Puisi

Puisi Farah Velda #10

Puisi 46

Tersembunyi

 

Tersembunyilah aku, diantara:

Semua mata terpejam, terkecuali yang terjaga di sunyinya malam

Semua nafas teratur, terkecuali yang tersengal berat

Semua raga terselimuti gelap gulita, terkecuali yang kedinginan

Semua getaran suara, terkecuali yang terdiam

Dengan berkawan hidup rumit dan jam waktu, aku:

Kadang berhenti

Berjalan lagi

Lalu sakit kehabisan baterai

Berjalan kembali

Tiba tiba sekarat pucat tanpa jarum

Dan kan berakhir rusak lumpuh tak bernyawa lagi

Debu masa mungkin kan menghangatkan tubuhku

Namun, aku lupa,

Dimana kalimat “aku tlah mati”?

Atau mungkinkah kali ini aku tlah terlambat mengetahui

Tuhan, mohon ampunilah pendosa ini.

Malang, November 2013

 

Puisi 47

Teruntuk Hujan Kini

 

Ingin ku temani kau menangis

Agar kau tak sendiri dalam kesedihanmu kali ini

Agar belaianku bisa hapus air mata ini

Agar ku bisa hiburmu dengan cerita yang kumiliki

Agar kau bisa dengarkanku berkisah

Agar kau tak kesepian lagi

Agar kau bisa temukanku dengan pelangi kawanmu

Agar kawanmu itu bisa ingatkanku kembali

Bahwa aku masih bersama Tuhan penciptamu dan alam ini.

Teruntuk hujan kali ini, ketahuilah,

Kau sebenarnya tak sendiri,

Jangan sedih lagi. 

Malang, 18 November 2013

 

Puisi 48

Sebuah Harapan Tukmu

 

Fajar terlalu malu tuk menyapa “hai” padamu

Bulan pun tak mampu menatap betapa cantik wajahmu

Mentari bahkan takut hangatkan sinarnya yang sudah terlalu hangat

Angin bahkan juga takut dinginkanmu dengan sentuhan dan belaiannya yang lembut

Hujan juga takut jatuhkan tetesannya padamu jika itu buatmu semakin dingin

Mereka tak berani menyentuh paras jelita dan hati suci yang kau miliki itu

Tuhan, berikanlah ia kebahagiaan tatkala ia bersedih. 

Malang, 19 November 2013

 

Puisi 49

Tenggelam

 

Kenangan pahit terulang lagi

Dejavu itu terulang kembali

Perasaan itu kembali lagi

Aku tenggelam dalam lautan diksi 

Penuh luka dan kesedihan yang pedih

Tak kunjung padam oleh kesadaran diri

Hanya ada sepi membara bak kobaran api

Cinta, kemana kau pergi? 

Setelah sekian lama kau kemari

Dan pulang bawa emosi tanpa ekspresi

Tetapi,

Seandainya lembaran baru masih tersisa hingga kini. 

Namun akhirnya, hanya tulisan terakhir “terima kasih atas selama ini.”

Malang, 14 Agustus 2019

 

Puisi 50

Izinkan Ku Cintaimu Dalam Diamku

 

Anggaplah saja semua hal lalu

Dan jadikanku saja sebagai sosok debu

Yang hinggap di tempat tak terjamah olehmu

Yang juga tidak kau tau

Kan ku anggap saja pula, itu semua bukan hal baru

Tapi yang telah tertinggal di belakang sana itu

Oleh karena itu,

Tutuplah mata dan telingamu

Trus tutuplah dan jangan sampai kau tahu

Tetaplah terus begitu

Akan hal yang ku masih disini dengan sajak lamaku

Menunggu suara kata dan puisimu menari lagi seperti dulu

Dengan itu,

Apapun yang terjadi, janganlah kau tengok kan lehermu

Karena akhirnya, aku juga ingin tetap hidup selalu dalam bagianmu

Meski ku jauh di bagian dari masa lalumu.

Tolong biarkanku tetap cintaimu dalam diamku

Malang, 20 Agustus 2019

 

Oleh: Farah Velda Digna Zaidah

 

Farah Velda

About Farah Velda

Bukan sesiapa, hanya penulis tak sempurna yang jarang mengais kata, penyair kesepian tak diundang tanpa upah. Salam sastra☺🙏 IG:@farahvelda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *