Puisi

Puisi Farah Velda #8

belibispustaka

Puisi 36

Malam Membiru

Angin pun membisu

Seakan langit hitam ini mengadu

Bahwa lampu remang mengisi api kelabu

Seperti bintang bulan yang terus menggerus waktu

Dan berkata pada detakan detik untuk terus berlalu

Menghentak alu pada langkah kaki ketujuh

Aku untuknya untukmu menjadi satu

Dari sekian kumpulan debu 

Malang, 07 Oktober 2015

 

Puisi 37

? Ku `Tuk Lilin

Tanyaku saja, padamu yang menyala

Di kala kesepian hampiri gulita:

Apa kehendakmu memerangi bayangan maya?

 

Kataku hai saja, padamu yang menyapa manusia

Di kala keheningan menemani jiwa:

Salam secuil cahaya menyembuhkan luka

 

Tanyaku sekedar tanya saja,

Mengapa kau berteman duka lara,

Di kediaman sunyi berpeluk damainya doa

 

Apakah kau tak lelah?

Dengan semua sinar yang mencuat di ujung kepala

Hanya `tuk melawan gulita dunia,

Duhai lilin meleleh tertelan oleh api membara

Malang, 09 Oktober 2015

 

Puisi 38

Fajar Dan Mentari

Kini hanya diam membisu,

Dulu ceria yang beradu.

Kini hanya berselimut kelabu,

Dulu gulita yang merapuh.

Mentari memeluk rindu,

Fajar diam membisu.

Bukan karena ia acuh,

Tetapi karena ku tak tahu.

Mentari terengkuh senja biru,

Sedang fajar mungkin terpesona oleh ungu.

Kini september berdebu,

Oleh sebuah kisah pilu yang mungkin rancu.

Fajar, senyummu yang mentari tunggu itu, 

Kan tetap dalam cerita pada lembaran baru.

Malang, 20 September 2015

 

Puisi 39

Malam Minggu Kini

Dualapan April nambelas

Bahagia yang tak terlukiskan,

Namun jua tersayat tak kunjung henti.

Bahagia yang tak ingin terhapus,

Namun jua kepedihan yang tak berujung

Bahagia yang ingin selamanya,

Tapi jua apalah daya raga yang berbatas sastra

Itu yang kurasa, malam Jumat.

Bahagia yang ‘kok nyesek yah?’ tadinya

Sesal sesak sendu sepi sendirian

Padahal senyum di sana tadinya ada di depan

Padahal sapaan di sana sudah berwarna cukup

Kenapa kau, duhai diriku

Apalah, apa ya, apa dan apa yang kurang?

Hati yang tertutup

Kalbu yang terkunci

Pikiran yang buta

Sudah cukuplah.

Lelah.

Malang, 24 April 2016

 

Puisi 40

Kau Kata

Kau kata,

Jika aku patah

Kau kan dekapku

Dan membuatku utuh?

Kau kata,

Jika ku rapuh

Kau kan hadir untukku

Rengkuh ku hingga gulita pulang

Dan kalbuku tenggelam

Kau kata,

Kala api dalam diri membara

Kau kan hempaskan itu

Dan gantinya dengan pelangi

Namun, kemanakah kau pergi?

Kalau hujan kelabu datang menghampiri

Dan bisikan sepi menemani?

Kemanakah kau pergi,

Kala tangis sunyi kembali hadir

Dan kedatanganmu hanyalah mimpi?

Padahal aku selalu disini

Sampai detik terlahir mencapai semu

Hingga mampu sentuh dunia maya dalam bayangku

Tapi sayangnya, kau tlah lama mati

Terjebak dalam cermin waktu

Yang tak berujung

Yang tak terhenti

Sampai kini.

Malang, 19 Oktober 2017

 

Oleh: Farah Velda Digna Zaidah

Farah Velda

About Farah Velda

Bukan sesiapa, hanya penulis tak sempurna yang jarang mengais kata, penyair kesepian tak diundang tanpa upah. Salam sastra☺🙏 IG:@farahvelda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *