Puisi

Puisi Farah Velda #15

Puisi 71

Ku Bahagia,

 

meski hanya,

diam membisu di bawah temaram bulan sunyinya gulita, lukiskan senyum di hitam putih langit kepalsuan, menunduk malu menangis tertahan pada nafas yang senantiasa bersama, rasakan hawa dingin mengikat sukma bergelora, saksikan malam memeluk tersesatnya jiwa.

Ku bahagia juga bahkan ketika,

tertemani hujan di kala kesedihannya jua kesedihanku, lihat senyum dunia seakan ia adalah senyumku, kebingungan kalbu sesaat bawa suasana haru, tersentuh angin membelai rindu yang satu, dan saat imajinasi diriku tentang bayangan calon imamku di tiap sudutnya langit kehidupan di sana itu.

Aku bahagia juga kala,

engkau sentuh mawar ini dengan angin kehadiranmu.

 

Malang, 2 Mei 2015

 

Puisi 72

Sepi

 

Kepada sepi, bagaimana ku definisikanmu?

Ribuan diksi yang tak kenal waktu, lahir kenal namamu

Sepi, bagaimana ku lukiskanmu?

Setetes darahku? 

Atau setiap nadi yang gambarkan satu?

Membiru, kelabu, rancu, rapuh, runtuh

Itu yang gambarkan rasaku akanmu

Tuk tiap hurufmu

Tuk tiap yang kulalui bersamamu

Maafkanku tlah hadirkanmu dalam bayanganku

Karena realitaku selalu terpenuhi akan wujudmu

Aku rindu tuliskanmu dalam sajakku di tiap detik lalu. 

 

Malang, 21 Maret 2017

 

Puisi 73

Cukup Ku Tau,

 

Dalam waktu ‘selamanya bersamamu’ ini, waktu tak selalu memihak kita

Namun ku masih ingin kau tau jika, 

Cukup bersamamu aku merasa bahagia.

Aku tau jua

Di dalam ruang sempit dunia ini, 

Tak ada kata abadi diantara kita

Namun ku hanya masih ingin kau tau jika

Doaku untukmu selalu ada meski kita terpisah.

Aku tau sekali

Mawar tak seindah kebaikanmu

Karena mawar kan layu, dan itu kalahkan indahnya cahaya di hatimu

Namun ku juga masih ingin kau tau

Bahwa, hanya yang diataslah yang mampu mencintai dan memilikimu apa adanya lebih dariku.

Dan lagi, aku bahagia memiliki cintamu, hingga saat ku berdiri di rumah terakhirmu kali ini. Terimakasih. 

 

Malang, 28 Agustus 2018

 

Puisi 74

Topeng

 

Kau tak harus tahu pemiliknya.

Karena sungguh saja, ribuan muka berbeda hidup di baliknya; ribuan karakter penuhi tiap wajahnya, dan kau tak harus ingat dan hafal semua

Kau tak harus kabulkan dan dengarkan

Ribuan harapan milik tiap pialanya; ribuan nada nyanyian di seberangnya; jua ribuan rasa milik tiap raga di sisinya pula yang tak harus kau rasakan

Kau hanya perlu baca, 

Sebuah tinta menari dari pena, tentang tiap nyawa rasa ribu rasa, dengar ribu alunan dengan lirik hujan kesedihan; hiasi jendela mereka dengan lukisan cerita, hitam putih pelangi sebagai warnanya, dalam satu topeng dan ribuan kisah ini dia.

Dalang topeng ini cukup satu jiwa.

Berkata bisikkan teriakkan ia, ‘keberanian’ dengan lantangnya sanggup rasa takut ia lawan `tuk hadapi masalah dunia, auman perih kematian jua dan, kehidupan miliknya yang tlah ia tinggalkan.

 

Malang, 18 Agustus 2019

 

Puisi 75

Jadikanlah Aku Debu Saja

 

Kutemui kau dalam liang nyata

Bukan maya ataupun fatamorgana

Namun dimanapun segala tempat dan arah

Kutemui kau dalam lorong masa

Meski tak terjamah oleh mata

Namun selalu senantiasa terlahir ada

Kutemui kau dalam ruang tak berbatas

Ke mana penglihatanku melangkah

Terbawa angin yang berhembus

Berbaur di rintikan hujan yang turun

Bahkan cahaya matahari yang bersinar

Semua itu adalah kau

Walau tinggal di fana yang sebentar saja

Kau tetaplah ada

Karenanya, jadikanlah aku debu saja, piala

Agar ku bisa cintaimu dalam diam selamanya

Meski tak bisa jangkau jiwanya, namun sanggup berada dekat dengan raga

Kujadikan lah kau dalam bait stanza

Karena kau serupa cinta yang terlahir tiba-tiba dan kan selamanya ada

Bak debu disana

Yang kan tak lekang oleh masa, selalu terlahir ada

 

Malang, 26 Agustus 2019

 

Oleh: Farah Velda D.Z.

Farah Velda

About Farah Velda

Bukan sesiapa, hanya penulis tak sempurna yang jarang mengais kata, penyair kesepian tak diundang tanpa upah. Salam sastra☺🙏 IG:@farahvelda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *