Artikel

Pendidikan seperti Seonggok Jagung di Kamar yang Terpisah dari Tanahnya

Seonggok jagung dikamar tak akan menolong seorang pemuda yang pandangan hidupnya berasal dari buku dan tidak dari kehidupan. (W. S. Rendra, 1975)

Selama beberapa tahun menjadi guru sekolah formal, saya merasa sedang hidup di antara dua dunia. Dunia pertama adalah wilayah sekolah formal dengan kurikulum akademis, kode-kode kedisiplinan, materi-materi pembelajaran, soal-soal ujian, metode-metode belajar, dan teori-teori pendidikan. Dunia kedua adalah dunia yang sebenarnya; dengan segala kerumitan, ketidakpastian, kenikmatan, maupun penderitaan. Di dunia pertama, saya diharapkan untuk mengajarkan bahwa seakan-akan dunia sekolah adalah satu-satunya kenyataan namun kehidupan nyata terus menyembur keluar melalui celah-celah rencana pembelajaran yang telah dipersiapkan secara seksama.

Kehidupan nyata muncul dari gelak tawa dua siswa yang sedang membaca buku karangan Puthut EA tentang kehidupan Bisma Kalijaga yang sebenarnya juga bisa mereka kenali lewat anak-anak tetangganya. Bisa juga muncul dari emosi seorang siswa yang sedang membacakan puisi tentang Sajak Orang Lapar karangan W.S Rendra yang sebenarnya bisa mereka temui secara nyata di lorong-lorong Kota Malang pada malam hari. Sayangnya, pengelolahan kelas sepertinya tidak mengantisipasi hal semacam itu dalam kurikulum yang mereka buat dan sering kali sifat pribadi anak akan tetap berada di luar gerbang sekolah sampai bel tanda pelajaran usai dibunyikan.

Bagi saya, meskipun banyak muncul pembaharuan tentang pemikiran pendidikan, tetap saja sampai detik ini praktik pendidikan di sekolah sedang menghadapi bahaya terpisah secara fundamental dari tujuan semulanya yaitu untuk menyalurkan budaya dari generasi satu ke generasi berikutnya. Padahal selama beribu-ribu tahun yang lalu, pengalaman nyata melalui kehadiran orang dewasa telah memberikan pengetahuan dan keterampilan budaya yang berkembang kepada anak. Salah satu contoh, anak-anak diajarkan menggembala kambing, bercocok tanam, melaut, dan menjadi pemburu yang handal.

Pada masa sekarang ini, masyarakat telah menunjuk sekelompok orang ahli yang mereka sebut sebagai ‘guru’ serta menempatkan mereka di gedung yang bernama ‘sekolah’dengan tujuan untuk mendidik anak-anak memahami berbagai disiplin ilmu mulai dari membaca, menulis, hingga pelajaran kemasyarakatan. Namun pada kenyataannya, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu mereka di sekolah untuk mendengarkan ceramah, menghadapi ujian, bari-berbaris, mengangkat tangan, mengisi lembar latihan, bahkan mengantuk. Tentu hal tersebut memunculkan dikotomi bahwa kegiatan yang anak-anak lakukan tersebut memperpendek waktu mereka untuk terlibat dalam berbagai kegiatan yang berhubungan dengan keahlian-keahlian yang dijunjung tinggi kebudayaan.

Memang harus kita akui bahwa setidaknya sekolah memenuhi sebagian dari fungsinya dalam membantu anak menyesuaikan diri dengan budaya sekitar. Lebih penting lagi, anak-anak belajar sistem bernotasi khusus seperti membaca, menulis, dan aritmatika sebagai pengetahuan minimal yang diperlukan dalam masyarakat yang buta huruf. Namun seringkali sekolah gagal menjangkau keahlian yang lebih luas dalam mengekspresikan pengetahuan secara alami di kehidupan sehari-hari. Begitulah akhirnya sekolah telah memisahkan anak-anak dari kehidupan masyarakat.

Pendidikan tentu saja tidak boleh terlepas dari kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat. Kita yang hidup di kota kelak akan berterimakasih kepada bocah-bocah penjaga budaya di desa-desa. Kecerdasan spasial kewilayahan mereka dalam membaca denyut alam sudah terlatih secara alami dengan berbasis filosofi gunung sebagai ayahnya dan laut sebagai ibunya. Bocah-bocah ini adalah penjaga budaya dan kekayaan hayati Indonesia yang tidak dapat diukur melalui angka di Ujian Nasional. Secara alami, mereka bisa belajar tanpa  perlu menyeragamkan kecerdasan mereka.

Seringkali kekerasan dalam pendidikan hanya kita lihat dari bentuk kekerasan fisik dan psikis anak. Padahal ada yang jauh lebih bahaya daripada itu, yaitu kekerasan sistemik yang dibuat pemerintah pusat dalam bentuk aturan standar pendidikan sebagai penyeragaman kemampuan siswa. Dampak yang paling tidak terlihat namun memiliki daya rusak mental dari sistem hari ini adalah tergerusnya identitas putera Maluku, Papua, Sulawesi, dan Sumatera yang tidak bisa “berdiri sama tinggi” dan “duduk sama rendah” dengan putera Jawa—yang sering dianggap sebagai barometer keberhasilan Sistem Pendidikan Nasional. Di Papua misalnya, demi mencapai Standar Nasional Pendidikan, anak-anak yang belum bisa membaca pun harus segera mendapat ijazah SMP hanya karena batas usia. Kita masyarakat Jawa tidak akan pernah tau hal-hal semacam itu sebab pemikiran pendidikan kita masih javasentris.

Sistem bekerja saling terkait untuk memisahkan anak dari masyarakat dengan cara menyeragamkan kecerdasan mereka kemudian memberangus pengetahuan dan keahlian budaya yang seharusnya mereka peroleh dari sekolah. Bagaimana sekolah akan melaksanakan fungsinya sebagai tempat penyalur budaya jika kepala sekolah dan guru-guru menjadi langganan tekanan sistem aturan yang dibuat oleh pemerintah pusat?

Wahai praktisi pendidikan yang tidak pernah dikenalkan dengan Paulo Freire, Ivan Illich, Montessori, atau yang paling dekat dengan kita; gagasan putera terbaik bangsa—Ki Hajar Dewantara, bersiaplah untuk menebak akhir dari keresahan ini. Bangsa ini justru lupa dengan kegigihan Ki Hajar Dewantara menghapuskan sistem kolonial. Jika Ki Hajar Dewantara mampu memodifikasi sistem pendidikan merdeka, kenapa kita justru berlomba-lomba mengurung anak di sangkar kolonial. Pengetahuan hanya bertumpu pada angka-angka serta pendidikan karakter hanya bertumpu pada dokumen-dokumen. Pendidikan hari ini, kekerasan intelektual secara terang-terangan.

Di penghujung tulisan saya ini, ijinkan saya meramal output pendidikan kita di masa yang akan datang. Jika pendidikan terus saja memisahkan anak dari rakyatnya dan menyeragamkan kecerdasan, maka akan ada dua kemungkinan; mereka menjadi DPR yang menindas rakyat atau berbaris di antara demonstran yang menumpahkan rindu bersatu dengan rakyatnya. Dua kemungkinan itu hidup dalam iklim yang sama; yaitu negara oligarki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *