Zen Hidup Lagi

Setiap yang aku sepelekan untuk menjadi sesuatu biasanya malah jadi sesuatu itu. Dulu aku menyepelekan Gus Dur untuk jadi presiden. Eh, tak lama kemudian bapaknya Inayah itu jadi orang nomor satu republik ini.

Banyak lagi contoh lainnya …

Kemudian beberapa bulan lalu aku menyepelekan kemampuan Zen untuk menikah. Bukan apa-apa. Prejengan-nya sangat jauh dari kesanggupan untuk bertanggung-jawab terhadap putri orang. Eh, tak sampai setahun dari penyepelean di Jember itu Zen beneran nikah di Probolinggo. Siang di Jumat itu aku dalam perjalanan dengan kereta Parahyangan dari Jakarta ke Bandung. Zen wa aku.

Aku kutip persis, ya:

Cak, mohon doa dan restunya nggeh, habis ini aku mau akad nikah, sangat mendadak Cak, persiapannya hanya baru semalam, karena kejar bulan Besar, kejar hari baik Cak …” (pakai emoticon sungkem).

Ternyata yang dia maksud “habis ini” bukan nanti malam. Satu jaman kemudian dia wa foto nikahan ngasih mas kawin dengan caption: “Cak, aku rabi Cak … Heuheu ..”

Heuheuheu … Asu tenan!

Padahal, malam sebelumnya ketika kami wa-wa-an, blas Zen tak menyinggung soal mendadak nikah itu. Kami cuma ngobrol tentang kerjaan di UIN Sunan Ampel dan Unesa Surabaya pekan depannya.

Heuheuheu …

Ya, beberapa bulan sebelumnya, tengah malam di angkringan soto Pasar Tanjung di Jember, ini aku mampir ke langganan dalam perjalanan dari Banyuwangi ke Surabaya, Zen minta aku menulis artikel tentang hal-hal spiritual. Artikel itu akan dikumpulkannya dengan artikel-artikel orang lain menjadi suatu kitab. Kitab ini akan menjadi semacam suvenir saat pernikahannya. Beberapa artikel sudah masuk. Katanya penyair Usman Arrumy dari Kairo malah yang masuk pertama.

“Oh, ok. Aku akan bikin. Deadline tulisannya kapan, Zen? Supaya aku bisa atur waktu.”

“Terserah Sampeyan, Cak.”

“Lha, kok terserah-terserah..  emang hari nikahmu kapan?”

“Belum tahu, Cak.”

“Tapi, tunangan sudah ada, kan?”

“Belum, Cak.”

“Ya, ya sudah. Ndak papa. Tapi, pacar sudah ada, kan?”

“Belum juga, Cak.”

“Hah?”

Heuhueheu …. Dalam hatiku  … “Ndassssmuu…..”

Ketika dialog di angkringan soto itu aku unggah di medsos, banyak komentar yang ngakak dan menyebut bahwa Zen adalah #Jancukers sejati, malah lebih njancuki ketimbang presiden #Jancukers itu sendiri yaitu aku.

Mereka betul. Segendeng-gendengnya aku, dulu nikahku itu kalau nggak salah aku rencanakan sebulan sebelumnya. Bukan “habis ini”. Emang mas kawin lebih seadanya ketimbang mas kawinnya Zen, yaitu foto pertunjukan pentas teater. Bukan pentas teaternya, tapi fotonya. Karena menurut seniorku sesama penyiar radio di Bandung, KH Chozin Chumaidy yang kini jadi dubes Lebanon, mas kawin harus konkret, nggak boleh jasa. Pentas itu jasa. Kerikil, konkret, bahkan boleh jadi mas kawin.

Dan emang semuanya gratisan. Teaternya dan gedungnya di Bandung juga gratisan, yaitu hasil kolaborasi gratisan seluruh teman-teman teater di Bandung. Habis nikahan bingung nyari tempat bernaung, akhirnya dipinjami garasi teman di Jalan Gagak dekat Gedung Sate Bandung. Dan lain-lain improvisasi hidup. Tapi apa pun itu, nikahnya sudah aku rencanakan sebulan sebelumnya. Tidak “habis ini” kayak Zen.

***

Beberapa kali aku ketemu Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar, tapi pernah sekali bilang ke aku tentang suatu hadist bahwa menjadi mak comblang atau menikahkan orang itu pahalanya sama dengan (atau lebih besar dibanding?) membangun masjid.

Sayangnya, itu yang tidak saya lakukan terhadap Zen. Menulis artikel begini jelas bukan memakcomblangi, apalagi artikel untuk manusia yang pernikahannya sudah berlangsung.

Yang bisa aku lakukan terhadap Zen cuma marah-marah. Perkenalanku dengan Zen juga kuawali dengan marah-marah. Seingatku itu di Bandara Abdurrahman Saleh Malang. Dia masih mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim. Aku lupa sumber kemarahan plus teriak-teriakku itu dari mana. Pokoknya ada sesuatu yang menurutku tidak benar dia lakukan sebagai panitia acara di UIN Malang itu.

Sebelum mampir di angkringan soto di Jember itu pun, seingatku aku marah-marah habis ke Zen di lokasi syuting film Kafir di daerah Banyuwangi. Tak cuma marah. Seingatku aku pun mengusirnya. Syuting sempat break beberapa menit karena marahku pakai teriak-teriak, dan teriakanku pasti keras, sehingga tak mungkin syuting pengambilan gambar aktor dan aktris lain tetap dilanjutkan.

Teringat senior yang kukenal baik, mantan menteri pariwisata zaman Pak Harto, Joop Ave almarhum. Menurut bawahannya, habis dimarahi Pak Joop itu enak. Karena habis itu pasti dipanggil lagi oleh Pak Joop lalu dikasih duit.

Aku apalah. Bukan seorang menteri yang duitnya gampang. Hanya seorang presiden yang nggak digaji… Yaitu Presiden negeri #Jancukers yang rakyatnya model-model Zen ini … heuheuheu …

Tapi, harapanku, semoga seluruh kemarahanku pada Zen, termasuk saat acara di IAIN Tulungangung, membuatnya terpicu untuk membuktikan bahwa dirinya adalah sesuatu, membuatnya terpicu untuk menjadi puncak sesuatu bagi lelaki Jawa yaitu menikah. Dengan demikian, secara tak langsung aku sudah membuatnya menikah. Dan, dengan demikian, aku sudah membangun masjid. Heuheuheu …

***

Kini Zen sudah menikahi Rotus. Sebelum dia menikah, dulu salah satu hiburanku setiap kerja bareng Zen adalah melihatnya berdiri dengan kepala tunduk setiap kali aku marahi, entah marahku berdasar atau tidak. Karena kadang nggak ada ombak nggak ada angin aku marah-marah. Kalau aku sudah marah-marah begitu, Zen selain berdiri dengan kepala tertunduk, biasanya tangannya juga ngapurancang, menyilang istirahat di depan.

Kini setelah Zen menikah, apalagi semasih pengantin baru, hiburanku bertambah. Yaitu, melihat Zen tidak bisa menelepon maupun ditelepon oleh istrinya.

Jadi, di Surabaya itu, selagi Zen baru beberapa hari melewati malam pertama, di antara kegiatan di UINSA dan Unesa Surabaya aku ajak dia sowan ke KH Imron Djamil di Pesantren Kyai Mojo, Jombang. Di situ, mendengar Kyai Imron ngendikan selama hampir lima jam karena setiap pamit mau pulang dicegah, Zen tak sekali pun menelpon, ditelepon, wa atau me-wa. Demi sopan santun. Dia hanya bersila duduk sendeku di samping aku bersila.

Benar. Dalam perjalanan pulang Jombang-Surabaya, aku nguping istrinya marah-marah di telepon. Tentu marah-marah dalam nuansa romantisme pengantin baru. Kira-kira, intinya, “Sampeyan kemana saja ….”.

Aku dan istriku yang menguping pembicaraan itu di mobil Acok, sahabat Zen, saling melirik dan senyum-senyum.

Kini setelah Zen menikah, selain tambah hiburan, aku jadi ingat bahwa Zen-lah yang menemani aku pertama kali pergi ke Alas Purwo Banyuwangi, tempat yang nuansa spiritualnya tak terkatakan. Itu paska tengah malam. Rembulan bulat bundar di atas hutan.

Kini setelah Zen menikah, aku jadi tahu kenapa ia menangis di Universitas Tujuh Belas Agustus Surabaya ketika aku menyanyikan Lullaby:

Mbesok yen wis gede

            Nalikane

            Sesandingan karo kekasihmu

            Kekaronsih ngadep ombaking urip

            Ojo lali marang

            Ojo lali marang bang bang wetan

            Manuke podang

Mata Zen bengkak sampai mengantarku di Bandara Juanda.

Kini setelah Zen menikah, aku ingin lebih banyak lagi menyepelekan orang, seperti Gus Dur ketika kusepelekan di depan Pak Amien Rais di suatu talkshow televisi di Hotel Mulia itu … Seperti juga Dee Lestari, yang kusepelekan di awal-awal bikin novel Supernova…Draft Supernova yang masih berupa foto kopian diserahkan padaku, tapi berbulan-bulan nggak aku baca sampai akhirnya ia bertanya melalui temannya, Erwin, apakah aku sudah membacanya dan bagaiana komentarku.

Kini setelah menikahnya Zen, lelaki yang tampak mempunyai hubungan khusus dengan ayahnya seperti kusaksikan suatu jelang Subuh ketika aku mampir di rumahnya di Probolinggo, aku jadi teringat lagi pada lagu berbahasa Madura-ku di album kedua Zen-Die .. Kebetulan aku dengan Zen kerap berbahasa Madura kalau sedang ngomong rahasia di depan panitia orang-orang Jawa.

Aku lebih suka memanggil dan menulisnya Zen ketimbang Zain. Zen mengingatkan aku pada sekte ketuhanan di Jepang. Zen-die… Zen sudah mati? Tidak. Zen hidup lagi dalam bahtera kehidupan barunya.

Salam.

Padepokan ST-Art Bandung

 

Sujiwo Tejo

Sujiwo Tejo

Sujiwo Tejo

Bernama asli Agus Hadi Sudjiwo, lahir di Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962. President Jancukers, budayawan Indonesia, aktor, penulis, pelukis, pemusik dan dalang wayang.

View all posts

Add comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sujiwo Tejo

Sujiwo Tejo

Bernama asli Agus Hadi Sudjiwo, lahir di Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962. President Jancukers, budayawan Indonesia, aktor, penulis, pelukis, pemusik dan dalang wayang.