Puisi Farah Velda #20

Puisi 96
Coretan Hati Senja

Biarkanku memeluk kesunyianku sendiri
Di bawah temaraman bulan dan kemilau lampu berkedip ini
Biarkanku menyelimuti dukaku sendiri
Dalam kelaman kelabu langit yang menghitam di sela-sela awan ini
Biarkanku merenungi biruku sendiri
Dalam lamunan malam yang menyentuh langit-langit senja ini
Biarkanku menemani sepiku sendiri
Di antara bisikan angin dan sentuhan rintik embun
Sang merah telah hinggap di kerumunan gulita
Sang merah telah hapus jejak hitaman malam
Sang merah telah torehkan tinta esok lada harapan
Sang Tuhan telah beriku asa yang tak pernah patah
Aku telah bercahaya
Malang, 5 Juli 2015

Puisi 97
Gulita dan Kilauan Cahaya

Duhai gulita,
Mengapa kau selalu berselimut kegelapan?
Seakan menandakan jikamu adalah kelam di hitam yang suram
Apa itu yang kau gambarkan atas dirimu?
Jika bukan,
Maka keluarlah dari sarangmu dan pergilah menyentuh mentari yang bersinar itu
Cahaya yang lebih terang dari gulitamu
Tidakkah kau ingin sentuhnya?

Duhai kilauan cahaya yang bersinar,
Bukan karenaku tak ingin sentuhmu itu ku bencimu,
Hanya saja ku takut warna putih bercahayamu kan tercampur warna hitam sepertiku
Dan berubah menjadi kelabu yang bukan terang atau gelap
Namun menghalangi cahaya lain masuk lebih dalam.
Ia kan terjebak di kabutnya kelabu dan terjerat kebutaan untuk keluar

Oh cahaya, ku tak bermaksud jauhimu,
Bukan gulita jika ku dekat dengan kilau indahmu
Ku tak larangmu dekatiku jika kau mau,
Hanya ku tak mau kelabu kan datang pisahkan kita
Seperti halnya air matikan api di antara kayu dan abu

Jikapun kayu tlah menghitam,
Mengapa ia butuhkan air tuk matikan apinya,
Padahal ia sendiri bisa bertemu dengan abu yang membuatnya menjadi utuh satu raga dan sejiwa lagi,
Daripada kayu dan abu itu tlah jadi 2 hal yang berbeda
Iya, terpisahkan oleh air yang matikan api itu.
Malang, 29 Juli 2015

Puisi 98
Kau Bilang Rindu

Kau bilang rindu,
Tapi mengapa kau masih berselimut ragu tuk sapa seorang yang ada di balik kalbu itu?
Kau bilang rindu,
Tapi mengapa kau masih bersembunyi di balik batu ketika seorang itu tersenyum menyambutmu?
Kau bilang rindu,
Tapi mengapa kau tetap menyendiri bersama kelabu ketika kau ingin tawa dan senyumnya hapus sepimu?
Kau bilang rindu,
Tapi mengapa kau tetap saja tertemani rumput bergoyang itu tanpa tau kabar dan keadaan seorang itu?
Duhai aku,
Kau bilang rindu,
Tetapi pada siapa kau kan melagu tentang kisahmu jika kata-katamu terbentur guruh di sisi kayu yang berabu?
Kau bilang rindu,
Pada seorang di balik kalbu itu,
Tetapi mengapa rayuanmu tlah bermawar layu sekarat lagi terlapuk debu terpeluk dinginnya salju?
Kau bilang rindu,
Pada seorang di sana itu.
Malang, 11 Agustus 2015

Puisi 99
Kamsia

Gema ini undang asaku
Lepaskan rantai belenggu pedih mengikat di hati
Lelehkan jeruji besi memikat depresi
Duhai bara api merahku yang menyala terang dalam diri
Mengapa lilin-lilin mati itu begitu merona menawan di jiwa
Mengapa lampu redup itu begitu indah memukau mata?
Seakan cahaya remang itu,
Tak mampu gambarkan lautan sinarnya yang begitu putih
Duhai jingga menyala terang dalam diri
Tak sanggupkah cahaya mentari senja itu mengganti sela pelangi ini?
Memang tebasan waktu kali ini kan jadi cahaya lilin peneman langkahmu
Tapi paling tidak,
Bersyukurlah kau masih miliki Allah sebagai penunjuk langkahmu
Malang, 27 Agustus 2015

Puisi 100
Ku Tak Sangka,

Jikau masih seangkuh dulu
Menyimpan senyum bahagiamu di balik kabut nan pekat
Ku tak sangka
Jika dirimu masih sedingin dulu
Ada apa denganmu abu?
Apa dinginnya salju masih memelukmu?
Atau ada es beku lagi yang lahir di sisi bongkahan hatimu?
Dan ku masih tak sangka, kamu
Jika senyummu masih belum sampai pada hatimu
Apa yang terjadi denganmu duhai api?
Tetap memendam amarah cinta membara?
Atau menyalahkan diri karena diri bukan pemenang?
Oh kayu, apakah kau kan mengadu?
Tentang cintamu berbuah debu di perjalanan sunyi di pertengahan gurun nan gersang?
Jangan!
Tetap tutupilah itu dengan asap tebalmu
Hilang di telan waktu
Terbang terhapus angin
Dan lenyap terlalap api merah menyala terang di sudut sana
Semoga
Atau lepaskanlah merpati asa
Biarkan terbang bersama kepulan awan biru di langit putih
Mengejar harapan yang tlah terlepas
Malang, 4 September 2015

Oleh: Farah Velda D.Z.

Farah Velda

Farah Velda

Bukan sesiapa, hanya penulis tak sempurna yang jarang mengais kata, penyair kesepian tak diundang tanpa upah.
Salam sastra☺🙏 IG:@farahvelda

View all posts

Add comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *