Artikel

Di Balik Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

25 November menjadi hari terbising di sosial media. Saya sengaja hanya mengamat-amati dan puasa bicara di hari itu, hari guru.

Saya tertarik dengan beberapa video yang diunggah teman saya saya. Ketika beberapa murid ditanya ‘siapakah guru itu’ mereka rata-rata menjawab ‘pahlawan tanpa tanda jasa’. Ada apa di balik gelar pahlawan tanpa tanda jasa?

Ada dua kemungkinan disematkan gelar yang cukup gagah ini; pertama guru memang berjasa dalam mencerdaskan anak bangsa, kedua jasa guru tidak bisa dibeli sehingga gajinya dibuat selangsing mungkin. Jika saya menyetujui pilihan pertama berarti saya narsis. Jika saya menyetujui pilihan kedua berarti saya tidak iklas. Begitulah kenapa saya sedikit berhati-hati menulis artikel ini.

Kata ‘guru’ tidak mengalami peyorasi, artinya memang orang yang pekerjaannya mengajar. Sempitnya, sebutan guru dikenal sebagai orang yang mengajar di sekolah. Apakah guru memang seberjasa itu sehingga disebut sebagai pahlawan? Jika ukurannya ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’, jasa guru tak besar-besar amat, bahkan cenderung memenjarakan anak.

Bukan bermaksud mengkhianati profesi guru, hanya saja seorang guru memang harus menyadari ini. Setiap anak secara otentik dilahirkan oleh alam. Kesalahan yang tidak bisa dimaafkan bagi seorang guru adalah ketika mereka pura-pura tak mendengar, tak melihat, dan tak merasa pada kenyataan bahwa anak di sekolah sedang dipisahkan dari alamnya dan sampai detik ini saya pun masih melakukan itu.

Kegelisahan tersebut nyata dan Nadiem Makarim sedang melakukan stretching melalui pidatonya di hari guru. Saya tidak kaget dan sama sekali tidak terpukau. Konsep pendidikan jiwa merdeka sudah ada sejak Ki Hadjar Dewantara melawan ordonansi sekolah di masa Penjajahan Belanda. Lah, pendidikan Indonesia saat ini kemana saja setelah sekian lama? Mungkin sedang jalan-jalan ke Finlandia, Jepang, atau Perancis. Setelah itu kembali ke Indonesia membawa bibit luar yang bagus namun tanah Indonesia belum siap.

Sekarang mari sedikit refleksi, benarkah kita pahlawan yang berjasa? Kita jangan lupa kalau ada Ibu Susi Pujiastuti atau Mark Zuckerberg sebagai sederet orang yang tidak banyak membutuhkan campur tangan guru di sekolah. Pada dasarnya setiap anak terlahir dengan dorongan belajar yang kuat. Tidak ada yang mengancam anak untuk belajar menyusu atau berjalan. Guru hanya membantu menumbuhkan inisitaif belajar. Sayangnya di sekolah, inisiatif belajar adalah insting yang tidak pernah benar-benar terasah, hanya dipaksa sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan.

Mmmmm, atau mungkin tugas seberat itu dengan gaji sekecil biji kurma, lantas menyemai gelar pahlawan tanpa jasa untuk guru? Bukannya masih banyak pekerjaan berat dengan gaji yang lebih kecil dibanding guru? Para pelaut yang setiap malam menyisir ombak, petani yang tiap hari melewati pematang, atau buruh yang setiap waktu diperas keringatnya. Jika menyebut ilmu sebagai pembeda profesi guru dari profesi lainnya, bukankah para pelaut, petani, dan buruh tersebut yang benar-benar memberikan ilmu kehidupan nyata kepada kita? Ah apapu itu, pokoknya saya merasa narsis sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, titik!

Eh, tapi, tapi, saya ingin menutup tulisan ini dengan kecurigaan. Sekolah terlanjur menjadi candu, guru gajinya kecil, dan gelar pahlawan tanpa tanda jasa, jangan-jangan ada hubungannya! Teringat Ivan Illich dalam buku ‘Deschooling Society’ yang cukup menarik dengan terjemahannya berjudul bebaskan masyarakat dari belenggu sekolah.

Sekolah menghegemoni kita bahwa pengajaran menghasilkan kegiatan belajar. Adanya sekolah menghasilkan permintaan akan sekolah. Begitu ingin belajar, kita seolah membutuhkan sekolah. Orang-orang akhirnya melucuti bahwa sekolah adalah satu-satunya lembaga pendidikan. Sejak SMA saya sudah mendengar bahwa Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional dengan SPP yang cukup mahal kala itu, namun gaji guru honorernya habis untuk transportasi saja.

Marginalisasi guru memang nyata adanya, tidak lain dan tidak bukan harus menjadi perlawanan kelas. Dijauhkannya guru dari pusat-pusat pembangunan nasional ekonomi, politik, budaya, mengakibatkan guru menjadi tidak berdaya. Marjinalisasi guru dilakukan sebagai kooptasi terhadap kekuatan-kekuatan rakyat yang dilakukan secara sistematis agar tidak menimbulkan perlawanan terhadap penguasa.

Dengan kondisi Indonesia sebagai negara baru merdeka, penyematan ‘guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa’ dilakukan atas dasar kemiskinan negara dan tingginya buta huruf rakyat. Lambat laun marginalisasi secara politis dihadirkan sejak masa Orde Baru. Bukan sekedar marginalisasi ekonomi, penyeragaman sosial, dan budaya juga terjadi secara sistemik.

Sebuah harapan besar saya nantinya untuk mas menteri bisa meregulasi pidatonya dan juga mensejahterakan guru. Hanya saja yang perlu digarisbawahi adalah fenomena saat ini memperlihatkan bahwa peningkatan gaji tak otomatis meningkatkan kinerja. Tidak perlu juga mengatur bagaimana membelanjakannya, hanya mengubah mindset agar gaji tidak sekedar untuk keperluan konsumtif belaka. Sedangkan membahas ketimpangan kelas sosial, kesejahteraan guru bukanlah satu-satunya yang harus diperjuangkan. Sungguh rumit namun asyik, Indonesiaku ini.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *