Mengarungi Samudra Kemuliaan 10 Imam Qira’at

Karya : Moh. Fathurrozi, Lc, M.Th,I. & Rif’iyatul Fahimah, Lc, M.Th,I

Kata pengantar

Dr. KH. Ahsin Sakho’ Muhammad, MA.

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء و المرسلين وعلى أله وأصحابه أجمعين.

Membaca Al-Qur’an merupakan salah satu ibadah kepada Allah SWT,. karena yang dibaca adalah kalam-Nya. Oleh sebab itu, ketika membaca Al-Qur’an, maka  seakan-akan kita sedang berdialog dengan pemilik kalam, yaitu Allah SWT.

Semua ayat dalam Al-Qur’an berbahasa Arab dan Nabi Muhammad SAW selaku penerima wahyu dari Allah SWT, mengajarkan kepada para sahabatnya sebagaimana orang Arab berbicara, yaitu menyampaikan dengan menggunakan bahasa Arab yang baik (fusha). Kemudian, cara belajar membaca Al-Qur’an harus dengan talaqqi, yakni belajar dan menerima dari seseorang yang memiliki transmisi sanad mutawatir hingga sampai kepada Nabi Muhammad Saw,. karena membaca Al-Qur’an itu berbeda dengan membaca teks yang lain.

Pada dewasa ini, seperti yang disampaikan oleh Imam Ibnu al-Jazari (L.751- W. 833 H), qira’at yang shahihah itu tinggal sepuluh qira’at. Artinya sepuluh qira’at ini telah dinyatakan sebagai qira’at yang sah dan mutawatirah. Nama-nama pemilik qira’at tersebut adalah; Pertama, Imam Nafi’ bin Abdurrahman (w. 169 H). Kedua, Imam Abdullah bin Katsir (w. 120 H). Ketiga, Imam Abu Amr, Zabban bin Al-Ala’ Al-Bashri (w. 154 H). Keempat, Imam Abdullah Ibnu Amir Al-Syami (w. 118 H). Kelima, Imam Ashim bin Abi Al-Najud Al-Kufi (w. 128 H). Keenam, Imam Hamzah bin Al-Zayyat (w. 156 H). Ketujuh, Imam Ali bin Hamzah Al-Kisa’i (w. 189 H).

Selain tujuh Imam di atas, Imam al-Jazari menambahkan tiga Imam, yaitu: Kedelapan, Imam Abu Ja’far bin Yazid al-Qa’qa’ al-Madani (w. 130 H). Kesembilan, Imam Ya’qub bin Ishaq al-Hadhrami (w. 205 H). Kesepuluh, Imam Khalaf bin al-Bazzar al-Asyir (w. 229 H). Oleh karena itu, apabila seseorang membaca dengan qira’at dan riwayat mana pun, selama masih dalam koridor qira’at sepuluh, maka dia telah membaca Al-Qur’an dengan benar. Hanya saja, pada masa sekarang ini, riwayat Imam Hafs yang paling mendapatkan tempat di hati kaum muslimin di seluruh dunia Islam, sekitar kurang lebih 3/4 kaum muslimin di dunia menggunakan dan membaca riwayat ini. Padahal riwayat-riwayat yang lain tidak kalah dengan riwayat Imam Hafs, baik dalam hal fashahah maupun yang lainnya.

Dengan adanya arus globalisasi, jarak antara negeri Islam yang satu dengan yang lain semakin terasa dekat, sehingga kita tahu bahwa pada saat ini, riwayat yang berkembang di dunia Islam tinggal empat saja. Pertama, riwayat Imam Hafs, riwayat ini menempati rangking pertama, kira-kira 3/4 dunia Islam menggunakan riwayat ini. Kedua, riwayat Imam Warsy, riwayat ini banyak dijumpai di Afrika Utara. Ketiga, riwayat Imam Qalun, riwayat ini dibaca dan dipelajari di Libya, Maroko. Bahkan mushaf mereka juga ditulis dengan riwayat Imam Qalun. Keempat, riwayat Imam al-Duri dari Abu Amr al-Bashri, riwayat ini masih dibaca dan dipelajari di Sudan. Sementara di seluruh Asia, seperti: Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Asia Selatan seperti: India, Pakistan, Bangladesh dan Turkey, bahkan di dunia Arab sendiri hampir semuanya menggunakan riwayat Imam Hafs.

Terhadap upaya yang dilakukan oleh al-Akh, Moh. Fathurrozi ini yaitu menyusun sebuah buku tentang perjalanan hidup 10 Imam Qira’at adalah usaha yang mulia dan bagus, karena bertujuan untuk memperkenalkan kepada khalayak masyarakat tentang riwayat-riwayat yang shahihah dan mutawatirah daripada Imam-Imam ahli Qira’at. Semoga upaya yang dilakukan oleh Al-Akh, Moh. Fathurrozi mendapatkan qabul dari masyarakat dan menjadi berkah, hingga dengan demikian kaum muslimin di Indonesia terutama para komunitas Al-Qur’an itu “melek” terhadap qira’at yang lain. Saya kira jika semakin banyak kegiatan dan pengajaran ilmu qira’at di Indonesia itu akan semakin bagus.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Cirebon, 6 April 2020

Dr. KH. Ahsin Sakho’ Muhammad, MA.

Pakar Ilmu Qira’at, Rais Majlis Ilmu JQH NU Pusat  dan Pengasuh Ponpes Dar Al-Qur’an Cirebon.

Testimoni Tokoh

“Alhamdulillah kami ucapkan ketika mendengar kabar bahwa santri yang dulu pernah mengaji kepada kami di Kudus dapat melanjutkan jenjang pendidikannya di Mesir dan dapat menyebarkan ilmunya mulai dari Indonesia sampai Korea Selatan. Masa muda adalah masa seorang untuk belajar yang jauh lebih tinggi dan mendalam. Hal inilah yang dilakukan oleh santri kami, karena setelah mengaji di Kudus dengan membaca riwayat Imam Hafs, qira’at Ashim, lalu melanjutkan mempelajari qira’at Asyrah al-Mutawatirah di Mesir sampai selesai. Kemudian kembali ke Indonesia mengamalkan ilmunya dan alhamdulillah sekarang menerbitkan buku “Mengarungi Samudra Kemuliaan 10 Imam Qira’at”. Semoga buku ini menjadi karya yang bermanfaat dan berkah bagi semuanya. Amin.

Abdul Hafidz Hisyam al-Hamil

(Ahli al-Qur’an dan Pengasuh Ponpes Raudhatul Mardhiyah, Kudus)

“Umat Islam berhutang jasa kepada para imam peramu manhaj qira’at yang dilestarikan bacaannya sampai saat ini, dari merekalah kita mengetahui bacaan Al-Qur’an yang mutawatir dan muktabar. Oleh karenanya, sudah seharusnya kita membaca sejarah kehidupan mereka dan mengambil ibrah darinya dalam rangka memulyakan mereka, menghargai jasa-jasa mereka sarta melanjutkan tradisi mereka dalam berkhidmah kepada Al-Qur’an”.

Dr. KH. M. Afifuddin Dimyathi, MA.

(Penulis buku “Al-Syamil fi Balaghah Al-Qur’an, Wakil Ketua ASWAJA Center Jatim, dan Pengasuh Ponpes Hidayatul Qur’an Jombang).

“Mengetahui perjalanan hidup masa lalu sepuluh Imam Qira’at adalah sangat penting agar kita semangat dalam menghafal Al-Qur’an dan mendalami qira’at Al-Qur’an, oleh karenanya buku ini penting untuk dibaca”.

 Ahmad Aniq Munir, Lc, M.S.I

(Pemegang Sanad Qira’at Asyrah al-Mutawatirah dan Pengasuh Ponpes Darut Ta’lim Bangri Jepara Jawa Tengah).

Bacaan Menarik
loading...
Belibis Pustaka

Belibis Pustaka

Best Seller Publisher

View all posts

Add comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *