Puisi

Puisi Farah Velda #17

Puisi 81
Untukku Pribadi Yang Nanti

Diri, janganlah kau bersedih
Kau masih miliki Allah, yang senantiasa memeluk jiwamu ketika rengkuhku tak ada di sisi.
Kau masih miliki kalamNya, yang senantiasa sejukkan kalbumu ketika diriku tak ada hiasi hari.
Janganlah jua kau menangis, yang rapuh di sini.
Kau masih miliki senyum dunia, yang senantiasa bersamamu dalam sepi ketika tawaku tak ada sapamu.
Kau masih miliki lilin lain, yang senantiasa belai pipimu ketika ragaku tak ada hapus air matamu.
Berbahagialah, bersyukurlah, ikhlaskanlah, dan tetaplah tersenyum.
Salam sayang dan cintaku dariku untukmu, “aku” yang lalu.
Malang, Juni 2015

Puisi 82
Kowaku Di Kala Itu

Guratan sesak di sepertiga malam kian menghantui
Temani sepi di ujung-ujung tak bertepi
Waktu kian melangkah
Tapi sampai kapan raga dingin ini kan temani jiwa yang berdetak itu?
Hanya sukmanya saja,
Senantiasa memburu pelabuhan dan asa baru
Rasa, ku tak tau cara tuk gambarkanmu
Namun ku tau, kau kan selalu bertemukan kata
Dimanapun dan kapanpun kau berkelana
Meski apa yang kau cari masih kan hilang di tengah
Hanya pertemuan singkat sedari,
Kan berbingkai gulali lagi terekam di memori tua lama
Terima kasih saja telah ada
Malang, 4 Juli 2015

Puisi 83
Memo Kecil

Terkatalah yang seharusnya dikata seorang insan tukmu, saudara
Lilin lilin penerang gulita
Piala penyejuk mata di ruang kosong seberang kamar
Kau indah dengan jalanmu
Berlagak telusuri kabut esok
Tersenyum seakan “rasa ada karena biasa”
Namun jua rapuh tuturkan “aku tak apa”
Kau wanita, kau pria
Jadilah dirimu sesuai syari’atNya
Bunga merekah di pagi nan
Piala berharga di mata
Malang, Juli 2015

Puisi 84
Kisah Singkat

Jika petang miliki waktu tuk bicara pada matahari sebelum senja jemputnya,
Ia mungkin kan berkata:
“Mentari, terimakasih atas warnamu menghiasi kilauku.
Tanpamu, ku hanyalah hitam putih di atas langit semata.”
= Sekilas umpama temu kowaku
Malang, Juli 2015

Puisi 85
Lema Di Keluangan

Intan kadang rasa kilaunya tak sekilau rubi
Jua merpati tak segesit elang
Namun melati kan sama indah dengan mawar
Jika kau lihat keduanya di kejauhan
Sama hal langit dan bumi sungguh berseberangan
Langit kan di sisi awan
Dan bumi kan berteman gravitasi
Tetapi kan selalu ada hujan nan senantiasa jadi tali
Dan jua sinar mentari sebagai penghubung keduanya
Malang, 8 September 2019

Oleh: Farah Velda D.Z.

Farah Velda

About Farah Velda

Bukan sesiapa, hanya penulis tak sempurna yang jarang mengais kata, penyair kesepian tak diundang tanpa upah. Salam sastra☺🙏 IG:@farahvelda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *