Artikel

Diary Anak Gaza : Pemakaman Ayahku

Mataku terbuka pelan-pelan. Namun, aku masih belum bisa melihat apa pun, selain samar-samar wajah orang-orang yang mengelilingiku. Kepalaku masih kurasakan begitu pening. Aku berusaha memutari pandanganku namun masih sia-sia, beberapa saat kemudian baru aku mulai bisa mengenali wajah-wajah yang mengelilingiku, aku langsung mencari ibuku sambil mengitrari pandangan mulut mungilku berujar pelan, “Fein mamah?”, “Ibu dimana?”

Aku langsung bangkit ketika melihat ibu masih terpekur sambil menangis di hadapan jasad ayah. Aku menghambur kepelukan ibu, dan ibu mendekapku begitu erat sekali. Aku melihat wajat ayah begitu jelas di pagi hari dengan tubuh yang sudah diletakkan di atas keranda kayu seadanya. Wajah itu penuh dengan debu dan bercak-bercak darah di sekujur tubuhnya. Aku menatap wajah ayahku pekat. Pekat sekali. Sejurus kemudian tangisku kembali meledak. Aku berusaha melepaskan pelukan ibu dan kembali memeluki tubuh ayahku yang membujur kaku.

Aku kembali menciumi wajah ayah, memeluknya,membenamkan wajahku di dadanya, dan sekali-kali meremas-remas tangan ayah. Sambil menangis tergugu mulut mungilku berkali-kali membisikan kalimat yang mewakili sepenuh kesedihan di hatiku, “Ayaaahh!!!! Jangan tinggalkan aku, Ayaaah, jangan tinggalkan aku!!! Begitu kalimat itu berulang-ulang aku bisikan lembut di telinga ayahku sambil tangisku pecah begitu dengan suara melengking memilukan. Aku menggerakan-gerakan tubuh ayahku, berharap mata indah yang selama ini memanjakanku itu terbuka kembali, namun mata itu tetap tertutup, seakan tidak mengasihi lagi kesedihan putri semata wayangnya.

Melihat putri kecilnya meratapi mendiang ayah, tangis ibuku kembali pecah, tangannya sekali-kali menengadah ke langit sambil menangis mulutnya berkali-kali berguman, “Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah, Allahu Akbar. Innalillahi wa Inaa Ilahi Roji’un” untuk kemudian tangisnya pecah meningkahi tangisku. Tangan ibuku yang sedari tadi mengelus-elus tubuh ayahku berusaha merengkuhku dan memelukku erat, “Ikhlaskanlah sayang, ikhlaskanlah kepergian ayahmu! Engkau masih mempunyai aku yang akan mencintaimu anakku, sabarlah sayang!” Begitu guman ibuku berkali sambil mengusap-usap air mataku yang tiada juga berhenti menetes.

Kejadian memilukan di pagi itu, membuat semua yang hadir menatap kami iba dan penuh kesedihan. Perlahan-lahan air mata menggenangi pelupuk mata mereka, ditingkahi isak mereka yang sesekali terdengar meningkahi tangis kami yang memilukan. Pamanku, yang sedari tadi memandang wajah adiknya yang terbujur kaku itu dengan isak yang berusaha ditahan membelai-belai kepalaku lembut sambil berujar, “ Sameeha, iklaskanlah ayahmu, biarkan ia tenang di akhirat sana!” Untuk kemudian perlahan-lahan keranda kayu itu diangkat oleh beberapa orang laki-laki dan tubuh ayahku pun dibawa menuju peristirahatannya yang terakhir.

Aku berusaha menggapai-gapai keranda itu, ingin rasanya aku menggotong tubuh ayah, untuk membalas semua kebaikan, kasih sayang, dan cintanya yang selama ini ia berikan kepadaku. Aku ingin menggendong tubuh yang setiap saat memelukku, menggendongku, dan memanjakanku dalam dekapannya. Namun tubuhku yang masih mungil tidak sampai untuk bisa megang keranda itu. Aku meloncat-loncat untuk bisa memegang keranda itu smabil kaki mungilku setengah berlari berusaha untuk mengikuti rombongan orang-orang yang membawa tubuh ayah yang terkubur kaku dengan tangis yang memecah sepanjang jalan.

Ibu berjalan disampingku menuntun tanganku sambil menangis tersedu-sedu. Iring-iringan itu terus berjalan sambil kalimat tahlil berkumandang keras membuat duka dan kepiluan mamin terasa mendalam, “La illa ha illallah, La Illa ha Illalla,” begitu gemuruh surara itu membaur bersama suara isak dan tangisan. Sementara mulut mungilku tidak berhenti-hentinya menangis tersedu-sedu,”Aayaah kenapa meninggalkan aaaaaku aaaayaaah?” “Ayaaaaaaaaah?” “Aaaaaayaaaah!” Begitu terus mulutku memanggil-manggil ayah sambil menangis dengan air mata yang tertumpah ke bumi.

Beberapa saat kemudian, iringan rombongan yang membawa tubuh ayah berhenti, dan perlahan-lahan keranda itu diletakan di samping pemakaman berukuran sekira 2 X 1 Meter. Aku menghambur, kembali memeluk wajah ayah, sambil melihat liang lahat di tengah gurun yang terik dan panas itu. Kesedihankku makin menjadi-jadi, membayangkan tubuh ayah yang begitu aku cintai akan diletakan di ruangan sempit itu sendiri, di tengah panas, dan gelapnya suasana. “Aaaaaayaaah, ayaaaah, aku ingin bersama ayah, aku ingin menemani ayah!”

Ibuku kembali merengkuh tubuhku, memelukku yang menangis sambil ronta-ronta sambil tangisnya sesenggukan tidak tertahan. Perlahan aku melihat tubuh ayahku di angkat dari keranda, dengan baju dan tubuh yang berlumuran darah itu ayahku diletakan di liang lahat. Aku berusaha untuk melepaskan pelukan ibu, sambil menangis dan berteriak,” Jangan, jangaaaaan, jaaangan tidurkan ayahku di sini, ayaaaah! Jangan tinggalkan aku, Ayaaaaaah!”

Seakan tidak memedulikan tangisku perlahan-lahan mereka menutupi tubuh ayah dengan tanah tandus gurun pasir, perlahan-lahan, dan sampai akhirnya liang lahat itu sudah rata dengan tanah dan aku sudah tidak bisa lagi melihat tubuh ayahku. Aku menangis menggelepar-gelepar di atas kuburan ayah sambil meremas-remas tanah kuburan derai air mataku membasahi kuburan laki-laki yang paling kucintai dalam hidupku itu.” Ayaaaaaaah,aaaaaku akan selalu disini menemanimu,Ayah. Aku akan selalu berdoa untukmu, Aaaaayah! Aku berusaha bangkit, ketika semua orang sudah pergi meninggalkan aku dan ibuku, ibu berusaha menggendongku dan memelukku.” Ayah, semoga Allah mempertemukan kita di surgaNya kelak, Amin!” Kami pun meninggalkan pusara itu, dengan sejuta kesedihan menyelimuti. Gaza, kapankah negeri ini menjadi indah untuk kami, Ya Allah?”

Mujahidin Nur

About Mujahidin Nur

Alumni Pondok Pesantren Miftahul Muta’alimin Babakan Ciwaringin Cirebon, Penulis Buku Best Seller, Pengamat Gerakan Terorisme, Direktur The Islah Center Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *