Resensi Buku

Rahwana dalam Buku Harian

Kisah cinta di dunia ini sangat banyak dikisahkan oleh para penyair maupun sastrawan dari masa ke masa. Cinta memang tiada henti memiliki kisah pada setiap masa. Ada kisah cinta ‘Qays dan Layla’, ada juga Romeo dan Juliet, Magdalena dengan Stevan, bahkan yang lagi baru- baru ini sedang booming di Indonesia adalah kisah kesetiaan Habibie dan Ainun.

Nah, dalam buku kecil ini akan dibahas secara singkat kisah percintaan tokoh legendaris Rahwana atau dalam banyak ejaan disebut Rahvana. Ia adalah sosok raja dari rakyat Tamil yang sangat mencintainya karena kharisma dan wibawanya dalam memimpin kerajaannya. Tak hanya cakap dalam memimpin, ia juga seorang pecinta wanita sejati sehingga menjunjung tinggi kehormatan wanita tanpa menodainya. Di dalam literatur lain dan pemahaman publik, bahwasanya Rahwana adalah sosok raja yang bengis, angkuh, sombong, dan tentunya kasar terhadap seorang wanita. Beginilah pemahaman publik mengenainya. Dengan kekuasaan yang absolut, ia mampu memerangi banyak negeri dengan bala tentara yang super power. Konon, kekuatan yang ia dapatkan berasal dari Dewa Siwa yang ia puja selama hidupnya. Pernyataan ini terkisahkan ketika ia bermain gunung Kailash yang menjadi tempat pertapaan Dewa Siwa saat itu. Karena Rahwana tidak tahu keberadaan Dewa Siwa dan ternyata mengusik ketenangan meditasinya, akhirnya Dewa Siwa menghukumnya dengan himpitan gunung Kailash. Singkat cerita, ia bertaubat dan menggubah pujian, syair, dan tembang untuk Dewa Siwa dan meluluhkan hatinya. Dengan hati yang tersentuh itu, akhirnya Rahwana dikasih sebuah pusaka Pedang-Bulan. Benda itulah yang ia gunakan untuk mendudukkan banyak negeri dibawah kekuasaannya.

Rahwana cenderung diberi peran sebagai tokoh antagonis dalam banyak kesempatan. Berbeda dengan beberapa buku lain seperti; Rahuvana Tattwa karya Agus Sunyoto (2006), Rahwana Putih karya Sri Teddy Rusydy (2013), dan Rahvayana karya Sujiwo Tejo yang ketiga buku ini menampilkan Raja Tamil ini keluar dari kebiasaan tempatnya, yaitu pada penokohan protagonis. Dalam tiga buku ini, Rahwana digambarkan sebagai raja yang diidolakan dan dicintai oleh rakyat Tamil karena kecerdikannya serta wibawa dalam memimpin sebuah kerajaan bernama Alengka. Tak heran bila ia begitu cerdas karena ia juga memiliki julukan ‘Dasamuka’ (jawa: Dosomuko/ bermuka sepuluh). Julukan itu bukan hanya penyematan gelar, tapi karena ia memiliki kepandaian di sepuluh bidang keilmuan: seni, pendidikan, ekonomi, kedokteran, astronomi, planologi, politik, hukum, dan lain-lain.

Berbeda dengan tiga buku yang telah dijelaskan diatas, buku dengan judul Perjuangan Cinta Rahwana; Raja Agung Pengasa Tiga Dunia ini memiliki corak kisah yang berbeda. Buku ini merupakan rangkaian kisah cinta seorang Rahwana masa modern dengan metafora yang mudah dipahami oleh pembaca. Andri Kurniawan hendak mengajak para pembaca untuk berpikir kreatif dalam memposisikan diri dalam buku ini. Apakah pembaca sebagai Sinta? Atau Rama? Bahkan bisa jadi sebagai Rahwana. Semua analogi bisa dipakai para pembaca secara merdeka.
Tulisan dalam buku ini tidak murni menggambarkan kehidupan Rahwana secara utuh. Tetapi penulis hendak meminjam tubuh Rahwana untuk dijadikan penorama kehidupan penulis selama hidup. Dalam tulisan “Perjuangan Cinta Rahwana, Raja Agung Tiga Dunia” penulis hendak memulai tulisannya dengan menonjolkan tokoh Rahwana sebagai tokoh refleksi dalam pembacaan awal bukunya. Lalu ada juga “Hubungan Rambut Gondrong dan Uang SPP”, “Mahasiswa Gondrong, Mode, Selera atau Akhlak?” memiliki keterkaitan dengan kehidupan penulis semasa masih kuliah di suatu PTN (Perguruan Tinggi Negeri).

Prosa saja tak cukup mendayu tanpa puisi’ begitulah kesan buku ini diterbitkan. Dengan gelegat cinta Rahwana, penulis membuat bait-bait puisi yang ditujukan kepada seseorang yang pastinya diniati untuk mewakili pujian dan syair yang dilantunkan Rahwana kepada Sinta dalam kisah cintanya. Tak hanya muatan kisah cinta dan perjuangan hidup penulis saja yang ditawarkan dalam buku ini, tetapi pesan-pesan ketuhanan juga disampaikan melalui bait-bait puisi : Bukan Nabi dan Secangkir Ketiadaan adalah dua diantara puisinya yang menggambarkan kehambaan dan kehampaan seorang manusia yang belum mengenal arti ketuhanan yang sebenarnya.

Judul : Perjuangan Cinta Rahwana; Raja Agung Pengasa Tiga Dunia
Penulis : Andri Kurniawan
Editor : Adenovit Rahmawan
Penerbit : CV. Belibis Pustaka Group
Cetakan : Pertama, Juli 2019
Tebal : x + 163 halaman
Ukuran : 13 x 20 cm
ISBN : 978-623-907933-8
Harga : 50.000
Peresensi : Dzikrul Hakim Tafuzi Mu’iz

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *