Puisi

Puisi Farah Velda #12

Puisi 56

Kemana Lagi (1)

Kan kemana kah imajinasi bawaku pergi kali ini

Dengan ribuan diksi dalam ingatanku

Dalam ribuan waktu ke depan untukku

Kemana lagi kah sastra kan mengajakku terbang

Kedalam lautan figuratif katanya

Kedalam mimpi yang seakan nyata

Yah, 

Seandainya saja otak ini masih bisa bekerja. 

Seperti sedia kala. 

Sayangnya hanya, 

Maaf saja tulisnya

Malang, 17 Agustus 2018

Puisi 57

Itulah Dia

Seperti halnya kertas putih tak berisi

Itulah dia tanpa noda

Seperti halnya air putih bening di atas kursi

Itulah dia putih tanpa dosa

Seperti halnya tembok putih di seberang sunyi

Itulah dia suci tak bersuara

Seperti halnya mawar putih merekah di pagi

Itulah dia indah memukau mata

Menawan hati

Cintaku jatuh pada putih suci ini

Malang, 2015

Puisi 58

Hanya Sekedar “Ku Ingin”

Ku ingin,

Sambut dunia dengan senyum ini

Layaknya dunia pula selalu sambut hari sunyi

Ia hadir dengan ribuan pialanya sapaku riang

dan katakan, “tersenyumlah, aku ada untukmu”

Namun, bak badai yang menerpa ombak

Mengapa jua selalu saja ku lihat dirinya sapaku,

dengan sayap hangat dan duri dibelakangnya nan tajam pelukku? 

Ah, aku tak tahu.

Malang, 2015

Puisi 59

Ijinkan

Mata ada untuk menawan kalbu

Melalui pelangi indah yang berpintu

Dengan kunci putih tak berabu

Jika begitu, 

Ijinkan aku masuki pintu hatimu

Dengan kunci yang ada di tanganku

Hai kamu, putih tak berdebu. 

Malang, 2015

Puisi 60

Sebuah Permohonan Maaf

Hanya sebuah maaf yang sanggup ku kata, 

Karena,

Cerminmu yang kau lihat melalui diriku tak lagi sama,

Yang sekarang hanyalah, 

Seorang pecandu tanpa arah tuju

Seorang pelukis palsu berwajah abu

Seorang penulis naskah bagi kehidupan biru.

Seorang pengadu terus membisu

Seorang pembunuh untuk harapan baru

Namun aku

Memang aku

Yang tak bisa lupa akan masa lalu

Meski kini aku bukanlah yang dulu.

Sekali lagi maaf, insan satu.

Malang, 2 Februari 2018

Oleh: Farah Velda D.Z.

Farah Velda

About Farah Velda

Bukan sesiapa, hanya penulis tak sempurna yang jarang mengais kata, penyair kesepian tak diundang tanpa upah. Salam sastra☺🙏 IG:@farahvelda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *