Catatan Hitam Hizbut Tahrir: Ideologi hingga Merebut Kekuasaan dengan Kudeta

Oleh : Bayu Wardhana (Jurnalis lepas. Anggota Aliansi Jurnalis Independen Jakarta)

Gerakan HTI tidak hanya perkara ideologis, bahkan urusan kudeta

Buku Catatan Hitam Hizbut Tahrir yang ditulis Mohammad Nuruzzaman dibedah di ISKA Center (Ikatan Sarjana Katolik) di kawasan Roxy, Jakarta . Acara yang berlangsung Jumat, 6 Juli 2018 lalu ini diselenggarakan ISKA DPD Jabodetabek dan GP Ansor Cabang Jakarta Barat, dengan menghadirkan penulisnya sendiri Mohammad Nurzzaman dan pembahas Achmad Budi Prayoga (Kuasa Hukum Pemerintah dalam gugatan HTI) dan dimoderatori oleh Eka Wenats Wuryanta.

Pada pembuka awal, Nurzzaman menjelaskan latar belakang penulisan buku ini. Aktivis GP Ansor itu tergerak untuk membuat buku yang sederhana, mudah dibaca orang banyak untuk menjelaskan bahaya dari Hizbut Tahrir. Gerakan Hizbut Tahrir ini sudah dilarang di banyak negara Timur Tengah, tetapi justru di Indonesia melenggang bebas. Buku ini ditulis jauh sebelum ada pelarangan HTI dari pemerintah.

Lewat penulisan buku ini, Nurzzaman berharap publik bisa paham mengapa Hizbut Tahrir perlu dilarang. Pembicara lain, Achmad Budi Prayoga, dalam paparannya lebih menjelaskan bagaimana UU Ormas dapat membubarkan HTI.

“Sebelumnya UU ini sudah mengatur substansi pelanggaran ormas sehingga bisa dibubarkan. Perpu itu hanya menambahkan mekanisme pembubaran,”ujar Achmad.

HTI dalam kegiatan-kegiatannya sudah jelas melanggar ketentuan di UU Ormas, seperti hendak mewujudkan khilafah yang menisbikan bentuk negara.

Diskusi yang diikuti kurang lebih 50 orang dari anggota ISKA maupun Ansor ini, berlangsung hangat ketika sesi tanya jawab. Pertanyaan seputar sejarah Hizbut Tahrir dan Islam Nusantara mewarnai forum ini.

Terungkap beberapa fakta pun mengemuka dalam diskusi tersebut. Perihal bagaimana Hizbut Tahrir jelas hendak mengganti bentuk negara, baik di luar negeri maupun di Indonesia.  Termasuk, di antaranya, adalah upaya merebut kekuasaan tidak melalui pemilu, bahkan ada indikasi, dalam penelitian tersebut, melalui jalur kudeta.[1]

[1] Resensi ini pernah dimuat di Islami.co : https://islami.co/catatan-hitam-hizbut-tahrir-ideologi-hingga-merebut-kekuasaan-dengan-kudeta/

Ethiosophia; Reaktualisasi Iman-Moral di Zaman Kacau

oleh : Ahmad Khoiri

Pernahkah kita menjumpai fenomena manusia berbondong ke masjid, gereja, vihara, pura, atau pun tempat ibadah lainnya, namun tidak mampu memanusiakan manusia? Seberapa banyak kita jumpai orang yang mengaku beriman, namun abai terhadap realitas yang kacau? Atau, pernahkah kita bertemu seseorang yang memaknai ‘iman’ sebatas sebagai ‘percaya’?

Tiga pertanyaan esensial tersebut menjadi ‘bom waktu’ pergulatan intelektual Fawaid Abrari, tinggal menunggu klimaks lahirnya karya interdisipliner; Ethiosophia. Ia mengelaborasi filsafat dan tasawuf, lalu menariknya ke dalam tataran empiris, membuktikan bahwa terdapat kekacauan (chaos) terstruktur antara realitas-ideal dengan fakta empiris itu sendiri.

Tentu saja chaos yang dimaksud bukanlah perang. Perang hanya menumpahkan darah. Chaos yang kita alami hari-hari ini ialah krisis jatidiri. Jacques Wllul dalam The Technology Society, Erich Formm dalam The Revolution of Hope; Towards a Humanized Technology, atau Homo Deus-nya Yuval Noah Harari telah cukup menggelisahkan kita atas hilangnya kemanusiaan di masa depan. Ramalan terburuk sepanjang sejarah kita, Homo Sapiens.

Magister lulusan Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS), Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta tersebut bertolak dari realitas paradoksal; gejolak anti Tuhan vis-à-vis konfrontasi material-centris, dan kesangsian eskatologis vis-à-vis  keyakinan imortalitas (hlm. 21). Terjadi ketimpangan antara iman sebagai aspek esoteris dengan moral sebagai aspek eksoteris.

Jika iman adalah sumber lahirnya moralitas, Ethiosophia lahir sebagai respon terhadap dekadensi moral manusia rasional—milenial. Padahal Islam bukan merupakan agama didaktik-metodik an sich, justru selaiknya mengejawantah menjadi transformasi-implementatif dalam kehidupan sehari-hari pemeluknya. Iman tidak cukup dipahami sebagai ritual liturgis semata.

Pada dasarnya, istilah Ethiosophia adalah istilah baru yang tiada padanannya dalam kamus apa pun. Ia merupakan frasa derivatif dari kata ‘ethos’ (etika, rasionalitas) dan ‘shopos’ (kebijaksanaan, moralitas). Abrari mengadopsi filsafat kritisisme Immanuel Kant (w. 1804) tentang rasio murni dan rasio praktis bahwa moral tak bersangkut-paut dengan kebahagiaan, melainkan konsistensi.

Kehendak murni ala Kant disinyalir sebagai yang imanen menuju materialistis. Ia irasional, sebab merupakan keharusan (Sollen). Justru tujuan rasionalitas adalah mengontrol perintah tersebut (hlm. 49). Ketika rasionalitas mengambil-alih peran memerintah, maka ia mendominasi sesuatu yang imanen tadi. Sementara kita di sisi lain juga memiliki kehendak murni, fitrah. Permasalahan iman-moral ini menjadi pokok kajian Ethiosophia.

Dalam Ethiosophia, iman dipersepsikan sebagai hukum moral, sedangkan moral merupakan implikasi epistemologisnya. Oleh karena itu, antara keduanya terhadapat timbal-balik kausalitas. Agama tidak lagi sekadar identitas simbolik, tetapi termanifestasikan secara imanen. Memperbaiki moralitas melalui transendensi teologis sama halnya membedakan iman dengan percaya atau yakin. Iman lebih substansial dari dua term terakhir.

Kalau kita tarik dalam realitas hari ini, ketika kekacauan (chaos) mengemuka di mana dan dilaku siapa saja, Ethiosophia menjadi konstruksi epistemis yang menengadahinya. Seorang yang dianggap terhormat, pemuka agama misalnya, tetapi terlibat atau bahkan menjadi aktor chaos tadi, itu disebabkan ketidakselarasan iman dengan moralitas. Menuhankan Tuhan, tapi miskin kemampuan untuk memanusiakan manusia.

Ethiosophia diproyeksikan mampu mengonter jalin-berjalin ketimpangan tersebut. Menuhankan Tuhan merupakan keniscayaan, tetapi konsistensi filosofis dari laku semacam itu seyogianya berimplikasi signifikan terhadap eskalasi moral itu sendiri. Atau dalam bahasa Abrari, “agama bukan keharusan yang menuntut keterpaksaan, justru merupakan keniscayaan yang melahirkan kebahagiaan setiap makhluk rasional.” (hlm. 64)

Untuk sampai ke situ, analisa Immanuel Kant menjadi kerangka teoretis tafsir falsafi Ethiosophia dan rasionalitas sebagai contextual role, mengontekstualisasi ayat-ayat tentang etika. Nalar religius kemudian terhindar dari tendensi infiltrasi yang mengejawantah akibat rasionalitas. Tafsir falsafi Ethiosophia melahirkan abstraksi sempurna yang implisit dalam ayat etika, umpama figur Nabi Muhammad.

Konsep paradigmatik Ethiosophia juga mempersepsikan tasawuf sebagai jalan ideal menuju rasio-moral. Sebab, iman dipersepsikan sebagai yang bereksistensi ketika seseorang berada pada batas rasionalitasnya. Sementara moral adalah konsekuensi logis dari iman tersebut, selaiknya. Di luar itu, zaman kacau merupakan kenyataan buruk yang mesti kita sadari, sehingga pijakan reaktualisasi menemukan signifikansinya.

Dengan demikian, Ethiosophia yang mewujud diri sebagai konstruksi epistemik dalam merespons chaos—yang oleh Abrari dianggap ulah rasionalitas milenial tak terkontrol—merupakan lompatan cemerlang, otokritik yang halus, dan penghentak kesadaran kolektif tentang adanya inkonsistensi antara iman dan moral. Wujudnya dapat kita rasakan bersama, seperti dalam tiga pertanyaan esensial yang diuraikan di muka.

Sedikitnya ada dua poin penting yang menjadi pijakan aksiologis Ethiosophia tersebut. Kesatu, agama bukanlah keharusan, melainkan keniscayaan. Kedua, iman bukanlah realitas eksternal, justru ia merupakan representasi dari kualitas iman dalam kehendak akal budi murni dan kesucian hati (hlm. 15). Yang terakhir ini memerlukan romantisme dengan laku sehari-hari, agar kekacauan tidak lagi terjadi.

Kendatipun kekacauan merupakan bagian tidak terpisahkan dari dunia, iman dan moral tetap saja memiliki peran signifikan untuk meminimalisir segala rupa kenyataan yang tidak diinginkan atau tidak seharusnya. Jika idealisme agama berkisaran dalam setiap upaya perbaikan (ishlâh) tersebut, maka semestinya juga rasionalitas tidak menghambat, justru menjadi medium memberantas kekacauan itu sendiri.

Buku yang dihasilkan atas dasar kegelisahan internal diri sang penulis ini memegang porsi penting di tengah hiruk-pikuk kekacauan yang kita rasakan bersama. Dalam tataran personal, pergolakan iman dan moral mengejawantah menjadi karakter individual, sementara di sektor publik kita disuguhi pelbagai realitas memilukan. Masalahnya karena itu terjadi di negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama.

Abrari dengan berani menghentak jumudnya keberagamaan kita yang tidak berdampak signifikan terhadap laku empiris kita bersama. Baik di ranah domestik maupun publik, yang mengemuka adalah kenyataan bahwa kita tidak memenuhi syarat sebagai orang beriman, meski beragama. Hal itu lantaran iman kita tidak memiliki implikasi transformatif terhadap moral kolektif, yang menjadi antitesis Ethiosophia.

Setiap kita tidak bisa mengelakkan diri dari problem tersebut. Oleh karena iman dalam setiap waktu tidak berada dalam kadar yang sama, moral juga seringkali di ambang kemerosotan. Reaktualisasi merupakan langkah niscaya, agar yang esoteris berjalan beriringan dengan yang eksoteris. Dalam konteks ini, kita tidak bisa menegasikan sumbangsih Ethiosophia dalam upaya reaktualisasi tersebut.

Telaah iman sebagai romantisme hamba bersama Tuhan (habl min Allâh) dan moral sebagai romantisme antarsesama (habl min al-nâs) menjadi angin segar dalam oase keberagamaan. Karena, seperti dikatakan Abrari di akhir kalimat bukunya, iman dan moralitas ibarat dua sisi uang logam, atau bahkan ibarat kidung kembar dari dua benua yang berhulu-hilir ke muara yang sama.[][1]

 

Identitas Buku

Judul               : Ethiosphia; Sebuah Tafsir Falsafi Menembus Batas Rasionalitas

Penulis             : Fawaid Abrari, S.Th.I., M.A

Tahun              : Februari, 2019

Penerbit           : Belibis Pustaka

Tebal               : 212 halaman

ISBN               : 978-602-5508-56-1

Peresensi         : Ahmad Khoiri

[1] Resensi ini pernah dimuat di https://www.kurungbuka.com/ethiosophia-reaktualisasi-iman-moral-di-zaman-kacau/

Review Atas Pemikiran Penulis Ethiosophia

Membaca Pikiran Penulis Ethiosophia

Oleh : Moh. Sobakhul Mubarok

***

Hazanah keilmuan nusantara kembali diwarnai dengan hadirnya sebuah buku berjudul Ethiosophia karya Fawaid Abrari. Istilah Ethiosophia ketika saya menjelajahi google, kata-kata tersebut masih dalam revisi, atau tidak ditemukan dalam kamus google. Berulangkali saya memasukkan istilah tersebut, google tetap tidak memberi jawaban apapun atas rasa penasaran saya. Artinya, istilah tersebut adalah sesuatu yang baru. Istilah ethiosophia membuat saya harus mengercitkan dahi, sebuah ekspresi aneh disatu sisi, sekaligus rasa penasaran disisi lain. Apa yang dimaksud dengan istilah Ethiosophia? Sempat Saya menduga-duga, istilah Ethiosophia ini mirip-mirip dengan istilah yang kerap digunakan dalam tradisi filsafat.

Saya pun melakukan upaya untuk memuaskan rasa penasaran itu, akhirnya saya menghubungi belibisbook.com sebagai penerbit yang merilis buku ethiosophia itu. Ternyata, buku tersebut masih baru open PO. Saya pun memesan buku tersebut. Namun, rasa penasaran saya tidak bisa menunggu terlalu lama. Karena Usaha ini tidak memberikan hasil apa-apa, akhirnya saya harus mencari cara lain bagaimana kegelisahan ini menemukan jawabannya.

Era millenial, era sosmed, era teknologi, semua menjadi ringkas dan mudah. Melacak nama penulis melalui akun-akun sosmed yang senama dengan nama tersebut bukan hal yang sulit. Singkat cerita, setelah melalu beberapa tahap, saya berhasil menemuinya, yang ternyata penulis tersebut selalu saya lihat ketika saya ngopi di Belandongan – tongkrongan tempat mahasiswa-mahasiswa yogyakarta menghabiskan usianya dihadapan secangkir kopi. Tanpa ragu saya menemuinya, saya berbicara dengannya, bisa disebut semi wawancara. Disini saya merasa akan menemukan jawaban atas rasa penasaran terhadap buku Ethiosophia.

Tanpa basa-basi, pertanyaan pertama yang terlontar dari mulut saya, apa sih Ethiosophia? Dengan senyum ramah, mas Fawaid Abrari penulis buku itu memberi jawaban teka-teki. Ia mengajukan pertanyaan, “anda beriman?” Saya jawab iya. “Anda bermoral?” Iya. Nah itulah Ethiosophia. Dengan rasa tidak menemukan jawaban, saya mengangguk seolah mengerti. Kembali saya menduga, barangkali inilah yang dalam ulasannya bahwa dalam buku ini, pembaca akan menemukan pelik-pelik argumentasi mengenai iman.

Berawal dari obrolan hangat di warung kopi, akhirnya jawaban yang saya tunggu pun tiba. Ia mulai angkat bicara mengenai Ethiosophia. Seperti yang sayaduga, ternyata benar Ethiosophia memang bahasa serapan dari istilah-istilah dalam tradisi filsafat yunani. Yakni Ethos dan sophia. Akhirnya, saya merasa tidak asing dengan istilah tersebut. Ethos bermakna etika dan sophia bermakna kebijaksanaan. Apa anggle nya? Apa kaitannya dengan iman.? Tanya saya. Jawaban Fawaid Abrari itu memberi sedikit gambaran secara garis besar bahwa, Ethiosophia mencoba merumuskan kehendak dalam jiwa sebagai sumber moral di satu pihak, dan iman sebagai kondisi terdalam bagi hati masing-masing manusia di lain pihak, menunjukkan bahwa iman dan moral memiliki keterkaitan, sebelum akhirnya ia lahir sebagai sikap moral (moralitas) yang bijaksana dalam realitas sosial.

Apa maksud dengan menembus batas rasionalitas? Lanjut saya. Rupanya, menembus batas rasionalitas adalah upaya kongkrit agar iman tak hanya bermakna percaya, semacam omong kosong untuk legetimasi absurditas metafisik, dan agar agama tak sekedar dokrin an sich, maka mendefinisikan keduanya menjadi sesuatu yang rasional, adalah keharusan bagi makhluk notabene menjunjung tinggi rasionalitas. Ethiosophia dengan segala upaya menembus absurditas menjadi sesuai yang secara rasional bisa bertahan dihadapan nalar manusia. Sehingga, iman menjadi satu-satunya sumber kehendak bagi lahirnya segala kebikjasanaan dalam moralitas manusia. Saya megangguk-ngangguk sambil berfikir dalam hati, bahwa ini adalah suatu warna kajian epistemologi yang relatif baru bagi hazanah keilmuan nusantara.

Saya mencoba menggali lebih dalam untuk menghasilkan kesimpulan dalam ulasan ini. Namun belum sempat dilanjutkan, ia berujar dalam buku Ethiosophia nanti anda akan menjumpai berbagai hal yang sebelumnya tidak sempat anda pikirkan bahkan anda bayangkan mengenai dimensi iman dan agama. Kalimat tersebut menjadi pemungkas dalam perbincangan kami di warung kopi. Akhirnya, dengan diskusi ini, saya merasa tidak rugi memesan buku tersebut untuk saya mengobrak-abrik isinya dan kajian epistemologinya. Dan saya tergugah, ketika sang penulis bilang, bahwa jika anda merasa sebagai makhluk rasional maka membaca buku ini adalah sebentuk kaharusan untuk menjawab absurditas Tuhan dalam imanmu. Semoga anda semua berniat sama untuk membantu saya mengobrak-abrik isi dari buku Ethiosophia ini.

 

Tulisan ini pernah dimuat di Pewarta Nusantara https://www.pewartanusantara.com/membaca-pikiran-penulis-ethiosophia-fawaid-abrari/

Jalan Lain dari Kenyataan Genre Dramatik Gerak-Gerik

Catatan dari sebuah novel karya AH J Khuzaeni

Oleh: Rodli TL

(Director di ANGBALA CHILDREN THEATER)

Pada dasarnya novel  itu menghibur, bahasanya mengimplisit persuasif. Ia hadir untuk merayu pembaca berempati, merasakan apa yang dirasakan para tokoh, bahkan menawarkan ruang-ruang imajinasi yang kemudian memporak-porandakan emosi para pembacanya. Sungguh tidak realis, membaca novel saja menangis., kata si hidung mancung sambil menertawakan pembaca novel yang sesenggukan. Hehehehe

Teori sastra dan apologetics (pembelaan terhadap sastra) menekankan sifat tipikal sastra atau kekhususannya. Sastra dianggap lebih umum dari sejarah dan biografi, tapi lebih khusus dari psikologi dan sosiologi. Artinya karya sastra diantaranya novel tak sekedar menjanjikan hiburan yang menawararkan kesenangan secara fisik saja, namun juga kesenangan yang lebih tinggi, kesenangan kontemplatif. Maka novel seringkali hadir dengan atmosphere peristiwa-peristiwa sejarah yang masih hidup atau juga menawrkan keterlibatanya pada dialektika kejiwaan dan masyarakat sosialnya sebagaimana yang dibahas dalam ilmu psikologi dan sosiologi.

Secara dramatik akan kita temukan berbagai genre novel yang membuat kita kasmaran, takut, penasaran, menangis, bahkan tertawa berguling-guling. Masuk akal? Kenyataannya semacam itu yang kemudian para kritikus menamainya dengan genre komedi, romantic, horror, tragedy, detektif dan lain sebagainya. Hal inilah yang sering dikatakan bahwa novel itu mampu masuk alam bawah sadar pembaca yang akhirnya membentuk karakter pembaca. Namun AH J Khuzaini memilih jalan lain dari kenyataan dramatik.

Kesustraan secara teoritis Rene Wellek dan Austin Werren membaginya menjadi dua kajian pendekatan yaitu instrinsik dan ekstrinsik. Dalam kajian instrinsik mencakup Modus Keberadan Karya Sastra, Efoni, Gaya, Citra, Sifat dan Ragam Fiksi Naratif, Genre Sastra, Penilaian Dan Sejarah Sastra. Sedangkan Studi Pendekatan Ekstrinsik Meliputi Sastra Biografi, Sastra Dan Psikologi, Sastra Dan Masyarakat, Sastra Dan Pemikiran Dan Yang Terakhir Sastra Dan Seni.

Sebelum melakukan kajian anaysis content atau analisa isi novel yang menjadi bagian dari perkembangan penulis novel Lamongan, perlu diutarakan sedikit keberadaan penulis novel Lamongan lainnya, diantaranya adalah Viddy A.D. yang terkenal dengan novel kependekaran, diantaranya yang berjudul  Pendekar Sendhang Dhuwur. Ahmad Syauqy Sumbawi dengan novel  Dunia Kecil Panggung dan Omong Kosong, Maulana Alfarisi, Rodhi Murtadho, Ahmad Zaeni, Imamudin SA, Zehan Zarees, dan masih ada penulis lainya. Walau sebenarnya kering dengan diskusi sastra. Lamongan sebenarnya punya puluhan penulis novel dan ratusan karya sastra. Dan kali ini kita kedatangan penulis novel asal Gresik yang kini tinggal di Lamongan, yaitu Ah J Khuzaeni yang telah menulis novel dengan judul Gerak Gerik.

Novel Gerak-Gerik yang setebal 360 halaman ini disajikan layaknya obrolan di warung kopi.  Topiknya perlompatan kesana kemari. Mulai dari persoalan power syndrome, perubahan, restorasi, rekonsiliasi yang dilatari persoalan kaderisasi organisasi ekstra kampus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, bahkan pernyatan filsafat dan tasawufpun menjadi bagian dari rasa nikmatnya paitnya kopi. Bukan hanya lompatan topik, juga kehadiran tokoh-tokoh pun tipis identitasnya, sebagaimana warga warung kopi, hadir mengalir yang tidak akan mempersoalkan status sosialnya, tidak ada istilah pelanggan lama dan baru.

Pilihan-pilihan unsur dramatik dan karakteristik tokoh-tokoh sebuah novel yang begitu tipis tersebut memancing keterbukaan para kritikus menemukan banyak kemungkinan-kemungkinan studi pendekatan dalam kajian teori sastra walau sebenarnya penulis sudah mengklaim dirinya dalam novelnya adalah komedi realis yang memberikan penekanan obrolan dialektis beralur maju dengan sedikit kilas balik.(Pengantar:xi)

Percayalah, bahwa seringkali kehendak karya sastra itu tak sejalan dengan apa yang jadi kemauan penulis. Ia semacam makhluk yang diluar kendali penciptanya. Ia lebih memilih nasibnya sendiri, maka klaim penulis tidak akan pernah bisa menutup rapat kemungkinan-kemungkinan genre lain dalam pikiran pembaca. Sebab resepsi pembaca hadir secara bersama-sama antara hayal dan pengalamannya.

Ya, warung kopi, tanpa ada dramatik  yang berlebihan, tanpa ada alur yang direkayasa, mengalir seperti usia manusia yang pasrah akan takdirnya.  Dalam novel ini tiada tokoh siapa yang sebenarnya sungguh-sungguh antagonis dan sungguh-sungguh protagonis. Sang tokoh orang pertama AKUpun lebih banyak sebagai penyimak obrolan para kakek di warung kopi. Peran lebihnya sebagai penyambung cerita pertemuan para kakek dengan neneknya. Sang tokoh orang pertama AKU identitasnya begitu terbuka pada bagian akhir novel ini. Ia putus dari sekolah bukan lantaran kemiskinan atau keterbatasan intelektual  mengikuti mata pelajaran, bukan, tapi persoalan lain yang dalam dunia pergerakan disebut idealis. Tersesatlah ia pada situasi horror dalam gudang sekolah yang secara misterius bertemu dengan yang sebenarnya bukan seorang tukang kebun dan perempuan cantik penjaga perpustakaan.

AH J Khuzaini dalam novel gerak-geriknya memilih tidak setiap karya sastra itu harus imaji indrawi sebagaimana yang diunggkap Renne Wellek dan Austin Warrren dalam bukunya The Theory of Literature yang diindonesiakan oleh Melani Budianta.

“Banyak karya sastra tidak membagkitkan imaji indrawi, kalaupun ada imaji itu muncul secara kebetulan dan kadang-kadang. Bahkan dalam menampilkan tokoh, seorang pengarang tidak selalu perlu memakai citra klasik. Tokoh-tokoh yang diciptakan pengarang Rusia, Dotoevsky, dan vovelis besar inggris, Henry James misalnya, sukar dibayangkan sosok fisiknya, tetapi kita mengenal segala sesuatu tentang pikiran, motivasi, penilaian dan keinginan-keinginan mereka. Juga penulis membuat suatu gambaran umum yang skematis yang dibangun atas satu kecendrungan fisik tertentu. hal ini sering dilakukan oleh Tolstoy pengarang Rusia dan Thomas Mann pengarang Jerman (2016:19)

Sebagaimana catatan di atas, kebanyakan pengarang bertipologi tersebut menganggap terlalu banyaknya ilustrasi menjelaskan karakteristik tokoh-tokoh justru sangat mengganggu. Pengarang cukup memberikan gambaran umum dan tidak diceritakan secara detail.

Novel ini dibuka dengan perjalanan panjang dengan naik kereta api menuju arah barat dengan diceritakan tokoh gadis yang duduk di bangku depanya, namun sayang, hanyalah satu senyum lalu gadis tersebut mengilang bersama tidurnya. Andai tokoh itu hadir dalam novel popular ia akan menjadi tokoh utama yang dijelaskan secara detail fisik dan sifatnya, ia akan hadir dari bagian satu ke bagian yang lain, bahkan mungkin sekali menjadi pengakhir dari cerita. Namun tidak, sebab penulis memilih jalan lain.

Sebagaimana tokoh-tokoh Gerak Gerik Pak Setu, Duki, Tirto, Endang, Panca,  nenek dari AKU adalah tokoh-tokoh yang mempertebal halaman novel ini dengan dialog-dialognya yang nyocos layaknya para mantan aktifis yang mengalami power syndrome sedang diskusi di warung kopi. Secara fisik tidak diceritakan secara detail, hanyalah gambaran umum usianya yang tua dengan pilihan diksi kakek dan nenek yang pernah aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.

Dianalisa dari dialog-dilaog yang diungkapkan bertubi-tubi itu akhirnya pembaca akan bisa mengenal tentang pikiran, motivasi dan keinginan-keinginan tokoh-tokoh dalam novel tersebut, pikiran dan keinginan tentang perubahan, restorasi, rekonsiliasi terkait persoalan-persoalan kaderisasi dalam organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.

Walau ada pandangan yang meragukan kandungan filsafat pada karya sastra sebagaimana yang pernah diungkapkan Goerge Boas dalam ceramahnya. Namun secara umum ada berbagai cara untuk menjabarkan hubungan sastra dan pemikiran. Sastra sering dilihat sebagai suatu bentu filsafat atau sebagai bentuk pemikiran yang terbungkus dalam bentuk khusus. Dalam perkembangannya banyak karya-karya sastra yang seringkali dihubungkan dengan kajian filsafat, terutama yang ada kaitannya dengan Eksistensialime. Diantaranya Leo Tolstoy, Albert Camus dengan Caligulanya, Samuel Becket dengan menunggu Godotnya.

Sebagaimana setiap dalam membuka bagian-bagian cerita, AH J Khuzaeni selalu menghadirkan filosofi kalimat dari beberapa filsuf. Diantaranya adalah Dengan humor kita dapat sejenak melupakan kesulitan hidup Gus Dur. Keadilan yang terlalu mendalam dapat membuat seseorang menjadi gila Aokiji. Dulu aku ada di sini, dan kata-kata ini telah membimbingku sampai akhir Gol D. Roger.

Nampaklah kesadaran penulis bahwa novel Gerak Gerik ini berusaha menggandeng perkembangan pemikiran filsuf. Ada jalan lain dalam sebuah novel selain menghibur, ia menawarkan pemikiran-pemikiran yang kontemplatif yang sesungguhnya lebih asyik didiskusikan sebagaimana pada peristiwa yang terjadi pada sebuah novel, pada sebuah cangkrukan warung kopi..

Pada simpulan akhir, AH J Khuzaeni dengan novel pertama Gerak-Geriknya ini ingin menyampaikan pemikiran-pemikiran yang seringkali tereksplorasi dalam dunia pergerakan, bahwa sesungguhnya aktifis itu adalah kaum akademik, layaknya para filsuf Yunani yang seringkali bertemu pada sebua taman acadomus, mendiskusikan pemikiran-pemikiran yang akhirnya menjadi teori baru tentang hakekat manusia dan kesemestaan alam. Gerak Gerik menghadirkan ruang diskusi pemikiran warung kopi yang sering diabaikan para akademisi. Diakui atau tidak, dari sanahlah dunia pemikiran, pergerakan dan kekaryaan seringkali hadir. AH J Khuzaeni telah merefleksikannya dalam novel pertamanya.

Selamat mendiskusikannya.!

UNS Solo, 26 Oktober 2018

Makna dan Dialektika dalam Buku Lukai Aku Sekali Lagi

Oleh Aguk Irawan MN*

Seorang penyair yang baik tahu, bahwa selain ia seorang yang rajin tadabur dan tafakur, ia juga sekaligus pengubah dunia, setidaknya pengubah bagi para pembacanya. Karena tiap kata yang ditulisnya, ia telah membangun sesuatu, sebuah struktur, dari bahan-bahan yang bisa jadi terbenam lama di benaknya, dan mewakili perasaan bagi yang lainnya. Sebab bahan penulisan puisi, sesungguhnya berasal dari jiwa dan ingatan, dan tiap manusia mempunyai dua hal ini.

Demikian inilah seorang penyair hadir sebagai pengubah dunia, terutama dunia pembacanya. Pembaca menghayati, sekaligus mengikuti kesaksian sang Penyair, untuk memasuki dunia yang “mendiamkan” semua hal dan bisa terapung dalam tiap kata sang penyair. Dengan kata lain, pengalaman puitis adalah pengalaman spiritual yang bisa menyeret siapapun yang mengikutinya (membacanya). Pengalaman demikian ini orang menyebut fase systole, pengalaman kedua, bagi penikmatnya disebut fase diastole. Antara keduanya ada proses dialektika dan pinjam-meminjam makna di sana, terjadi serentak dalam tubuh puisi.

Demikian halnya antologi puisi ini, “Lukai Aku Sekali lagi” yang ditulis Ali Baba (dua penyair; Ali Adhim & Hanny Lubaba), ada proses penemuan makna dan dialektika di sana, antara saya sebagaipembaca, dan dia sebagai penyair, yang menjaring ingatan dan kedalaman batin dalam rumpun kata-kata yang terpilih. Kata-kata yang bukan hanya tanda dari konsep-konsep atau ide-ide, melainkan juga rumpun kata yang hidup dalam jiwa dan bisa mewakili yang lain. Mari kita petik beberapa baris katanya:

 

Lukai aku sekali lagi

Agar aku bisa mati

Daripada aku tersiksa

Karena masih punya cinta

 

Mendustai ikrar suci

Kau penjahat tak punya hati

Kesetiaan bagimu tak punya makna

Bahagiamu memberi segudang derita

 

Senyumku telah hilang

Tergantikan ilalang di seberang jalan

Aku terima

Lukai aku sekali lagi, tak apa.

 

[Lukai Aku Sekali Lagi, 2]

 

Tiga larik di atas, si Penyair Ali Baba, memberi alternatif bagi ruang batin seseorang yang telah disakiti dan menjadi remuk, dengan cara lain, yang unik, tak lazim dan paradok, yaitu menyerahkan hatinya untuk kembali disakiti. “Lukai Aku Sekali Lagi”, adalah sebuah metafor, yang unik, tetapi itu ada, dan karena cinta, semua jadi bisa dimengerti. “Lukai Aku Sekali Lagi” adalah semacam dislokasi arti kata yang sulit bisa diraih nalar, tetapi sebagai sebuah ide dan gagasan akan kecintaan ia bisa diterima oleh hati yang mempunyai cinta. Juga, pada waktu yang sama, rasa sakit dan air mata memang bisa menjadi tangga menuju pusat tertinggi spiritualitas. Jadi peran penyair sebagai pengubah dunia, setidaknya bagi pembaca, di sini terbuktikan.

Orang bilang, ingatan tak pernah solid dan stabil; ingatan itu mirip kertas, dengan mudah melayang, tertiup angin. Tetapi rasa sakit karena cinta, orang merasa selalu solid dan stabil. Kerena itu, ketika rasa perih itu menampakkan diri di depan kita, sebenarnya yang terjadi di dalam batin kita adalah sebuah proses saling meminjam. Kita yang menemukan rasa perih itu ternyata juga dirasakan oleh orang lain, dan kata-kata dalam puisi menjadi semacam penghubung ruang batin yang sama-sama terluka, menuju sebuah sense (makna), feeling (rasa), tone (nada), dan intention (pesan). Maka, jika kita sepakat dalam sebuah asumsi, bahwa rasa perih dan luka selalu solid dan milik bersama, maka tak ada yang kebetulan dan merasakan luka. Berangkat dari kemiripan ini, maka jauh hari, saya juga pernah menulis sajak yang serupa:

 

Dalam tiap luka, apalagi berdarah, pasti ada warna merah

hal-hal yang berwara merah selalu nampak lebih indah bukan?

seumpama, bibir tipis seorang gadis, bunga mawar, kupu-kupu,

senja yang hampir memeluk malam, daun-daun taman yang dipingit

lampu hias, atau mungkin perasaan rindu yang lembab?

karena itu, jangan pernah kau ragu, lukai aku sekali lagi

atau bahkan seratus kali lagi, karena kau tahu

aku selalu rindu dengan caramu menyiksa aku berhari-hari,

bukankah nyeri lebih bunyi ketimbang sunyi?

 

[Lukai Aku Sekali Lagi, Cairo, 2005)

 

Manusia memang memerlukan bahagia. Tetapi kebahagiaan tidak akan pernah sempurna tanpa luka, atau kesedihan yang menyayat. Karena itulah antara saya dan Ali Baba, agaknya perlu merayakannya. Bersamaan dengan itu, kata “lukai aku” membawa imaji melodramatik, suatu pertentangan yang harus dihindari sepenuh gairah, tapi juga menjadi pelengkap. Luka ibarat sebuah monumen sejarah, yang perlu dikenang, sebagai bagian esensial dalam hidup, meskipun kehidarannya tak pernah diharapkan. Itu sebabnya, “bahagia” dan “sedih” hanya persoalan pergantian dan juga selalu proses, dan tiap pergantian ada jedah, split yang perlu direnungkan sebagai sebuah makna, dalam hal ini Ali Baba menulis puisi yang cukup menghentak.

 

Aku pergi ke laut

Laut bertanya padaku

“Apakah kau sedang jatuh cinta?”

Tidak, jawabku

“Lantas kenapa kau tulis nama seseorang di atas pasirku?”

 

Aku pergi ke gunung

Gunung bertanya padaku

“Kau sedang kasmaran ya?”

Tidak, jawabku

“Lalu kenapa kau bawa kertas dan bolpoin

Untuk menulis namanya lalu kau foto di hadapan wajahku?”

 

Aku pergi ke mushola

Karena lelah kemudian tertidur

Lalu aku bermimpi berada di masjidil haram

Ka’bah tersenyum melihatku menyebut namamu dalam do’aku

 

[Konstitusi Cinta]

 

Yang menarik dari puisi di atas adalah adanya dialaog eksistensial antara “ada” dan “tiada,” juga antara keberadaan laut dan gunung dengan wajah kekasih yang begitu terasa, tetapi absurd. Cerita rekaan dan tanya jawab diolah menjadi bagian dari ketegangan yang tak pernah dapat diselesaikan dalam hidup. Perasan cinta pada sesorang dan indahnya gunung tak membuat perbedaan. Ketika rasa itu begitu mengepung, bahkan memenuhi jiwa manusia, apa ada yang bisa disalahkan? Apa perasaan itu bisa dibinasakan? Demikian, di hadapan cinta, kita sering menjadi limbung dan tak berdaya. Setiap usaha untuk melenyapkan perasaan cinta, setiap itu cinta makin kuat dan kokoh. Hampir semua puisi yang terkumpul dalam buku antologi ini, bicara dan mentafakuri hal-hal eksistensial seperti itu. Selamat membaca!

 

Yogyakarta, 26 Januari 2018

 

*Penulis buku kumpulan esai, Pesan Al-Quran untuk Sastrawan, Penerbit Jalasutra.

 

Agama dan Kesadaran dalam Beragama

Agama lahir ialah untuk kemanusiaan, sebagaimana makna yang terkandung dalam kata “a” yang berarti tidak, dan “gama” yang berarti kacau. Jadi, tujuan diciptakannya agama ialah agar manusia bisa hidup secara teratur sehingga tercipta kedamaian, kesejahteraan, dan terhindar dari berbagai bentuk kekacauan.

Namun, miris ketika makna sakral sebuah agama diterjemahkan kedalam hal yang tidak semestinya. Bahkan agama justru dijadikan alasan oleh sebagian kelompok orang sebagai biang kekacauan.  Hal ini justru melenceng dari tujuan ke ber-Agamaan yang semestinya mengatur hidup manusia. Tujuan beragama ialah untuk memanusiakan manusia, bukan menghancurkan makna kemanusian dengan berbagai tindakan-tindakan yang tidak berperikemanusiaan.

Ketika agama tidak bisa dijadikan sebagai sistem pengatur dari kekacauan, maka, apa bedanya orang yang beragama dengan yang tidak beragama? Bukankah agama pada dasar hakikatnya ialah untuk kebaikan, bukan merusak tatanan kehidupan.

Dari sinilah kemudian buku “Bahaya Mengkafirkan Sesama Muslim” ini hadir sebagai jawaban atas permasalahan umat Islam yang sedang dihadapkan dengan polemik pengkafiran antara kelompok dan golongan. kelompok Islam radikal merupakan kelompok yang menjadikan konsep Hakimiyah sebagai konsep pemikiran mereka (hlm.5), dan dari konsep ini lahirlah beragam konsep yang ujung-ujungnya ialah menganggap orang-orang yang tidak sejalan dengan mereka sebagai orang-orang jahiliyah, sehingga perlu untuk disingkirkan.

Kelompok radikal sangat menjunjung tinggi klaim kebenaran (Truth Claim) atas fanatisme buta yang mereka pahami. Hal tersebut sangatlah berbahaya dan menjadi ancaman serius dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Tidak mungkin akan terwujud persatuan dan kesatuan jika satu sama lain saling serang, saling hujat dan saling menebar kebencian disana sini.

Takfir atau pengkafiran menjadi senjata utama kelompok radikal dalam mengklaim kelompok yang tidak sepaham dengannya. Padahal, kata kafir ini bukanlah kata sembarangan yang dengan mudah dilempar kepada siapapun, karena makna kafir ialah orang yang mengingkari ketuhanan, tauhid dan risalah. (hlm. 13), dengan kata-lain, orang yang kafir ialah orang yang telah terlepas dari Allah Swt. atas pengingkaran yang telah dilakukannya. Konsekunsinya ialah orang yang kafir akan mendapat laknat dan siksa Allah Swt. Dari itu kemudian dapat ditarik benang merahnya bahwa perkara kafir merupakan perkara yang agung dalam agama, sehingga tidak boleh di-peralat sebagai tunggangan egosentrime klan atau golongan.

Kafir-mengkafirkan termasuk juga dalam wilayahnya syariat dan hak murni Allah Swt. Sehingga tidak boleh dijadikan alasan untuk memvonis orang lain atau golongan atas dasar kebencian karena tidak sejalan, kecuali orang yang telah dinyatakan kekafirannya oleh Allah dan Rasulnya.(hlm. 22)

Pengkafiran juga tidak boleh dijatuhkan kepada orang atas perbuatan yang dirinya tidak ketahui, karena bisa jadi orang yang melakukan itu baru masuk Islam dan pengetahuan agamanya sedikit atau mungkin orang Islam yang telah lama memeluk Islam tapi tidak mendapatkan pendidikan agama yang cukup. Maka orang seperti ini tidak dikafirkan disebabkan ketidaktahuan yang ia lakukan sampai ditegakkan padanya hujjah (argumentasi).

Oleh sebab itu, maka pengkafiran merupakan hal yang sebisa mungkin untuk dihindari oleh umat Islam, menghakimi seseorang bukanlah perkara mudah dan dengan gampang kita layangkan vonis kafir kepada orang yang sebatas kita “duga” saja. Jadi, lebih baik kita keliru dalam menyatakan orang tersebut tetap Islam, daripada keliru menyatakan orang itu kafir. Senada dengan perkataan Imam Al-Ghazali, “Kesalahan dalam membiarkan hidup seribu orang kafir itu lebih ringan ketimbang kesalahan membunuh satu nyawa muslim”.(hlm.62)

Bagaimanapun menilai seseorang itu kafir dalam pandangan kita, akan lebih baik untuk tidak memvonisnya sebagai orang kafir, melihat ada beberapa pertimbangan yang perlu kita pahami terlebih dahulu. Atau kita ber-tabayyun terlebih dahulu guna mencari kejelasan atas ketidaktahuan dan kegelisahan dalam hal tersebut.

Buku ini ingin mengajak pembaca kembali kedalam titik sentral kemoderatan. belajar untuk tidak serta merta mengkafirkan orang lain ataupun kelompok, dan memberikan kesan bahwa diri kitalah yang paling benar. Tapi bagaimana menghadapi perbedaan pandangan dengan kacamata rahmat, dan menyelesaikan sebuah masalah dengan tabbayun demi mendapatkan kejelasan yang utuh, agar sesama umat Islam tidak terpecah belah dan terbangun solidaritas dan soliditas dengan tetap memegang teguh Ukhuwah Islamiyah sehingga ungkapan Islam Rahmatan Lil Alamin semakin nyata dalam Internal Islam itu sendiri secara khusus. Jika dalam Islam tidak bisa mewujudkan hal tersebut, maka bagaimana bisa mewujudkannya dalam kehidupan yang lebih umum lagi?. Wallahu A’lam.

 

Tulisan ini pernah dimuat di; www.harakatuna.com

 

Identitas Buku

 

Judul                           : Bahaya Mengkafirkan Sesama Muslim

Penulis                        : Dr. Yahya Nuryadi, LC. MA.

Tahun Terbit             : Cetakan Pertama, Maret 2018

ISBN                           : 978-602-5653-06-3

Penerbit                      : Belibis Pustaka

Peresensi                    : Nuvilu Usman Alatas, Pustakawan PP. Annuqayah daerah Lubangsa dan Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika).

Post Pagination

Menggeledah Gerakan Hizbut Tahrir

Fatwa-fatwa penolakan ulama terhadap Hizbut Tahrir (HT) yang diduga terlibat dalam serangkaian teror dan kekerasan atas nama agama di belahan dunia mendapat perhatian sejumlah kalangan, baik dari agamawan, aktivis keagamaan, bahkan pengamat politik.

Dalam kenyataan sejarah yang selalu terjadi berulang kali, bahwa agama sama sekali memang tidak dapat steril dan bersih dari berbagai hasrat dan kepentingan manusiawi, sehingga dalam titik tertentu agama kerap kali ditunggangi, demi interest dari kelompok tertentu. Agama menjadi semacam legitimasi sikap polaris dan kepentingan suatu kelompok.

Walaupun Hizbut Tahrir menentang ideologinya dikait-kaitkan dengan kekerasan dan terorisme, pada kenyataannya, anggota-anggota mereka dididik dan terlibat langsung pada kekerasan tersebut. Anti-terorisme hanya lipstik dan topeng semata.

Peristiwa 31 Juli 2006, dua bom ditemukan di kereta api Jerman. Keduanya ditemukan tersembunyi di dalam koper sementara kereta sedang bergerak. Disusul tragedi tanggal 19 Agustus, Youssef Mohammed al-Hajdib, seorang pelajar Muslim Lebanon berusia 21 tahun, ditangkap di stasiun kereta api Kiel. Dia didakwa dengan percobaan pembunuhan, termasuk organisasi teroris dan berusaha menyebabkan ledakan. Kemudian pada tanggal 25 Agustus orang kedua-seorang Suriah bernama Fadi Al-Saleh-ditangkap. Keduanya telah ditangkap di Lebanon. Salah satu tersangka yang ditahan di Lebanon, yang memakai nama kode “Hamza,” ditemukan sebagai anggota Hizbut Tahrir.

Pertanyaannya, bagaimana menguji kebenaran asumsi dan stereotip negatif itu? Buku ini selain memberikan informasi penting seluk-beluk percobaan-percobaan kudeta gagal dan serangkaian teror kekerasan yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir, juga menyediakan ruang dialektika-kritis bagi pembacanya, bagaimana mestinya kita menyikapi gerakan yang mengusung misi khilafah Islamiyah itu.

Mohammad Nuruzzaman, penulisnya terlihat bersemangat dan berapi-api mengeksplorasi bahasan tema dalam buku yang mempunyai ketebalan 144 halaman dan 5 sub bab ini. Hal itu kemudian mendapat apresiasi dari Ketua PP GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas, karena dirasa buku ini sangat penting untuk dibaca masyarakat Indonesia, Gus Yaquf menganggap buku ini sebagai upaya untuk membentengi aqidah masyarakat juga sebagai bentuk upaya untuk tetap menjaga keutuhan NKRI.

Buku yang ditulis  Nuruzzaman ini menjadi salah satu karya yang berhasil memotret dan merekam agenda-agenda tersembunyi Hizbut Tahrir di seluruh penjuru dunia secara kritis dan komprehensif. Pada bab pertama, dijelaskan aspek historis, doktrin yang diajarkan oleh Mohammed Tagiuddin al-Nabhani.

Menurut Michael R Fischbach, pendirian Hizbut Tahrir al-Nabhani datang bersamaan dengan resminya Ikhwanul Muslimin. Dia menjadi kecewa dengan Ikhwanul Muslimin (Moslems Brotherhood) karena memiliki hubungan erat dengan pendirian Yordania. Jordan tidak pernah berusaha untuk melarang MB, dimana ia beroperasi dengan nama Islamic Action Front. MB telah mengirim banyak pejuang melawan Israel dan awalnya berkolusi dengan kudeta “Pejabat Bebas” di Mesir, yang berlangsung pada tanggal 23 Juli 1952. Pada bab ini Nuruzzaman juga memberikan perhatian khusus sehingga tersaji secara sistematis, runtut, dan dramatis.

Menurut Nuruzzaman, buku ini dilandasi beberapa faktor penting. Salah satunya yaitu adanya anggapan masyarakat yang menilai bahwa keputusan pembubaran HTI oleh Kementerian Hukum dan HAM adalah tindakan yang salah karena melarang dakwah Islamiyah di negaranya sendiri. Padahal secara tegas Ketua MUI, KH Maaruf Amin mengatakan, “Sekarang HTI itu dipertanyakan komitmen kebangsaannya oleh pemerintah. Karena mereka mengusung isu Khilafah. HTI memang pantas untuk dibubarkan.”  (Back Cover-Endorsement).

Pada bab kedua, Nuruzzaman membongkar keterlibatan Hizbut Tahrir dalam kekerasan dan pengeboman. Peristiwa memilukan, Asif Hanif dari Hounslow, berhasil meledakkan dirinya. Dia membunuh tiga orang dan melukai 65 lainnya. Temannya, Omar Sharif dari Derby, tidak bisa meledakkan ikat pinggangnya dan melarikan diri. Mayatnya yang membusuk ditemukan mengambang di laut 12 hari kemudian. Kedua orang tersebut dikaitkan dengan kelompok radikal Al Muhajiroun, yang berevolusi dari Hizbut Tahrir. Omar Sharif dijadikan radikal oleh HT di universitas, dan menerima surat elektronik dari kelompok tersebut sampai saat dia mencoba meledakkan dirinya.

Hizbut Tahrir, tentu saja, mengklaim bahwa itu tidak ada hubungannya dengan mereka. Perpecahan bekas Uni Soviet telah menciptakan negara-negara di Asia Tengah yang sejak pertengahan 1990-an menjadi rentan terhadap kemajuan Hizbut Tahrir dan “teologi pembebasan” militannya.

Pada bagian ketiga dalam buku ini mengungkap dilema pelarangan Hizbut Tahrir. Nuruzzaman mengatakan “Kita harus memulai dari Inggris, karena di sanalah pusat Hizbut Tahrir berdiri.” Persoalan yang dihadapi oleh Inggris dilematis. Sehingga usaha membubarkan Hizbut Tahrir tidak gampang seperti membalik telapak tangan.

Hizbut Tahrir dilarang hampir di semua negara Arab di Timur Tengah, seperti Yordania, Suriah, Lebanon, dan Mesir. Gerakan ini dilarang di Tunisia, Libya, dan juga Turki. Mereka dianggap sebagai ancaman, dan bahkan dilarang di Arab Saudi dan juga di Pakistan, yang sudah merupakan klimaks ekstremisme. Aliran ini dilarang di semua negara bekas jajahan Soviet di Asia Tengah. Sejak Februari 2003 mereka telah dilarang di Rusia. Mereka juga telah dilarang di Jerman  karena anti-Semitisme dan keinginannya menggunakan kekuatan untuk tujuan politik. Sejak Maret 2003, mereka juga dilarang di Belanda. Sayangnya, masih saja ada negara-negara yang mengalami dilema untuk melarang keberadaan Hizbut Tahrir.

Kesimpulan yang menarik diberikan oleh Nuruzzaman pada bab ketiga ini adalah bagaimanapun, ideologi Hizbut Tahrir dianggap berbahaya oleh para penguasa dengan sistem pemerintahan yang kontra khilafah. Ideologi itu dianggap berbahaya karena menyimpan potensi revolusi. Apabila revolusi terjadi, maka tidak tertutup kemungkinan terjadi pertumpahan darah yang mengerikan. Hampir negara-negara yang melarang Hizbut Tahrir melihat percik-percik revolusi berupa kekerasan muncul ke permukaan.

Di bab keempat, diskusi tentang bagaimana fatwa-fatwa penolakan ulama dunia terhadap Hizbut Tahrir. Dalam sinopsis bukunya, Nuruzzaman memantik pembahasan fatwa-fatwa penolakan itu dengan tegas dan lantang. “Para ulama Muslim di berbagai penjuru dunia tidak setuju dengan gagasan dan misi yang dibawa oleh Hizbut Tahrir. Menurut ulama’; Asia, Timur Tengah, Eropa, bahkan Australia, Rusia, dan sekitarnya secara tegas mengatakan bahwa konsep khilafah Hizbut Tahrir bukan malah mempersatukan umat Islam tetapi malah akan memecah belah umat Islam. Apalagi Hizbut Tahrir mengharamkan demokrasi, nasionalisme, dan patriotisme. Jika Hizbut Tahrir dibiarkan jelas akan memicu perpecahan di tengah masyarakat.

Pada bab terahir, Nuruzzaman mencurahkan tenaga dan pikiran untuk melakukan kajian kritis atas ideologi dan citra Hizbut Tahrir Indonesia. Ia mengaku bahwa mengkritik ideologi khilafah yang diusung Hizbut Tahrir, termasuk Hizbut Tahrir Indonesia, bukan perkara mudah. Sebab, organisasi ini mencitrakan dirinya terus-menerus sebagai organisasi yang anti-terorisme, dan diam-diam mendukung aksi kekerasan, intoleransi, dan anti-pluralisme, juga anti-demokrasi.

Pandangan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) atas Pancasila, memang menarik dan mengandung kontradiksi. Di satu sisi, mereka menyebut Pancasila sebagai “ideologi kufur” yang harus ditolak karena ketidaksempurnaan Pancasila dalam dirinya sendiri. Di sisi lain, mereka menerima Pancasila sebagai seperangkat falsafah (set of philosophy).

Di tahun 1990, secara eksplisit HTI  mengkafirkan Pancasila. Kemudian pada tahun 2012, HTI menghaluskan pandangannya dengan menyebut Pancasila sebagai set of philosophy: rangkaian filsafat buatan manusia.

Ismail Yusanto mengatakan karena Pancasila mengakomodir pluralisme agama. Hal ini terdapat pada sila Persatuan Indonesia yang menjaga dan menghormati kemajemukan bangsa, salah satunya kemajemukan agama. Penghargaan atas kemajemukan agama ini bertentangan dengan prinsip HTI yang menekankan kebenaran tungal agama Islam. Kedua, karena Pancasila berisi kemajemukan ideologi-ideologi non-Islam, seperti sosialisme, demokrasi, dan nasionalisme. Padahal menurut HTI, mabda’ yang paling benar adalah mabda’ Islam. Dengan argumentasi itulah, maka Pancasila adalah “falsafah kufur” yang bertentangan dengan Islam.

Bagi Hizbut Tahrir Indonesia, Pancasila adalah gagasan filosofis yang baik. Hanya saja sebagai set of philosophy, ia tidak mencukupi (not suffictient) untuk mengatur tata pemerintahan di Indonesia. Mengapa? Selain karena jumlahnya yang hanya lima sila, Pancasila hanya merupakan gagasan filosofis yang tidak memiliki keturunan sistemik di dalam realitas politik. Turunan sistemik ini menyangkut sistem hukum yang mewujudkan keadilan sosial, sistem politik yang mendukung kerakyatan, sistem ekonomi yang mendukung kesejahteraan, dsb. Dengan tidak adanya rumusan sistem sebagai ejawentah dari Pancasila ini, maka set of philosophy tersebut tidak mencukupi dalam ketatanegaraan dan tata poitik.

Intinya, karya Nuruzzaman ini merupakan kajian komprehensif dan kritis. Secara khusus buku ini juga berusaha menggeledah gerakan Hizbut Tahrir beserta agenda tersembunyi dan implikasi politik internasionalnya. Selamat membaca! (Tulisan ini pernah dimuat di NU Online)

*Peresensi Ahmad Ali Adhim

Info Buku

Judul      : Catatan Hitam Hizbut Tahrir

Penulis   : Mohammad Nuruzzaman

Penerbit : Belibis Pustaka, Yogyakarta

Cetakan : Pertama, 2017

Tebal      : 144 Halaman

ISBN       : 978-602-6940-62-9