CINTA DI BAWAH CAHAYA

Siang itu, teriknya matahari menggigit kulit kusutku seakan ingin balas dendam dengan dinginya malam, membuat langkahku terpaku di sebuah masjid yang menjadi simbul lingkungan bernuasa Islam, aku lihat gedung hijau itu bertebaran diselimuti pagar, berdiri tegak saling berdampingan , mataku terpana dengan nama-nama penguasa yang terpampang disetiap bangunan, seakan menggiring pemikiran, inilah tempat bersemedi pemimpin pemimpin masa depan. Ditambah lagi menara tinggi yang menjulang ke langit, mengingatkan ku tentang tujuan kehidupan.
“ Bib, woyy..” bentak perempuan disampingku yang dari tadi sedang curhat tentang tugasnya
“ eh.. sory bah… kamu ngomong apa tadi? sahutku sambil kaget
“astagfirulloh Bib..kamu kesambet apa? Kalau ada masalah cerita donk..siapa tau aku bisa bantu..”
“ya udah kita pulang aja bah, sepertinya aku capek.. kuliah dari tadi pagi.. besok aja kita jalan lagi ”
Perempuan itu adalah pacarku namanya Naila, tetapi saya memanggilnya Bah asal kata dari kata Habibah yang artinya kekasih, begitupun juga Naila memanaggilku dengan panggilan Bib bukan Roy. Yah! itu adalah panggilan kesepakatan dari kita berdua, sebagai penguat agar hubungan yang kita jalin selama 2 tahun itu bisa harmonis.
Naila adalah sosok perempuan idaman lelaki, terbukti banyak yang mencoba untuk mendekati. Dia adalah anak seorang pemborong tebu yang kaya raya, dia cantik dan pintar dalam banyak hal, terutama dalam hal matematika karena itu jurusan kuliahnya.
Berbeda dengan aku, hanya anak semata wayang seorang janda yang hidup di desa, aku hanya mempunyai wajah pas pasan, jangan kan pintar dalam banyak hal, hukum islam yang setiap hari saya diskusikan di kelas selalu masuk telinga tanpa perkenalan, keluarpun tanpa permisi.
Entah setan apa yang merasuki Naila, sehingga menerima aku sebagai pacarnya. Tetapi satu hal yang saya ingat, Naila pernah mengatakan bahwa dia suka lelaki bertanggung dan setia yang menjadikan dia pertama dan terahir seperti putusan MK. Mendengar kata-kata itu, ketika aku diminta Naila untuk meminta izin kepada ayahnya tentang hubunga kita, aku berangkat tanpa ragu seperti kesatria yang sedang menjelankan tugas di medan perang.
******
Waktu terus berjalan, hubunganku dengan Naila semakin mendekati kursi pelaminan, karena janjiku kepada keluarganya akan menikahi Naila setalah aku lulus kuliah. Keadaan menjadi berbeda ketika kiyai Mangku Kawulo menelpon dan mengabarkan tentang perjodohan.
Kiyai Mangku Kawulo biasanya dipanggil mbah Mangku adalah guru mengajiku ketika kecil, beliau tidak hanya mengajar membaca al-Quran, tetapi juga mengajari bagaimana memaknai sebuah kehidupan. Beliau adalah sosok guru yang selalu menjadi rujukan santri-santri ketika dilanda kebingungan, Ibarat cahaya yang menerangi gelapnya malam. Beliau dikenal sebagai guru yang waskito oleh santri santrinya. Oleh karena itu semua santri tidak berani membatah apa yang menjadi perintahnya, termasuk aku sendiri.
HP ku bergetar, aku lihat nama mbah Mangku berjoget-joget diatas layar datar, dag dig dug hati ku bercumbu dengan ketakutan kesalahan masa lalu, aku yang sering tuna rungu dengan nasihatnya. Tembok kamar kosku seakan menjadi jeruji – jeruji penjaga narapidana. Menjadi kebiasaanku yang selalu takut ketika dipanggil namaku oleh mbah Mangku. Aku branikan diri untuk mengangkat telpon itu, meskipun bergetar seluruh tubuhku, “as..as..aslamualikum mbah Mangku”
“walikumusalam Roy.. bagaimana kabarmu Roy..” Tanya mbah Mangku dengan santai
“al-hamdulilah baik mbah Mangku” jawab ku tawadhu, seakan mbah Mangku ada di depan muka
“kamu kan sudah mau lulus, mau apa ndk kalau kamu tak jodohkan?” Tanya mbah Mangku dengan nada menantang
“tapi say sudah punya pacar mbah”
Mendengar jawaban ku, mbah Mangku masih berusaha merayu, “oalah sudah punya pacara? tapi calon ku ini bagus banget lo.. dia keturunannya mbah Hasyim!!”
“La terus bagaiamana pacar saya mbah?” Tanyaku sambil bingung
“ya udah gini aja, besok kamu berangkat ke acara pelantikan bupati Pasuruan, nantik perempuan dan keluarganya ada disana, yang penting kamu tahu dulu bagaimana perempun itu, dia namanya Saffa, ya udah gitu aja, wasalamualaikum”
Campur aduk pikiran dan hatiku, aku benar-benar dilanda kebingungan bagaikan ikan yang terkena tuba, pikat pun kehilangan mata. Dalam hati ku terpikir bagaimana nasib Naila, kekasih yang selalu aku sebut dalam setiap doa, bagaimana dengan janjiku yang akan menikahinya?. Dalam hatiku berkata akankah aku pertahan kan cintaku, siapa tahu mbah Mangku mau merestui hubunganku dengan Naila, yang penting aku akan datang ke pasuruan untuk menggugurkan kewajibanku.
******
Keesokan hari, jarum panjang jam dinding menjulang lurus keatas terlihat sedang bertolak belakang dengan lawannya, dinginnya pagi merupakan khas pegunungan menyerang seluruh tubuh tanpa acuh. Demi menggugurkan kewajiban tetap aku tumpangi motor butut peninggalan ayahku, butuh satu putaran jarum panjang jam dinding untuk menempuh tempat tujuan, tentu sebenarnya itu bukan tempat yang aku inginkan.
Kegundaan tentang nasib Naila membersamaiku dalam perjalanan, membuatku terasa cepat sampai kerumah bupati Pasuruan. Aku lihat bangunan yang sangat mewah berdiri berseberangan dengan masjid yang megah, aku menyimpulkan orang yang di dalam sana pasti tidak akan mau menerima rakyat jelata. Sudah lah! Aku kan hanya ingin menggugurkan kewajib, humamku dalam hati sambilku bawa motor bututku mendekati gerbang.
“permisi pak..saya dari Malang, utusan dari mbah Mangku, ingin menemui keluarga besar bupati” kataku kepada satpam penjaga gerbang
“oh iya mas silahkan..tadi bupati sudah pesan kepada saya, untuk memepersilahklan tamu utusan mbah Mangku” jawab satpam itu dengan santun.
Satpam itu berjalan menunjukan sebuah rauangan dimana banyak kerumunan orang yang menggunakan busana sederhana, bersama-sama sedang membaca ayat-ayat suci al-Quran. Taklama, Salah satu perempuan separuh baya menemuiku.
“masnya utusan dari mbah Mangku?” Tanya perempuan itu dengan sopan, seperti tak sewajarnya menjadi bagian keluarga penguasa.
“iya bu, saya utusan dari mbah Mangku..” balas ku tak kalah sopan
“oh iya mas,mari-mari silahkan duduk” kata perempuan itu, sambil menunjuk tempat yang sudah dipersipkan di depan kerumunan, terpampang sajadah yang di atasnya terdapat sebuah mic masih belum tersentuh tangan.
“kata Mbah Mangku, Masnya disuruh baca juz 30, sekalian doa khotmil Qur’anya” tambah perempuan itu, sambil tersenyum.
“oh bagitu ya bu..” kata ku dengan berat hati, seandainya tidak disebut nama Mbah Mangku, aku pasti menolaknya.
Acara Khotmil Quran itu berjalan dengan lancar, aku tutup acara itu dengan bacaan sholawat badar, sebagaimana yang diajarkan oleh mbah Mangku. Setelah khotmil Quran itu selesai, semua orang sibuk berbincang dengan sebelahnya sambil menyantap makanan yang telah disuguhkan, berbeda dengan perempuan separuh baya tadi, dia mendekati ku seakan ingin lebih kenal dekat denganku atau mungkin dia hanya ingin menghormatiku sebagai tamu.
“mas, namanya siapa dan aslinya darimana?” Tanya perempuan itu
“nama saya Roy, saya aslinya dari Lamongan, tetapi sekarang tinggal di Malang, soalnya masih kuliah di UIN Malang bu”
“oh begitu mas Roy.. kalau saya namaya Luluk dari Jombang”
“ semua yang ada di ruangan ini adalah keluarga besar, saya punya dua anak semuanya perempuan, yang paling kecil ndk ikut, yang paling besar itu namanya Saffa ” tambah bu Luluk, sambil menunjuk perempuan berkudung hitam yang sedang berbincang denga saudara disebelahnya. Badanya kurus dan wajahnya paspasan tetapi ketika dilihat tidak membosankan, masih jauh lah!! jika dibandingkan dengan Naila pacarku. Telingaku sudah tak asing dengan nama Saffa, dalam hati bertanya-tanya apakah perempuan ini yang akan dijodohkan denganku? Aku lupa siapakah nama yang disebutkan mbah Mangku kemarin. Ah! Tak penting, itu bukan urusan ku.
Bu Luluk meneruskan ceritanya, seakan aku sudah tidak lagi menjadi orang asing dimatanya “Saffa ini lagi kuliah di Malang, anakanya jurusan Matematika, sekarang sudah semester 7, mangkanya kemarin saya dan keluarga sowan ke mbah Mangku untuk minta jodoh buat Saffa”
“terus bagaimana jawaban mbah Mangku bu?” tanyaku sambil penasaran
“kata mbah Mangku, jangan terburu-buru.!! yah Ndak papa mas Roy, namanya juga nyari jodoh, gampang-gampang sulit..hehe” jawab bu Luluk sambil tertawa malu.
“hehe..iya bu”
Dari cerita bu Luluk tadi, aku menyimpulkan bahwa Saffa adalah perempuan yang akan di jodohkan dengan ku, tetapi kelurga besar bupati Pasuruan ini belum tau, kalau aku adalah lelaki pilihan mbah Mangku, cukup aku yang tau tentang itu. Aku ambil Hp dalam saku, mungkin ada pesan yang harus dibalas. Ternyata benar! Pesan masuk dari mbah Mangku, mengutus ku untuk langsung sowan kepadanya, setelah acara di Pasuruan selesai. Tak menunggu lama, aku langsung pamit ke bu Luluk seperti tamu pada umumnya, Aku anggap pertemuan tadi tidak ada yang istimemewa.
******
Perjalanan dua jam aku tempuh untuk menuju rumah mbah Mangku, sampai disana pukul 12 siang, bertepatan dengan waktu berjamaah mbah Mangku bersama para santri. Seusai berjamaah, aku langsumg sowan kerumah mbah Mangku, kebetulan waktu itu tidak ada tamu, sehingga harapanku nantik bisa memperjuangkan Naila, tanpa harus malu dengan tamu-tamu lainnya.
Aku ketok pintu,meskipun sudah terbuka, sebagai pertanda jika ada tamu, Kerena kebiasaan mbah Mangku kalau tidak ada tamu, beliau masuk kedalam kamarnya “tok..tok… asalamualaikum..”
“walikumusalam..” jawab mbah Mangku, terdengar dari dalam kamarnya, khas dengan suaranya yang berwibawa
“loh cah Bagus..” sapa mbah Mangku, seakan ingin selalu dekat dengan santrinya
“iya mbah, ini Roy” sambil aku cium tangan beliau dan tiba-tiba mataku meneteskan air mata, entah kenapa! aku juga tidak tahu, seperti sudah lama sekali aku merindukan pertemuan itu, bahkan sangat rindu.
“ayo silahkan duduk, gimana sudah tahu bidadari yang namanya Saffa .. hehe ” Tanya mbah mangku seperti bergurau sembari mempersilahkan aku duduk.
“alhamdulilah sudah mbah ” jawabku sambil menundukan kepala
“ pesen ku siji. . kalau menikah jangan karena kecantikanya saja, nanti akan dijelekkan oleh Allah, kalau menikah jangan karena kekayaannya saja nantik akan dimiskinkan oleh Allah” kata mbah Mangku, seakan dia sudah tau apa isi seluruh hati dan pikira ku. Aku terdiam tanpa kata, ku tarik nafasku seperti penyakit asma datang tiba-tiba.
“aku tadi malam bermimpi, kalau pertemuan mu di Pasuruan itu di restui oleh al-Marhum bapak ku, sekarag terserah kamu, kamu lebih memiih pacar mu apa perempuan pilihan ku.” kata mbah Mangku memberi pilihan, tetapi sebenarnya dia memaksa ku untuk memilih Saffa. Aku beranikan diri untuk menjawab dan mengakhiri teka teki pembicaraan mbah mangku, karena dalam pikiran ku masih berputar-putar tentang nasib Naila.
“mohon maaf mbah, misalnya saya shalat istikharah dulu bagaiamana?” jawabku, yang sebenarnya modus meminta waktu untuk tidak menjawab sekarang.
“ya silahkan.. berarti jangan balik ke Malang dulu, nginep di podok, nanti biar mudah kalau aku memanggil mu”
“iya mbah, dalem nderekaken …!!mohon pamit dulu mbah, saya mau istirahat di pondok” jawabku. Setelah itu ku cium tangan mbah Mangku dan bebaslah aku dari kursi panas.
Aku berjalan menuju kamar ku dulu ketika masih menjadi santri dipondok, bertemu dengan teman-teman lama, meskipun ada beberapa penghuni baru. Aku berusaha membuang masalah Naila dan Saffa untuk sementara, ku ganti dengan canda ria sambil memakan buah tangan yang ku bawa. Itulah kebiasaan kami, membawa jajan bagi santri yang baru kembali, Bukan karena kami menjadi pemeras tetapi ini wujud kecil dari solidaritas, kesedihan mu adalah tangis ku, tertawamu adalah bahagiaku.
******
Malam hari itu, sunyi, sepi, mengelabuhi gelapnya ruangan, hanya detik jam dinding yang terdengar. Aku duduk besila tepat di belakang tempat pengimaman, kepalaku menunduk seakan waktu itu yang kubutuhkan hanya petunjuk . Mulutku komat kamit mendadak berlaku seperti dukun dadakan.
Tak lama kemudian, aku beranjak dari tempat duduk, berjalan menuju tempat yang luas, seperti hamparan, lalat-lalat besi pakir dengan rapi, ku lihat perempuan berwajah paspasan sedang bergurau dengan anaknya, seakan dialah pemilik semuanya, aku merasa tak asing dengan wajahnya. Mataku kabur, ketika suara bel kendaraan roda tiga berbunyi sembari lewat dibelakangku, terlihat Perempuan cantik dengan anaknya sedang bergurau diatas kendaraan roda tiga, melambaikan tangan kearahku, seakan ingin menyapa keluarganya.
“allohuakbar, samiallohuliman hamidah ” suara lirih tapi jelas itu mengusik perjalananku, leherku terasa kram, karena 2 jam tak bergerak, maklum namanya ketiduran. Aku angkat kepalaku, ku lihat kesamping kanan, seorang berbaju putih sedang duduk tahiyat menghadap imaman, baunya harum semerbak bagikan malaikat subuh yang sedang bertemu bermunajjat dihdapan Tuhan. Ketika salam, kulihat wajahnya, ternya dia mbah Mangku. Tanganya menghadap kelangit. “ngalap barokah” kataku dalam hati, sembari amin ku ucapkan.
Masih di dalam mushola pondok itu, mbah Mangku berbalik badan menghadapku sembari berkata “kalau kamu masih ndk mau menerima perjodohan ku, anggap saja kamu ndak pernah kenal aku” lalu dia beranjak dari mushola, berjalan meuju rumahnya.
Kata-kata mbah Mangku itu menjadi sekakmaks pemberontakan mempertahankan Naila, aku lebih takut jika tidak dinggap santri, aku tidak mau menjadi bangkai yang berjalan di atas bumi. Siapa aku tanpa hadirnya mbah Mangku? Mataku terus mengucurkan air mata, dalam hatiku terus bertanya haruskah aku mencintai Saffa dan meninggalkan Naila?
****
Sudah satu minggu lamanya aku singgah di pondok, selama itu aku tidak pernah bertemu dengan mbah Mangku, mungkin karena aku lebih banyak tidur di kamar, memanjakan sebuah kabingungan. Angan-angan tentang mimpi itu, sebenarnya sudah terjawab oleh mbah Mangku. Ternyata perempuan pemilik halikopter itu adalah Saffa, sedangkan perempuan yang menaiki becak itu adalah Naila. Helikpter dan becak adalah pertanda kehidupanku kelak, jika menikah dengan perempuan yang menumpanginya.
Hari itu!! aku putuskan untuk menentukan. aku tidak mau terbelenggu dalam keadaan hanya karena masalah perempuan, aku memilih guruku ketimbang nafsuku, bagiamanapun di dalam guru ada ibu. Aku masih ingat sekali bagaimana pesan ibu kepada ku, bahwa restu ibu tergantung kepada mbah Mangku.

Dituis oleh Moh. Saddam Jamaluddin Ishaq

Bacaan Menarik
loading...
Saddam Ishaq

Saddam Ishaq

Santri PPTQ Nur Muhammad, Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, awardee LPDP Santri 2019, pegiat literasi di Gubuk Baca Baitul Kilmah Yogyakarta

View all posts

Add comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *