Puisi

Puisi Farah Velda #13

Puisi 61

Kemana Lagi (2),

 

waktu kan bawaku ke dalam ruang tak bertepi ini,

Kemana lagi,

angin kan seretku ke dalam ruang tak tembus ini,

Namun terlambat sudah.

Asaku tlah terbelenggu,

dalam rantai mengikat di balik jeruji besi.

Hanya sebuah mimpi kali ini. 

 

Malang, 2015

 

Puisi 62

Kisahku, Malam, dan Jelita Bulan

 

Kala angin tak lagi pedulikan hujan yang ada di sampingnya, saat itulah kenangan kecil sapa seorang piala.

Meski kecil, tlah hempaskan asa terpendam ini ke dasar laut hati

Di saat yang sama cerita lain mulai jua terlahir, dengan malam jatuh hati pada kekasihnya, Jelita Bulan.

Ketika itulah pula, ku tlah bersandar ke pelukan fajar menyingsing, di dalam keagungan-Nya yang bertahta.

Ku terdiam dalam lamunan terbang sang mega merah dalam keheningan yang nyata menghadap kepada-Nya. Di hari selasa.

Namun tanyaku apakah nantinya, kata yang tertulis ini kan senantiasa terbang bersama abu, kan larut bersama garam, dan hilang di tumpukan debu?

Atau apakah kelak, kan menjadi sekejap ada, dan sekejap hilang? Sungguh resah yang kian hujamkan asa semula.

 

Malang, 2015

 

Puisi 63

Gurun Puisiku Tentangmu

 

Duhai Rabbku,

Malam pasi ini tlah memutih di jiwa,

Puisi apa lagi yang sanggup ku rangkai `tuknya? 

Padahal dirinya hanya sekumpulan kata yang perlu ku tulis

Namun, kata palagi yang sanggup ku lukis `tuknya?

Sayangnya, sekarang saja, 

Ku tak lagi bunga indah yang punyai ribuan kelopak

Nan sanggup merekah di merah surya, dan fajar itu

Ku bukan lagi sang mentari, sapa insan di dunia

Namun ia, 

Seperti mata air di sahara yang bisa lepas dahaga

Bunga menawan hati memukau mata di tengah gersang tak berbatas

Sang dewa malam, sinari dunia dengan ribuan bintangnya

dan ribuan kata yang seharusnya bisa ku gambarkan tentangnya

 

Duhai Rabbku,

Malam pasi ini juga tlah mengabu di raga,

Kepada lagi kah, hati ini mengadu rindu? 

Ketika bulan dan bintang tak mampu menjawab

Ketika sang merah matahari dan jingganya senja membisu di sana

Kala rasa hanya tinggal detikan nafas

Saat jantung hanya sanggup berdetak laun,

Menanti kapan kan tiba akhir perjalanan

Aku tlah tertatih, Tuhanku

Aku merindu pilu

Hamba memohon ampunan dari-Mu.

 

Malang, 2015

 

Puisi 64

Keresahanku

 

Tak apa aku jadi pelangi mati

Yang tlah lelah bersinar tuk dunia

Namun resahku ialah,

Cahaya ini,

Yang mungkin tak cukup sinari dirinya

Tak masalah aku jadi rasa tertatih

Hanya sanggup tertawa kala duka kembali

Cukup sanggup bahagia ketika sedih menemani

Namun iya kah?

Apa gerangan yang mengusik jiwa suram ini

Ia begitu rapuh akan kehidupan hakiki

Ia begitu lemah akan keberadaan senyuman di sisi

Debu bagai serbuk ditelan ombak

Ada, namun kasat mata

Mungkin itu aku.

 

Malang, 2015

 

Puisi 65

Semesta Itu Kamu

 

Kamu adalah gambaran nyata semesta

Dunia yang sungguh indah

Membentang luas bak angkasa

Secantik mawar merekah di pelupuk merah

Seanggun jelita bulan temani raga

Seelok jingga di tepian senja

Iya,

Kamu adalah lukisan nyata semesta

Sungguh hamparan megah yang maha

Namun, apalah arti kumpulan lema?

Tarian aksara di depan kau, wajah?

Tinta yang lahir dari sebuah pena yang kau baca?

Jika kala ini kau hilang ditelan masa,

Jika kau saat ini jauh dari mata.

Kamu sungguh, luar biasa seperti semesta

Serupa bunga manis yang berdiri di atas meja

Tak terdefinisi layaknya foto salam sebuah pigura

Namun jua, apalah arti tumpukan kata? 

Ketika sebuah kisah sudah terasa hampa

Ketika sebuah cerita sudah titik dan bukan lagi koma

dan jika cahaya milikmu berada di gulita

Sangat gelap tuk kulihat di jendela jiwa

Terima kasih ya telah menjadi semesta

Setidaknya, aku tahu aku pernah bahagia

 

Malang, 17 Agustus 2019

 

Oleh: Farah Velda D.Z.

Farah Velda

About Farah Velda

Bukan sesiapa, hanya penulis tak sempurna yang jarang mengais kata, penyair kesepian tak diundang tanpa upah. Salam sastra☺🙏 IG:@farahvelda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *