Puisi

Puisi Farah Velda #18

Puisi 86
Di Gemerlap Malam

Malam yang gemerlap ini,
Menghujamkan gulita di tengah awan
Menurunkan sepi ke dalam bumi
Membawa rautan sedih bercampur salah
Malam yang berbeda dengan yang lain ini
Menuliskan pelangi kelam di setiap sudutnya
Menghapus rasa bahagia karena rasanya
Dan mengatakan rindu di setiap sayapnya
Malam yang gelap menemani ini,
Menusukkan kata ingin, namun tetapi
Tak ingin berikatan dengan sang pujangga
Dikarenakan, kalbu tak ingin mengulang kesalahan sama
Dikarenakan, jiwa tak ingin menjadi berdosa lagi nantinya
Dikarenakan, raga telah ingin pergi ketempat yang putih bersih merona mata.
Duhai hati bersabarlah.
Malang, 2 Maret 2018

Puisi 87
Di Glamor Malam

Malam yang glamor karena gulitanya ini
Berhasil memikat kedua mata untuk mewarna situasi
Dimana, sang rindu telah tiba menemani hati
Menggenggam memori yang dulu pernah ada di sini
Menggenggam kenangan yang dulu masih terbayang hingga kini
Namun,
Malam yang glamor karena ada tidaknya kehadiran bulannya ini
Mencekam suasana kalbu untuk tidak mengingat . .
Memoar yang dulu pernah singgah
Dikarenakan keegoisan nafsu melahap diri
Dikarenakan telah jatuh kedalam gelap yang sepi
Malam yang sungguh indah sekarang ini
Adalah malam yang aku ingin ulang setiap hari
Karena kehadiran Engkau yang selalu disisi
Membuat hambamu yang satu ini
Mengingatkan diri, untuk tidak selalu bersedih hati.
Malang, 3 Maret 2018

Puisi 88
Blue

Its blue
That all my pain becomes so severe glue
And all my smile become vanished gloom
That even touches my dreary body return to ashes
All this condition clearly vague
O.
I already fatigue coz of every sickness gray in life.
Malang, 7 April 2018

Puisi 89
Ku Tatapmu

Tanpa sadar,
Aku menatapmu dengan rasa sayu
Berlalu dibawah temaram lampu
Dengan hanya silauan tipis sang kilau kecil
Aku terus menatapmu,
Dibawah langit gelap hampir terbangun
Dibawah bulan yang hampir muncul
Aku terus menatapmu,
Hingga butiran air menetes menemaniku
Hingga butiran butiran air kembali datang dari kedua mataku
Dan ketika aku masih terus menatapmu,
Aku sadar hanya satu kalimat yang teriang dikepalaku
Bahwa aku,
Ternyata telah lama pergi berpaling dariMu.
Dan kala itu aku tetap menatapmu,
Aku telah rapuh serapuh abu yang termakan api
Serapuh pasir yang tertiup angin
Itu aku.
Tetapi, tak ada yang tau,
Kan kapan bayangan dibelakang tatapan itu tersiar
Berputar dengan tangannya yang meraih raga ini,
Seakan waktu lalu kembali terjadi.
Tapi seakan itu mungkin.
O aku,
yang sesat jatuh kegulita jauh
Bersabarlah hingga mimpi nyatamu terbangun jelas.
Malang, 20 April 2018

Puisi 90
Puisi Dari Penggemar Beratmu

Aku penggemar beratmu,
Namun maaf hanya dalam diamku
Baca tulisan indahmu di seberang maya itu.
Aku pengagum rahasia aksara menarimu,
Tapi maaf ku tak bisa tunjukkan itu dalam balasan doaku.
Aku cukup kagumimu,
Karena setiap bait-bait itu terlahir darimu,
Aku bisa menulis kembali bait ku dari baca itu.
Maaf.
Aku hanyalah manusia tidak sempurna
Yang tak berani bertatapan denganmu
Karena ketidakpercayaan diriku yang takut menyentuh sucimu
Meski kau bukan putih,
Namun hatimu itu sungguh bersih.
Berlawanan dengan makhluk munafik yang satu di depanmu.
Malang, 2019

Oleh: Farah Velda D.Z.

Farah Velda

About Farah Velda

Bukan sesiapa, hanya penulis tak sempurna yang jarang mengais kata, penyair kesepian tak diundang tanpa upah. Salam sastra☺🙏 IG:@farahvelda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *