Rumus Phytagoras sudah diterangkan dalam Surat Ali Imran, Benarkah?

Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna. Predikat ini diperoleh karena manusia dianugerahi akal. Anugerah ini menjadikan manusia bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Adanya akal ini juga menjadikan manusia untuk selalu berfikir akan ciptaan Allah yang begitu menakjubkan. Al-Qur’an juga menyeru terhadap umat manusia untuk merenung, memperhatikan dan memikirkan ciptaan Allah SWT baik langit, bumi maupun diantara keduanya. Sebagaimana disebutkan dalam Q.S Ali Imran ayat 190-191.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”(190)

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiada Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (191)

Ayat diatas menerangkan bahwa ada dua ciri-ciri orang-orang yang berakal (ulil albab):

  1. orang-orang yang selalu mengingat Allah baik dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring
  2. orang-orang yang memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi

Jika diperhatikan ayat diatas berhubungan dengan rumus matematika yang ditemukan oleh seoarang ilmuwan Yunani, yaitu Phytagoras. Rumus Phytagoras merupakan rumus yang digunakan untuk mencari panjang sisi dalam suatu segitiga siku-siku.

Sisi “b” merupakan sisi vertikal dari segitiga siku-siku dan ini sesuai dengan potongan ayat Al-qur’an dalam Q.S Ali Imran ayat 191, yaitu :

Dalam ayat tersebut dijelaskan tentang salah satu ciri Ulil Albab / manusia yang berakal adalah orang-orang yang selalu mengingat Allah baik dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring. Mereka selalu berdzikir keoada Allah dalam setiap kondisi dan tanpa mengenal waktu. Ayat ini menjelaskan hubungan manusia dengan Allah. Hubungan manusia dengan Tuhannya adalah hubungan yang vertikal dan ini sesuai dengan sisi vertikal dari segitiga siku-siku (sisi b).

Ciri-ciri orang yang berakal (ulil albab) yang kedua adalah orang-orang yang memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. Seperti disebutkan dalam potongan ayat dalam Q.S Ali Imran , yaitu :

Ayat ini menjelaskan anjuran manusia untuk selalu menggunakan akalnya untuk berfikir tentang ciptaan Allah baik itu yang ada dilangit, bumi maupun keduanya. Ini menunjukkan adanya interaksi manusia dengan ciptaan Allah dan sama dengan konsep Hablum minas-nas. Interaksi ini menandakan adanya hubungan horizontal antara manusia dan ciptaan Allah. Hbungan horizontal ini sama dengan sisi horizontal pada segitiga siku-siku (sisi a).

Hubungan vertikal dan horisontal ini memiliki keterkaitan yang erat. Manusia yang berfikir tentang ciptaan Allah pasti akan merasa kagum dan senantiasa mengakui keagungan Allah. Mereka akan sadar bahwa ilmu yang mereka dapatkan sangatlah sedikit. Orang-orang yang selalu mengingat Allah tidak akan berlaku sombong. Mereka akan selalu berusaha menjadi orang yang bermanfaat baik untuk dirinya sendiri ataupun untuk sesamanya. Hal ini sesuai dengan potongan ayat dalam Q.S Ali imran, yaitu :

Hubungan antara hablum minalloh dan hamblum minan-nas ini dihubungkan dengan garis lurus yang memiliki gradien. Garis ini adalah sisi c pada segitiga siku-siku.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa rumus phytagoras sebenarnya sudah diterangkan dalam Q.S Ali Imran ayat 190-191. Ayat ini sama denga rumus c2 = a2+b2 . Ini menunjukkan bahwa rumus ini sudah diterangankan dalam Al-Qur’an sebelum ditemukan oleh ilmuwan Barat.  Ini merupakan salah satu tanda-tanda kekuasaan Allah SWT supaya umat manusia mengetahui bahwa sumber segala ilmu adalah Kitab Suci Al-Qur’an. Maha Suci Allah dengan segala kekuasaannya.

Bacaan Menarik
loading...
Luluk Magfiroh

Luluk Magfiroh

View all posts

Add comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *