Puisi

Puisi Farah Velda #14

Puisi 66

Cinta, Ku Ingin Bercerita

 

Duhai Cinta,

Ku tak sangka,

Sosok putih ini datangiku

Bukan karena putih pakaiannya yang kupanggil putih

Tapi cahaya di hatinya bersinar seterang Nur

 

Cinta, kau kah yang ada di hati miliknya?

Kau memang putih sewarna pekat salju

Dan itu kalahkan segala yang ada di muka bumi semesta ini

Namun, ku tak tahu pasti akan itu

Hanya jika kau kenalnya, kau tak tega tinggalkannya

Karena indahnya yang terlalu

Dan karenanya, ku tak bisa sakiti dan benci si putih di sana

 

Cinta, jika kau dengannya tak sengaja bertemu 

Kau pasti ingin kembali bertegur sapa

Karena entah magnet apa yang mampu menarikmu

Dan itu sanggup buatmu masuk ke dunianya

Dan itu jua bukan salahnya, atau pun salahmu

 

Kepada Cinta, jika kau ada di sisiku saat ini,

Mungkin kau kan berkata padaku,

‘kamu kali ini sungguh beruntung’

Sayangnya, sekarang mungkin memang benar

Tapi, satu hal yang aku takutkan

Yaitu, prinsipku tentang ‘ku cintaimu karena Allah’ tergeser menjadi,

‘ku benar­-benar takut kehilangannya’

 

Seandainya kau tahu Cinta,

Saingannya saja tak hanya kau, tapi ribuan

Oleh hal itu,

Maukah kau gantikanku di posisi ini, Cinta

Tetap cintainya dalam diammu seperti sedia kala

Di balik doamu dalam lamunan sujudmu di kabut putih pekat jauh di belakangnya.

 

Malang, 12 April 2014

 

Puisi 67

Perasaan Gulita

 

Di kala senja menyingsing, malam muncul, dan fajar menggantikannya. Ia tetap kan datang

Di kala maut kan menjenguk, dan keranda datang menjemput. Di situ ia tetap kan datang

Perasaan gulita yang tak pernah menjadi sinar. Pedang kegoyahan yang terus ia bawa dan di tiap sapaannya serang hati kecil piala.

Ia yang belum bisa terkalahkan namun selalu saja datang. Ia yang mampu perangi dan bunuh ribuan hati kecil tak berdosa

Ia yang layaknya pedang yang tak bisa diam ataupun berhenti. Ia yang mampu bunuh hanya sekali sentuh. Sungguh, ia pula lah yang masih ku hadapi meski bukan tandingan.

Ku kan tetap berjuang, meski racun sabetannya buatku tak bisa menang.

 

Malang, 12 April 2014

 

Puisi 68

Maaf, Aku Menyukaimu!

 

Maaf!

Biarkanku suka sosokmu dalam diamku

Karena ku tahu kau hanya ingin disukai olehNya

Bahkan hingga semburat senyummu mencuat ketika memuji asmaNya

 

Maaf sekali! 

Ijinkanku suka sosokmu yang seperti itu

Ketika kau tak pahami diriku

Bahkan hingga ku berpura senyum di dekatmu

Karena ku sungguh menyukai sosokmu yang itu

Yang polos dengan inginmu dicintai hanya olehNya

 

Tolong jangan terlalu peka dengan tulisan yang penuh rasa ini

Karena sosokmu hanya cukup jauh ku gapai semata

Dan dengan hati lemah dan raga rusak di sini

Ku cukup hanyalah merindui sosok putih dalam dirimu,

Sosok murah senyum yang dulu ku kenal itu

Meski ku kau hanya sebentar menyapa

 

Maaf sangat telah menyukaimu dengan hatiku yang dulu pernah dimiliki orang lain

Tapi, yang ada sekarang hanyalah sosok piala penuh sesal telah menyukai orang yang salah.

Penuh sesal, penuh dosa, bahkan, penuh hina. 

 

Sekali lagi maafkan

Dengan hati yang mudah terombang ambing ini

Dengan hati yang sungguh mudah berubah

Di dalam raga yang penuh dosa milikku ini. 

 

Aku sangat suka kau

Terutama akhlak yang dimiliki olehmu itu

Tapi maaf hanya dalam diamku. 

 

Malang, 20 April 2018

 

Puisi 69

Isi Hati Diri

 

Bolehkah, diri ini ucap suatu kata?

Sepatah dua atau lebih kata dengan berterus terang

Tertuju padamu piala dunia,

Kau itu,

Bagai pelita yang selalu ada di waktu siang

Bagai dewi bulan yang selalu ada di waktu malam

Bagai bintang yang menemani sang dewinya

Bagai langit yang menemani ketiganya

Bahkan bagai bumi yang selalu dekat dengan piala

Sayangnya,

Kau juga bagai sebuah pedang

Di kala sisi tajamnya mengenai sanubari

Bagai sebuah senjata api

Di kala sebuah pelurunya melukai hati

Ku ingin kau tahu bahwa,

Tertulis ini `tukmu yang seperti musuh dalam selimut,

Serupa udang di balik batu, 

Jika, maafkanku karena ku seorang pendosa jua

Bisa berpaling jauhimu

Karena cukup ku tak ingin sakitimu

Dengan kebencian yang kumiliki

Dalam jiwa sekotor ini

Meski pula ku tau bahwa, 

“Benci sifatnya, bukan insannya,” bisa menjadi sebuah pilihan

 

Malang, 19 Agustus 2019

 

Puisi 70

Tarian Sang Kata

 

Banyak huruf bentukkan kata satu

Susunkan macam kalimat di dalam pikiranku

Bukan hanya satu, namun ratusan ribu

Dan huruf satu berbeda jua sama di sana itu,

Masih kan bangun stanza yang tak warna abu

Tak sama sekali sedikit dan kan rangkai kalimat baru

 

Mereka kan jadi kalimat yang tak kunjung berhenti

Seperti alunan lagu yang selalu menyanyi

Barisan lirik yang tak putus lagi

Deretan nada yang terus mengalir sendiri

Rintikan melodi yang terus berbunyi

Dan rekahan bunga segar di shubuh pagi

 

Seperti kata ‘fajar’ yang berarti sang mega merah

Lahirkan cahaya matahari bertemu langit biru dan senja

Kemilau kegelapan bercampur sinar oranye terang sambut gulita

Atau kata ‘cinta’ yang miliki ribuan makna

Nan tak bisa terekspresikan bentuk dan rasa dalam bait aksara

Atau kata ‘esok’ yang kan tergambar ‘bagaimana’ dalam tanya

 

Hanya harapan ‘lebih baik’ harus bertemu

Yang sanggupkan raga ini masih kan mampu

Jalani kehidupan ini tanpa rasa malu

Hapuskan bekas memoar yang dahulu

Meski kaki juga pernah tak maju

Tapi sungguh, selalu basuhi semangatmu seperti benderangnya lampu

 

Serupa dalam kalimat “esok yang lebih baik kan tetap ku nanti,

seakan kemarin tak pernah lebih baik dari hari ini”

Tersenyum optimis menuju masa depan yang tak pasti

Dengan memegang sangu kata dan kalimat yang terus berlari

Yang mungkin kan terus menyala bak kobaran api

Mereka yang hidup dalam laptop di lembaran putih 

 

Dan tanpa sadar ia telah terbentuk menjadi sebuah karya

Kata yang terus terlahir juga kemungkinan terus terbaca.

Meski kelak hanya terlewati oleh angin belaka

Yang mereka terus berbisik angin-angin dunia

Atau pun auman perihnya kepedihan disana

Atau jua teriakkan kehidupan yang indah

 

Malang, 19 Agustus 2019

 

Oleh: Farah Velda Digna Zaidah

Farah Velda

About Farah Velda

Bukan sesiapa, hanya penulis tak sempurna yang jarang mengais kata, penyair kesepian tak diundang tanpa upah. Salam sastra☺🙏 IG:@farahvelda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *