kau kan bernafaskan obor api

yang menyalakannya dengan sulut kehangatan hakiki.

 

 

Puisi 2 <Malang, 6 April 2015>

 

Kisah Pelangi Putih 1

 

Pelangi putih itu datang

Kian dekat kian mendekati warna merah

Pelangi putih itu datang

Telah melewati merah dan jingga serta kuning

Pelangi putih itu datang

Meleburkan hijau, bercampurkan biru,
dan melantakkan nila dan akhirnya ungu
Namun pelangi itu kian semakin putih

Tak kian berwujud seputih salju

Tak kian berwujud semerah darah,
atau segelap gulita, sejingga mentari pagi,
dan sehijau rumput sebiru langit

Pelangi putih itu kian tak berwujud

Tak terleburkan air hujan
Tak tercampurkan air bah

Seputih cahaya suci milikNya

Seputih cahaya suci yang dimilikinya

Teruntuk pelangi putih yang memiliki hati sesuai cahayaNya.

 

 

Puisi 3 <Malang, 6 April 2015>

 

Kisah Pelangi Putih 2

 

Pelangi putih ini,

Siapa gerangan ia?

Ia hadir dengan senyum terbuka,
dan menerima semua dengan tangan terbuka

Siapa gerangan ia?

Si misterius dengan senyuman meriahnya

Si misterius dengan kelembutan perkataannya

Si misterius dengan kecerdasan hakiki,
semangat membara, usaha, dan tawakkalnya
Siapa ya gerangan ia?

Tertegun aku melihatnya

Tersenyum aku melihatnya bahagia

Aku telah jatuh cinta

 

 

Puisi 4 <Malang, 6 April 2015>

 

 

Rasa apa ini?

 

Tanda apa lagi ini,

Kian lama kian resah

Kian lama kian gelisah

Kian lama kian berdetak berdecak melambung tinggi

Rasa apa lagi ini,

Gelisah galau gulana tak ada pasti

Keraguan batas tak bernyawa

Kebimbangan penuh kanan kiri tak ada ujung

Tanda rasa ini kian menghantui

Rasa cinta yang telah lama mati

Aku bahagia tak berujung pasti

 

 

Puisi 5 <Malang, 6 April 2015>

 

Dia itu…

 

lebih dari sekedar piala biasa

lebih sekedar piala yang kosong tak bernyawa

lebih dari sekedar penyejuk mata

lebih sekedar piala untuk menawan hati

dan bukan hanya sebuah pajangan belaka

Iya, itu dia.

Si satu di sana.

 

Penyair :

Farah Velda Digna Zaidah